[resensi] Dilarang Mencintai Bunga-bunga Kuntowijoyo: Lelaki Tak Boleh Suka Bunga?

“(Buku Dilarang Mencintai Bunga-bunga karya Kuntowijoyo adalah) salah satu kumpulan cerita pendek Indonesia yang harus dibaca setidaknya sekali seumur hidup!” menurut Aan Mansyur. Ketika kamu mulai membaca buku ini, kamu akan setuju dengan pendapat yang dikemukakan Aan.

Sebagai gambaran umum, artikel ini akan berisi tentang salah satu cerpen yang ada di dalam buku. Cerpen Dilarang Mencintai Bunga-bunga, yang dijadikan sebagai judul merupakan salah satu bagian terbaik untuk dikupas. Cerpen ini betul-betul akan membuat kita sebagai pembacanya berpikir dan merenungkan tentang banyak hal. 

Ada berbagai cara yang dapat digunakan penulis untuk menyampaikan suatu maksud dengan cara tersirat. Cara yang digunakan Kuntowijoyo dalam cerpen Dilarang Mencintai Bunga-bunga dengan menggunakan perbandingan.

Dalam hidup, kadang kita melihat segala hal dengan hitam-putih. Ayah yang selalu berpasangan dengan ibu, kakek yang selalu berpasangan dengan nenek, laki-laki yang selalu berpasangan dengan perempuan.

Kita lupa bahwa hidup ini dinamis. Lupa bahwa di antara hitam dan putih, ada abu-abu yang juga merupakan warna. 

Dilarang Mencintai Bunga-bunga

ilustrasi rumah kakek yang penuh bunga (gambar dari pexels.com)

Mengangkat Tema Laki-laki dan Maskulinitas

Menarik memang tema yang diangkat dalam cerpen Dilarang Mencintai Bunga-bunga. Buyung yang notabenya seorang laki-laki “dipaksa” untuk mengikuti stereotip yang menempel pada laki-laki. 

“Laki-laki tidak perlu bunga, Buyung. Kalau perempuan bolehlah. Tetapi engkau laki-laki.”

Itu salah satu ucapan yang dilontarkan ayah Buyung ketika Buyung pulang dengan membawa setangkai anggrek ungu pemberian Kakek, tetangganya, sahabatnya.

“Untuk apa di kamar, hah, laki-laki mesti di luar kamar!”

Itulah ungkapan yang dikatakan ayah Buyung ketika mengetahui Buyung lebih menyukai tinggal di dalam kamar daripada bermain di luar rumah dengan teman-temannya.

“Untuk apa tangan ini, hah? Untuk kerja! Engkau laki-laki. Engkau seorang laki-laki. Engkau mesti kerja. Engkau bukan iblis atau malaikat, Buyung. Ayo, timba air banyak-banyak. Cuci tanganmu untuk kotor kembali oleh kerja. Tahu!”

Kata-kata itu diucapkan ayah Buyung dengan penuh emosi ketika mengetahui Buyung lebih suka merawat bunga-bunga daripada mengerjakan pekerjaan “keras” lainnya.

Kepada siapa Buyung harus Percaya? Kakek atau Ayahnya?

Buyung masih terlalu muda untuk memahami kehidupan yang hitam-putih seperti yang ayahnya pikirkan. Terutama ketika ia dihadapkan pada 2 sosok laki-laki yang punya kepribadian yang sangat berbeda. Pergolakan batin Buyung sebagai seorang anak kecil, dipaksa untuk berpikir memahami dan mengerti.

Ayah Buyung adalah cerminan stereotip pria pada umumnya. Pekerja keras, banyak melakukan kegiatan di luar rumah, berbadan kekar, bekerja di bengkel, bersuara keras, dan sebagainya. Di sisi lain, tokoh Buyung diperkenalkan dengan sosok laki-laki yang sangat kontras dengan ayahnya. Kakek, tetangga Buyung yang kemudian menjadi sahabat baiknya dikisahkan sebagai sosok yang sangat lemah lembut, berbicara pelan dan sopan, punya ketenangan, dan bekerja untuk merawat kebun bunga.

Entah bagaimana Buyung harus mengambil sikap. Di satu sisi, tentu Buyung lebih menyukai Kakek karena beliau selalu ada untuk Buyung sebagai teman bicara yang ramah, tidak seperti sang ayah yang selalu berbicara dengan nada tinggi. Di sisi lain, Ayah punya keterikatan darah dengan Buyung dan adakah ikatan yang lebih dekat daripada ikatan kandung? Maka bukankah durhaka jika tak menuruti apa perkataannya?

Bukankah Buyung adalah Kita?

Dalam hidup ini, entah sudah berapa kali hidup memaksa kita mengikuti aturan-aturan stereotip yang ada. Perempuan yang tidak boleh bekerja, laki-laki yang dilarang mencintai bunga-bunga, ibu harus di rumah dan ayah harus pergi bekerja, mengapa kita mau-mauan saja?

Membaca buku ini seharusnya menyadarkan kita bahwa Buyung adalah sosok yang sangat nyata, cerminan diri kita. Hidup sebetulnya memberikan banyak sekali pilihan. Jika tidak menyukai putih, kita boleh memilih hitam. Jika tidak menyukai keduanya, masih ada jutaan spektrum warna yang boleh kita pilih mau suka yang mana. Pilihan untuk menyukai semua atau tidak menyukai semua sama sekali pun boleh saja!

Dilarang Mencintai Bunga-bunga seolah berkata bahwa tidak ada sesuatu yang sangat benar atau sangat salah dalam hidup ini, kecuali hal itulah yang betul-betul kita yakini.

[Hanung W L/Copywriter Mizanstore]

 

Bagikan ke Sekitarmu!