Kritik Politik dalam Animal Farm karya George Orwell

Bagaimana bisa sebuah buku begitu akurat menggambarkan kehidupan di masa sekarang, sedangkan penulisnya sendiri sudah lama meninggalkan dunia? Atau mungkinkah kehidupan kita, kehidupan perpolitikan kita, memang begitu-begitu saja, sejak lama?

Kritik dan politik, membahas keduanya sekaligus serasa seperti memakan dua buah durian, sendirian. Lezat, tapi memabukkan dan menimbulkan rasa pusing yang berkelanjutan. Apakah mungkin membahas keduanya sekaligus dalam satu waktu tanpa membuatnya terlihat rumit?

Dalam hal ini, kita akan memahami bahwa sastra sejatinya selalu berhasil melakukan tugas-tugas rumit yang sedemikian dinyatakan “tidak mungkin!” menjadi mungkin. Sastra adalah tempat segala hal menjadi mungkin. Dalam Animal Farm, kesadaran tersebut muncul.

animal farm

babi-babi yang bekerja (animasi dari film Animal Farm, 1954)

Terlepas dari permasalahan kritik dan politik yang disebut-sebut di atas, novel ini sangat baik. Sangat baik untuk sebuah karya sastra yang oleh sebab itu, barangkali, membuatnya mendapat predikat sebagai novel fenomenal. Satu dari karya-karya terbaik yang pernah ditulis oleh pemikiran manusia.

Salah seorang sastrawan Indonesia yang telah membaca buku tersebut adalah Eka Kurniawan. Mungkin kata politik dalam judul artikel ini terlalu luas karena Eka memaparkan Animal Farm berisi propaganda yang barangkali lebih dari sekadar pemahaman soal politik semata. Apa pun yang coba dipropagandakan oleh George Orwell, propaganda tersebut telah berhasil dilakukan melalui buku ini, Eka menambahkan.

Membahas tentang politik, tentu ada ahli yang boleh jadi lebih tepat ketika membahas mengenai hal itu. Sejarah—sebagai kajian yang selalu dekat dengan urusan perpolitikan—barangkali akan menarik juga jika digunakan untuk membahas isi buku ini. Akan tetapi, menarikkah jika karya sastra dinikmati begitu saja tanpa membahas persoalan lain yang melekat di dalamnya? Bacalah buku ini maka kamu akan memahami dengan sendirinya, mengenai benar atau tidaknya bahwa buku ini membahas kritik politik atas sebuah peristiwa.

Buku tentang politik bukankah terlalu berat untuk sebuah novel?

Pada pertanyaan tersebut, terlihat jelas satu lagi kekuatan karya sastra dalam menyisipkan pemikiran-pemikiran yang awalnya dianggap sulit menjadi mudah. Tidak ada hal yang terlalu rumit untuk dipikirkan ketika membacanya, tetapi tidak dapat dimungkiri, memang, menjadi bahan pikiran setelah selesai membacanya.

AnimalFarm1

peraturan Peternakan Binatang yang di-“modifikasi” (animasi dari film Animal Farm, 1954)

Ada hal-hal tersirat dalam kisah sebuah peternakan dan hewan-hewan yang hidup di dalamnya. Hewan-hewan yang saling bicara tentang ini menimbulkan tanda tangan: apakah mereka menyuarakan suara-suara (seperti) manusia?

Bisakah buku ini dibaca oleh siapa saja—termasuk anak-anak?

Jawabannya adalah tentu bisa. Tidak ada yang terlalu rumit dalam Animal Farm. Bahkan, buku ini bisa dikategorikan sebagai fabel—salah satu khazanah cerita rakyat, cerita anak yang berisi hewan-hewan—yang dapat me-nina bobo-kan anak-anak.

Sebagai pembuktikan bahwa cerita Animal Farm “dekat” dengan anak-anak, pada tahun 1954, Animal Farm sempat mewarnai layar kaca karena ditayangkan dalam bentuk animasi kartun. Kepada siapa cerita kartun diperuntukkan? Tentu pada anak-anak. Pada saat inilah, salah satu pendapat Eka Kurniawan dapat dibenarkan.

Jika George Orwell benar ingin memasukkan propaganda, maka propaganda ini jelaslah merupakan usaha yang berhasil melalui cerita ini. Bagaimana propaganda dapat dikatakan berhasil? Eka Kurniawan menyampaikan bahwa propaganda yang baik adalah melalui anak-anak. Otak anak-anak yang murni dan polos tentu lebih mudah menyerap pengetahuan dan jika propaganda itu disisipkan melalui tontonan—maupun bacaan—mereka, bayangkan apa yang akan melekat pada mereka hingga dewasa.

Membayangkan bahwa Animal Farm diangkat menjadi sebuah film kartun mengingatkan pada film-film ajaib karya Hayao Miyazaki dan dibuat dalam studio Ghibli. Begitu banyak, begitu banyak hal yang tersirat dalam cerita, hal-hal yang menjadi pesan utama disampaikan lebih dari sekadar warna-warni gambar bergerak.

animal farm (2)

peraturan Peternakan Binatang  (animasi dari film Animal Farm, 1954)

Terlepas dari segala pembahasan di atas, tentu, perlu dipahami bahwa sebuah karya sastra, ketika dilepaskan ke khalayak, semua menjadi multi-tafsir dan bebas saja untuk diterjemahkan oleh setiap kepala yang telah membacanya.

Boleh jadi ketika menanyai George Orwell kita mendapat jawaban bahwa ia tidak bermaksud menyisipkan propaganda apa pun dalam bukunya. Boleh jadi, pembaca yang lain tidak menangkap nilai propaganda, pun kritik politik dalam buku tersebut. Boleh jadi, sebenarnya ini hanyalah buku biasa tetapi kepala pembaca yang luar biasa saja yang mengimajinasikannya sebagai sebuah buku yang luar biasa.

Jika pendapat terakhir adalah kebenaran, maka George Orwell tentu boleh dinobatkan sebagai penulis karya sastra yang sangat baik karena mampu membuat imaginasi seseorang berkembang sampai sedemikian hingga, hanya melalui kata-kata. Apakah kamu sependapat?

[Hanung W L/Copywriter Mizanstore]

Bagikan ke Sekitarmu!