Mengapa Tahun 1971 Murakami Sebut sebagai Tahun Spageti?

Ada beberapa hal yang membuat pengalaman membaca buku Haruki Murakami terasa istimewa. Saking istimewanya, buku-buku Murakami hampir selalu masuk daftar buku yang setidaknya kamu baca sekali seumur hidupmu. Tertarik untuk mulai membacanya?

Jika membaca novel terlalu memberatkan, kamu dapat memulainya dengan membaca cerpen Murakami. Buku Tahun Spageti dan Kumpulan Cerita Pendek Jepang dapat menjadi pembukanya.

Terlalu dangkal jika selepas membaca, semua terlewat begitu saja seperti tak pernah terjadi apa-apa. Hal itu, hampir pasti tidak akan kamu alami ketika membaca Murahami. Meskipun tidak selalu dengan mudah memahami maksud yang ingin disampaikan Murahami, selalu ada sesuatu yang tertinggal dan mengganjal jika tidak segera kita cari tahu kembali.

Membaca Tahun Spageti juga menjadi salah satu pengalaman yang cukup istimewa. Karya ini pertama kali dipublikasikan di Majalah The New Yorker pada 21 November 2005 dengan judul aslinya adalah The Year of Spaghetti. Karya berbentuk cerpen ini kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia bersama beberapa cerpen lain karya penulis-penulis kenamaan Jepang.

“1971 adalah tahun spageti.

Di tahun 1971 aku memasak spageti untuk hidup, dan hidup untuk memasak spageti.”

Begitulah kalimat pembukanya. Sebentuk kalimat yang menarik untuk membuka sebuah cerpen yang sangat sederhana. Tokoh aku dalam cerita ini tidak dijelaskan jenis kelaminnya—laki-laki atau perempuan. Tidak pula dijelaskan latar tempat yang tepat betul di  negara apa tokoh aku tinggal. Akan tetapi, kalimat “Ketika telepon berdering pukul tiga lebih dua puluh, aku tengah terkapar di atas tatami, menatap langit-langit” pada halaman 296 kemungkinan mengartikan bahwa tokoh aku tinggal di Jepang.

Persis seperti kalimat pembukanya, dalam cerpen tokoh aku betul-betul hanya memasak spageti sepanjang tahun 1971. Hal yang sebenarnya menarik adalah bahwa dengan latar cerita di Jepang, tokoh aku memasak spageti—jenis masakan yang jelas bukan makanan khas Jepang—setiap hari, sepanjang tahun 1971. Segala jenis spageti telah dibuatnya. Spaghetti alla parmigiana, spaghetti alla napoletana, spaghetti al cartocio, spaghetti aglio e olio, spaghetti alla carbonara, spaghetti della pina, juga spageti tak bernama yang ditinggalkan dalam lemari es.

Spageti yang digambarkan dalam cerpen diceritakan dimasak di dalam panci besar, yang cukup besar untuk memandikan seekor anjing herder, tetapi disantap hanya oleh tokoh aku seorang. Tidak dengan yang lain, tidak untuk yang lain. Tokoh aku memang sering menghayalkan bahwa suatu saat ada tokoh lain yang hadir untuk menyantap spageti bersamanya. Tetapi bahkan dalam hayalannya pun, tokoh tersebut hanya mondar-mandir di depan pintu tanpa pernah masuk ke dalam. Masa tokoh aku meneruskan aktivitasnya, memasak spageti untuk dirinya sendiri, sepanjang tahun 1971.

Kisah Spageti dan Tahun 1971

Spageti dan tahun 1971 selalu disebut sepanjang cerpen. Seolah-olah, ada maksud yang coba disampaikan mengenai hubungan tahun tersebut dan makna spageti di dalamnya. Hal ini tentu memancing rasa penasaran sehingga bagi pembaca awam yang penuh rasa ingin tahu, saya mencoba mencari hubungan antara Jepang, Italia (sebagai negara asal sang Spageti) dan tahun 1971. Hasil pencarian justru mengarahkan pada peristiwa perang dunia II yang terjadi jauh sebelum itu. Sesuatu yang entah memang masih ada hubungannya atau tidak dengan cerpen Tahun Spageti ini.  Mungkin si tokoh aku, mengalami kesepian di tahun 1971 oleh sebab kehilangannya akibat perang. Seolah-olah, apa pun yang dibawa pihak Eropa untuk Jepang hanya berbuah kesedihan.

Pada tahun itu mungkin juga negara-negara Eropa telah masuk ke negara Jepang dengan membawa budaya baru—salah satunya makanan seperti spageti. Akan tetapi, budaya yang mereka bawa justru diartikan lain ketika sampai di tempat berbeda. Misalnya, spageti yang mungkin biasanya dinikmati bersama di meja makan yang hangat, tetapi ketika sampai di rumah si tokoh aku, justru tidak demikian. Tokoh aku justru memaknai spageti sebagai untuk menyikapi kesendiriannya, persis seperti kalimat penutup dalam cerpen ini.

“Bisakah kamu bayangkan betapa heran orang-orang Italia jika mereka menyadari bahwa apa yang mereka ekspor tahun 1971 adalah benar-benar sebentuk kesepian?”

Seolah tokoh aku telah lebih dulu merasakan kesedihan dan kesepian mendalam sehingga apa pun kebaikan yang disuguhkan kepadanya tak lagi bisa ia rasakan. Spageti yang seharusnya bisa dinikmati bersama bahkan tak mampu ia bagi kepada siapa pun karena ada sesuatu yang besar, yang menuntutnya untuk tidak lagi bisa membagi apa pun karena rasa kesepian itu.

Tentu saja ketika kamu yang membacanya, kamu dapat menafsirkan hal lain mengenai cerita Tahun Spageti ini. Bahkan mungkin ketika membaca ulang cerita tersebut kelak di kemudian hari, kamu akan memeroleh makna lain mengenai Tahun Spageti. Boleh jadi, memang tidak ada maksud apa pun yang ingin disampaikan Murakami selain bahwa tahun 1971 adalah tahun spageti dan tidak ada sesuatu yang spesial yang perlu dicari tahu lebih jauh mengenai hal itu.

Tetapi, terlalu dangkal jika selepas membaca, semua terlewat begitu saja seperti tak pernah terjadi apa-apa. Dan hal itu, hampir pasti tidak akan kamu alami ketika membaca Murahami.

[Hanung W L/Copywriter Mizanstore]

Bagikan ke Sekitarmu!