Keajaiban Buku Semua Ikan di Langit

“Orang-orang yang percaya bahwa ia bisa menemukan penjelasan di balik keajaiban mungkin tidak percaya ‘keajaiban’ itu ada sama sekali.” (Semua Ikan di Langit, 2016: 162)

Buku Semua Ikan di Langit adalah kejaiban. Sesuatu yang sangat pantas untuk dibaca karena kesederhanaan tutur ceritanya, sekaligus menjadi sesuatu yang begitu rumit mengenai makna yang tersirat di belakangnya. Sebuah buku sangat direkomendasikan untuk dibaca dan tentu, tidak pernah ada kata terlambat untuk kesempatan pertama.

ZIGGY ZEZSYAZEOVIENNAZABRIZKIE adalah nama penulis buku Semua Ikan di Langit. Itu bukan nama yang salah ketik, juga bukan merupakan nama pena. Dalam keluarganya, semua saudaranya bernama Ziggy dan hanya nama belakangnya saja yang berbeda. Setelah ini, mari membahas mengenai Ziggy dan tulisannya.

Hobi menulis yang ditekuninya sudah berlangsung sejak sebelum ia mengikutsetakan buku Semua Ikan di Langit dalam Sayembara Menulis Novel Dewan Keseniaan Jakarta 2016, ia pernah menulis cerita anak dan remaja dalam serial Fantasteen. Barangkali, dari sanalah gaya penulisan Semua Ikan di Langit yang mudah dan berterima dapat tercipta.

Ziggy dan buku Semua Ikan di Langit (image from https://chillax.kincir.com/)

Membaca buku ini mengingatkan akan satu kutipan Eka Kurniawan ketika membahas buku Animal Farm dari George Orwell. Dari resensi yang Eka buat, dapat disimpulkan bahwa membuat sebuah novel dengan latar cerita anak yang terkesan sederhana adalah sebuah kekuatan yang mendalam. Buku tersebut nantinya dapat dibaca semua kalangan. Ketika anak membacanya di waktu muda, ia akan terus mengingat ceritanya. Kelak ketika ia membacanya ulang di waktu dewasa ia akan sadar bahwa cerita yang selalu diingatnya pernah punya makna yang begitu dalam dan sangat mungkin berkenaan dengan kehidupannya. Begitu kesan yang didapat ketika membaca buku Semua Ikan di Langit.

Ada begitu banyak hal, yang sulit sekali diungkapkan dengan kata-kata mengenai buku ini. Berikut adalah paparan yang diberikan Dewan Kesenian Jakarta ketika tanpa ragu, menghadiahkan buku Semua Ikan di Langit penghargaan yang sangat pantas: sebagai pemenang pertama.

Pemenang Pertama: Semua Ikan di Langit (256) 
Naskah Semua Ikan di Langit adalah adukan yang sangat memikat antara cerita anak, cerita fantasi, fiksi ilmiah, dongeng, cerita berbingkai dan mitos penciptaan dunia. Ia dibuka dengan narasi yang mengeluarkan aroma inosens yang mengingatkan kami kepada The Little Prince karya Antoine de Saint-Exupery. Dalam sudut pandang anak-anak (yang cerdas dan terbuang) kebebasan dan petualangan hadir dalam pelbagai bentuk. Bumi, langit dan angkasa raya bukan lagi kotak-kotak bersekat, begitu pula lapis-lapis waktu. Para tokoh naskah novel ini bertualang ke ruang angkasa, bolak-balik antara Bandung abad ke-21 dan Auschwitz 1944, lalu kembali lagi ke angkasa yang lepas dari perhitungan waktu manusia. Cerita bergerak berdasarkan penuturan sebuah bus kota dengan tokoh utama seorang anak lelaki yang disapa “Beliau” dan punya kekuatan Ilahiah dalam menciptakan segala sesuatu.

Naskah Semua Ikan di Langit adalah serangkaian eksperimentasi yang tetap menyesuaikan diri pada bentuk-bentuk yang sudah ada. Ia ditulis dengan keterampilan bahasa yang berada di atas rata-rata para peserta Sayembara kali ini. Bukan hanya kemampuan mengorganisasikan setiap elemen novel yang tampak unggul, tetapi kemampuan pengarang dalam menata kalimat demi kalimat memperlihatkan kemahiran yang nyata dan langka. Bahasa Indonesia yang digunakan penulis sangatlah bersih. Kalimat-kalimatnya kokoh dan jauh dari salah cetak. Bahasa Indonesia baku berkelindan dengan ragam cakapan Jakarta, deskripsi berbaur dengan tuturan tokoh, dan semua itu berlangsung dengan sangat mulus. Plastisitas bahasa membuat naskah ini prosa sekaligus puisi. Kendati demikian, watak puitis ini tidak membuat alurnya tersendat, melainkan terus membawa pembacanya dalam arus metafora yang berbinar di setiap titiknya. Cara penceritaannya santai, musikal dan pada bagian-bagian lain tampak menyedihkan dan getir. Inti ceritanya sejatinya tidak secerah pembungkusnya: perjuangan, perjalanan, kekecewaan, kehancuran, kerinduan. Pada akhirnya, ia adalah naskah novel yang mampu merekahkan miris dan manis pada saat bersamaan.

Satu bagian dari pernyataan  Dewan Kesenian Jakarta adalah pernyataan penutupnya.

“Perbedaan mutu yang tajam antara Pemenang Pertama dan naskah-naskah lainnya, membuat kami tidak memilih pemenang-pemenang di bawahnya. Karena itu, kami memutuskan tidak ada Pemenang Kedua dan Pemenang Ketiga.”

Tidakkah kamu ingin menjadi bagian dari buku yang bahkan tidak punya pesaing ketika dikompetisikan? Atau setidaknya, tidak inginkah kamu mengetahui ikan apa yang bisa berenang bebas di atas langit?

[Hanung W L/ Copywriter Mizanstore]

Bagikan ke Sekitarmu!