Amalan Baik di Bulan Muharram

Selamat datang, bulan Muharram. Selamat tahun baru, 1440 Hijriyah. Mari memulai tahun baru, mari mulai hari baru dengan kesucian hati, memulai semuanya dari nol lagi. Amalan baik apa saja yang dapat dilakukan di bulan Muharram? Kamu dapat memulainya dengan mengetahui keutamaan bulan Muharram ini.

Bulan Muharram adalah bulan pertama dalam sistem kalender Islam. Inilah momentum yang sangat penting bagi umat Islam. Pergantian tahun baru Islam dapat dimanfaatkan sebagai sarana umat Islam untuk muhasabah terhadap langkah-langkah yang telah dilakukan dan rencana ke depan yang lebih baik lagi. Momentum perubahan dan perbaikan menuju kebangkitan Islam sesuai dengan jiwa hijrah Rasulullah saw. dan sahabatnya dari Makkah dan Madinah.

Tahukah kamu? Bulan Muharram adalah salah satu dari empat bulan haram atau bulan yang dimuliakan Allah. Empat bulan yang dimaksudkan adalah, Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram dan Rajab. Allah berfirman:

إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ

“Sesungguhnya jumlah bulan di Kitabullah (Al Quran) itu ada dua belas bulan sejak Allah menciptakan langit dan bumi, empat di antaranya adalah bulan-bulan haram” (QS. At Taubah: 36)

Mengenal Bulan Muharram

Sebelum ajaran Islam diturunkan di muka bumi, bulan Muharram sudah lebih dahulu dikenal sebagai bulan suci dan dimuliakan oleh masyarakat Jahiliyah. Awalnya, pada bulan ini maksyarakat dilarang untuk melakukan hal-hal seperti peperangan dan bentuk persengketaan lainnya. Itulah mengapa bulan ini disebut Muharram, yang jika diterjemahkan memiliki arti ‘dilarang’. Kemudian, ketika Islam datang, kemuliaan bulan haram tetap dipertahankan, sementara di sisi lain, tradisi jahiliyah yang lain dihapuskan, termasuk kesepakatan tidak berperang.

Demikian juga sebagian umat Islam menjadikan bulan Muharram sebagai bulan anak yatim. Menyantuni dan memelihara anak yatim adalah sesuatu yang sangat mulia dan dapat dilakukan kapan saja. Dan tidak ada landasan yang kuat mengaitkan menyayangi dan  menyantuni anak yatim hanya pada bulan Muharram.

10 Muharram dan Anjuran Berpuasa di Hari Asyura

Ada peristiwa penting yang pernah terjadi pada 10 Muharram. Pada masanya, Allah telah menyelamatkan nabi Musa as dan Bani Israil dari kejaran Firaun dan pasukannya. Hari itu kemudian disebut sebagai hari Asyura. Sebagai bentuk rasa syukur, atas pertolongan Allah, di hari Asyura ini umat Islam diperbolehkan berpuasa. Awalnya ditetapkan sebagai kewajiban, akan tetapi, ketika perintah puasa Ramadan diturunkan kepada nabi Muhammad SAW, maka puasa Asyura menjadi sunnah hukumnya.

Rasulullah saw. bersabda:

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَمَّا قَدِمَ الْمَدِينَةَ وَجَدَهُمْ يَصُومُونَ يَوْمًا يَعْنِي عَاشُورَاءَ فَقَالُوا هَذَا يَوْمٌ عَظِيمٌ وَهُوَ يَوْمٌ نَجَّى اللَّهُ فِيهِ مُوسَى وَأَغْرَقَ آلَ فِرْعَوْنَ فَصَامَ مُوسَى شُكْرًا لِلَّهِ فَقَالَ أَنَا أَوْلَى بِمُوسَى مِنْهُمْ فَصَامَهُ وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ

Dari Ibnu Abbas RA, bahwa nabi saw. ketika datang ke Madinah, mendapatkan orang Yahudi berpuasa satu hari, yaitu ‘Asyuraa (10 Muharram). Mereka berkata, “ Ini adalah hari yang agung yaitu hari Allah menyelamatkan Musa dan menenggelamkan keluarga Firaun. Maka Nabi Musa as berpuasa sebagai bukti syukur kepada Allah. Rasul saw. berkata, “Saya lebih berhak mengikuti  Musa as. dari mereka.”  Maka beliau berpuasa dan memerintahkan (umatnya) untuk berpuasa” (HR Bukhari).

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللَّهِ الْمُحَرَّمُ وَأَفْضَلُ الصَّلَاةِ بَعْدَ الْفَرِيضَةِ صَلَاةُ اللَّيْلِ

Dari Abu Hurairah RA. berkata, Rasulullah saw. bersabda, “Sebaik-baiknya puasa setelah Ramadhan adalah puasa pada bulan Allah Muharram. Dan sebaik-baiknya ibadah setelah ibadah wajib adalah shalat malam.” (HR Muslim)

Perlu diketahui bahwa perintah berpuasa pada hari Asyura tidak hanya dilakukan oleh umat Islam, melainkan juga oleh bangsa Yahudi. Walaupun ada kesamaan dalam ibadah, khususnya berpuasa, tetapi Rasulullah saw. memerintahkan pada umatnya agar berbeda dengan apa yang dilakukan oleh Yahudi, apalagi oleh orang-orang musyrik. Oleh karena itu, beberapa hadits menyarankan agar puasa hari ‘Asyura diikuti oleh puasa satu hari sebelum atau sesudah puasa hari ‘Asyura.

Secara umum, puasa Muharram dapat dilakukan dengan beberapa pilihan. Pertama, berpuasa tiga hari, sehari sebelumnya dan sehari sesudahnya, yaitu puasa tanggal 9, 10 dan 11 Muharram. Kedua, berpuasa pada hari itu dan satu hari sesudah atau sebelumnya, yaitu puasa tanggal: 9 dan 10, atau 10 dan 11. Ketiga,  puasa pada tanggal 10 saja, hal ini karena ketika Rasulullah memerintahkan untuk puasa pada hari ‘Asyura para sahabat berkata: “Itu adalah hari yang diagungkan oleh orang-orang Yahudi dan Nasrani, beliau bersabda: “Jika datang tahun depan insya Allah kita akan berpuasa hari kesembilan, akan tetapi beliau meninggal pada tahun tersebut.” (HR. Muslim)

Mari mulai bulan baru dengan semangat melakukan banyak amalan baik sesuai dengan yang anjuran.

(informasi diolah dari www.dakwatuna.com dengan penyesuaian)

[Hanung W L/ Copywriter Mizanstore]

Bagikan ke Sekitarmu!