“Kelahiran” Nabil dan Naura, Sahabat Anak Hebat

Memilih buku bacaan yang tepat untuk anak mungkin tidak semudah kelihatannya. Ada kriteria khusus yang sekiranya dapat membangkitkan minat baca mereka, sebuah buku yang tentu saja harus menarik bahkan ketika mulai dilihat dari halaman sampulnya.

Hal ini, tentu, menjadi tantangan tersendiri bagi pihak penerbit, untuk menerbitkan buku yang berkualitas sekaligus mendidik dan layak untuk dibaca anak usia dini. Kisah berikut ini adalah  cerita singkat hadirnya tokoh Nabil dan Naura yang telah menjadi salah satu buku anak terfavorit di Indonesia, Serial Anak Hebat dari Noura Books.

Bagaimana kisahnya, ya?

Pada mulanya, Noor H. Dee yang  bertanggung jawab untuk lini buku anak dari Noura Books diminta untuk membuat buku yang berkenaan dengan kata-kata yang sering terlupa padahal sangat penting maknanya: maaf, tolong, dan terima kasih. Buku yang nantinya punya kedalaman makna lebih dari sekadar buku cerita, tetapi membiasakan anak untuk selalu mengucap kata ajaib tersebut di situasi yang tepat.

Maka, sebelum buku itu berwujud sempurna seperti yang ada di tangan Bunda dan Ayah sekarang, hal pertama yang terpikir oleh Noor H. Dee sebelum menulis naskah adalah tentang penokohan. Cerita anak perlu tokoh. Setelah pengalamannya bertahun-tahun bergelut di dunia fiksi, ia menyadari betul bahwa penokohan adalah salah satu hal terpenting yang tidak bisa diabaikan begitu saja. Tidak ada tokoh, demikian Fulan berkata, maka tidak akan ada cerita. Lagipula, cerita tanpa tokoh adalah cerita yang tidak berkesan dan mudah dilupakan. Pertanyaan selanjutnya adalah: seperti apakah tokoh utama yang akan berada di dalam cerita ini nanti?

Tokoh utama cerita adalah manusia

Alasannya sebenarnya sederhana saja. Semua karena adanya anggapan bahwa di Indonesia, tokoh yang berasal dari jenis manusia lebih gampang diterima oleh masyarakat. Unyil, Upin-Ipin, BoBoiBoy, Dodo & Syamil, misalnya, adalah tokoh yang berasal dari jenis manusia.

Lain cerita dengan tokoh-tokoh cerita anak di luar negeri. Kita tahu ada tokoh-tokoh non-manusia seperti Mickey Mouse, Barney, Peter Rabbit, Tom & Jerry, Bugs Bunny, dan lain sebagainya, yang bisa dibilang sukses dan dicintai anak-anak.

Namun, sejauh ini kami belum melihat ada karakter lokal non-manusia yang cukup berhasil di pasaran. Mungkin kita pernah mengenal si Komo, tetapi bukankah anak-anak kita sudah tidak ada lagi yang mengenalnya? Tidak seperti Unyil yang mampu bertahan sampai sekarang. Tentu saja karakter non-manusia bisa saja berhasil di Indonesia, tetapi itu membutuhkan upaya yang lebih keras lagi.

Tokoh utama cerita adalah anak-anak

Ya, karena ini adalah buku anak, tokoh ceritanya kalau bisa juga harus berasal dari kalangan anak-anak. Alasannya adalah agar si tokoh cerita memiliki keterkaitan dengan si anak. Dengan adanya keterkaitan tersebut, diharapkan tokoh cerita itu akan lebih mudah disukai dan dicintai oleh anak-anak. Bukankah anak-anak lebih senang bermain dengan teman sebayanya?

Tokoh utama cerita adalah adik-kakak

Sebenarnya bisa saja tokoh ceritanya tidak usah adik-kakak, tetapi formula adik-kakak dalam cerita anak-anak di Indonesia selalu berhasil. Sebagai contoh, Sali & Saliha, Hafiz & Hafiza, Syamil & Nadia, dan lain semacamnya. Tokoh cerita dengan formula adik-kakak ini kelebihannya adalah bisa menyasar pembaca anak laki-laki maupun anak perempuan sekaligus. Dengan alasan itulah akhirnya kami memutuskan untuk menciptakan tokoh adik-kakak.

Tokoh utama cerita memiliki karakter yang menonjol

Tokoh yang berkarakter adalah tokoh yang akan selalu diingat. Oleh karena itulah akhirnya diputuskan bahwa tokoh ceritanya adalah manusia dan kalangan anak-anak. Hal yang menjadi catatan penting adalah bahwa tokoh yang terlalu sempurna adalah tokoh yang membosankan.

Atas dasar pemahaman seperti itulah dibayangkan bahwa tokoh ceritanya seperti ini: dia adalah anak perempuan berusia 3 tahun, aktif, pecicilan, cenderung agak sembrono, lucu, dan ingin banyak tahu. Kakaknya adalah anak laki-laki berusia 5 tahun, pendiam, tipe pemikir, dan cenderung lebih tenang. Sederhananya, dua tokoh ini diharapkan mampu melanggar stereotip yang menganggap bahwa anak perempuan harus manis dan anak lelaki harus aktif.

Tokoh utama cerita harus memiliki nama

Seberapa pentingkah sebuah nama untuk tokoh cerita dalam buku anak? Penting banget! Itu sebabnya, setelah tahu karakter tokohnya seperti apa, hal selanjutnya yang harus dipikirkan adalah nama.

Namanya siapa? Istri Noor H. Dee mengusulkan sebuah nama: Naura. Sangat menarik karena sekilas mirip dengan nama Nourabooks. Nama kakaknya siapa? Noor H. Dee mengusulkan: Naufal. Sepertinya penyebutan Naura & Naufal lumayan asyik didengar. Namun, setelah berdiskusi dengan teman-teman di kantor, akhirnya nama Naufal diganti menjadi Nabil. Alasannya sederhana, Nabil lebih mudah diucapkan ketimbang Naufal. Benar juga.

Akhirnya, tokoh cerita kami pun memiliki nama: Nabil dan Naura. Horeee!

Namun, tentu saja penokohan belum selesai sampai di situ. Masih ada satu hal lagi yang harus dipikirkan, yaitu …

Tokoh cerita ini penampilannya seperti apa?

Naura itu tipe anak perempuan yang pecicilan. Jika digambarkan, Naura adalah anak perempuan yang pecicilan. Jika dia berkerudung, sudah pasti rambut poninya keluar-keluar, begitu. Alasannya, ya, karena jarang sekali terlihat anak perempuan yang pecicilan kerudungnya rapi jali. Iya, kan?

Dan, seperti yang kita tahu bersama, beginilah hasilnya:

Gambar Nabil dan Naura pertama kali dibuat oleh Iput dengan arahan dari Penerbit Noura Books

Kira-kira seperti inilah proses “kelahiran” Nabil dan Naura. Seru sekali ya mengetahui bahwa kedua tokoh yang menyenangkan ini ternyata cukup rumit di awal. Akan tetapi, semua terbayar karena kini tokoh Ka Nabil dan Naura kini jadi favorit kita semua! Tetap ceria dan menghibur, ya, Ka Nabil dan Naura.

(dikutip dari artikel Nabil & Naura: Studi Kasus Penokohan Dalam Cerita Anak yang ditulis Ka Noor H. Dee dengan penyesuaian)

[Hanung W L/Copywriter Mizanstore]

Bagikan ke Sekitarmu!