Perempuan Suamiku Hadir di Pemakaman Suamiku

“Aku merasa dikhianati, Han. Kenapa setelah sekian tahun mereka menikah, aku dan anak-anak tidak diberi tahu? Bahkan setelah ia meninggal!” tegasku. (Perempuan Suamiku hal. 22)

Perempuan Suamiku. Mengapa tidak menyebutnya dengan “istri”? Apa yang dimaksud dengan judul ini? Perempuan Suamiku. Sebuah judul yang mengunggah rasa penasaran tentang apa sebenarnya hal yang ingin dibicarakan dalam buku karya Intan Savitri ini.

Sekilas mata, mungkin dapat dengan mudah diketahui bahwa “perempuan suamiku”ada hubungannya dengan permasalahan poligami. Betul, cerita Perempuan Suamiku memang tentang hal itu. Pembahasan yang sepertinya masih tetap hangat, meskipun tahun-tahun terus berganti, masalah mengenai poligami selalu punya celah untuk masuk pembahasan tersendiri.

Selalu menuai kontroversi, permasalah poligami seperti tak pernah ada titik terang di antaranya. Selalu saja ada yang pro juga kontra. Pembahasan mengenai hal ini telah melebar, tak hanya dari sisi agama, melainkan juga dibahas dalam seminar dan talkshow bertema lain yang menghubungkan masalah hak-hak wanita atas sikap poligami di dalamnya.

Bagi mereka yang tidak setuju—terutama jika ia adalah wanita—alasannya singkat saja: mana ada wanita yang mau dimadu?

Judul: Perempuan Suamiku

Penulis: Intan Savitri

Penerbit: Noura Publishing

Tahun terbit: 2017

Jumlah halaman: 24 halaman

Keterangan sampul: soft cover

 

Memulai mahligai rumah tangga tentu menjadi dambaan banyak orang. Terlebih ketika dalam agama, pernikahan terhitung sebagai salah satu ibadah yang tinggi nilainya dimata Allah. Sebuah bentuk yang sakral lagipula dapat menjanjikan kebahagiaan tak hanya di dunia, tetapi juga di akhirat kelak. Mudah-mudahan kita semua termasuk dalam golongan yang mendapatkan hal itu, kini pun kelak nanti.

Ketika memasuki pintu itu, kita akan mengerti bahwa ucapan “selamat memulai kehidupan baru” adalah sesuatu yang sungguh sangat nyata adanya. Membina rumah tangga, menjadi pengalaman baru untuk dua insan dalam membentuk keluarga. Hal ini tentu sangat menyenangkan. Akan tetapi, semua tidak semudah yang dibayangkan.

Bagaimana jika, di tengah-tengah pernikahan terselip keinginan poligami?

Intan Savitri mencoba menangkap peristiwa ini dari sudut pandang yang berbeda. Intan—melalui tokoh Mara—memposisikan diri sebagai perempuan yang mengetahui bahwa suaminya, Abdullah Wijaya sudah berpoligami, justru ketika Wijaya sudah meninggal dunia.

Coba bayangkan dirimu ada di posisi Mara. Apa tindakan yang hendak kamu lakukan?

Apa pun pilihan tindakan yang coba kamu terka, cobalah untuk memahami tindakan yang Mara ambil sebagai salah satu sisi yang bisa saja dipilih. Segala hal betul-betul penuh kemungkinan, dan Intan sudah menjabarkan segala kemungkinan tersebut dengan penuh kehati-hatian serta kelembutan. Sangat halus, seakan kita memang tidak dipaksa untuk selalu setuju, tetapi untuk memahami bahwa peristiwa ini sangat mungkin terjadi.

Masih ada 20 kisah lain yang masih memiliki topik besar perihal pernikahan, Intan Savitri seperti hendak mengangkat sisi yang “tidak biasa”. Misalnya mengenai baby blues yang biasanya dialami kaum ibu, kini dialami oleh tokoh Ayah dalam cerita “Ranting-ranting Patah”. Ada pula kisah mengenai hubungan mertua dan menantu yang biasanya dialami oleh menantu dan mertua perempuan, kini diangkat dari sisi menantu dan mertua laki-laki dalam cerita “Balada Mertua”. Masih banyak kisah lain yang tentu sangat menarik untuk menambah sudut pandang dan pemahaman baru kita mengenai dunia pernikahan.

Singkat kata, Perempuan Suamiku adalah salah satu buku terbaik yang pantas jadi pilihan untuk kamu baca.

[Hanung W L/ Copywriter Mizanstore]

Bagikan ke Sekitarmu!