Sejak pertama kali terbit, As Long As the Lemon Trees Grow sukses menguras air mata sekaligus menumbuhkan harapan di hati jutaan pembacanya di seluruh dunia. Kisah cinta, duka, dan perjuangan berlatar konflik Suriah ini tidak hanya kuat secara narasi, tetapi juga menyimpan banyak cerita menarik dalam proses pembuatannya.
Bagi kamu yang sudah jatuh cinta dengan kisah Salama dan Kenan, atau baru mau mulai membaca, yuk intip fakta menarik di balik novel fenomenal ini!
Novel Debut yang Sukses di Pasar Global
- Pencetak Sejarah di Pasar Global: Novel ini mencatatkan sejarah besar dalam dunia literasi. Zoulfa Katouh menjadi penulis Suriah pertama yang berhasil menerbitkan novel remaja (Young Adult) berbahasa Inggris di pasar bergengsi Inggris (Bloomsbury) dan Amerika Serikat (Little, Brown).
- Sukses Menembus Lebih dari 20 Bahasa: Kedalaman emosi dalam buku ini terbukti bersifat universal. Kisah perjuangan Salama telah diterjemahkan lebih dari 20 bahasa di seluruh dunia.
Rahasia Proses Kreatif & Draf Pertama
- Lahir dari Keresahan: Zoulfa menulis novel ini karena ada “api” yang membakar jiwanya. Ia merasa lelah melihat media Barat yang selalu menggambarkan masyarakat Arab dan Muslim dengan stereotipe yang buruk dan satu warna. Ia ingin menulis cerita tentang “kita, oleh kita” dengan sudut pandang yang jujur.
- Draf Pertamanya Sangat Berantakan: Jangan dikira naskah seindah ini langsung jadi sekali tulis. Zoulfa blak-blakan mengaku kalau draf paling pertama dari Lemon Trees sebenarnya sangat berantakan dan bisa bikin orang terkejut saking hancurnya. Namun, rasa cinta pada ceritanyalah yang membuat ia terus bertahan untuk merevisinya.
Karakter dan Unsur Cerita yang Unik
- Impian Menjadi Animasi ala Studio Ghibli: Banyak penggemar berharap novel ini diangkat menjadi film live-action, tapi Zoulfa punya impian lain. Karena karakter Salama dan Kenan diceritakan sangat menyukai film-film Studio Ghibli, Zoulfa merasa elemen spekulatif/magis dalam bukunya akan jauh lebih bersinar jika diadaptasi menjadi film animasi.
- Novel Kedua: Novel kedua Zoulfa, The Ocean Would Paint Me Blue, ternyata ditulis sebagai “sisi lain dari mata uang” novel Lemon Trees. Jika Lemon Trees berfokus pada konflik di tanah air, novel keduanya berfokus pada proses pemulihan (healing) dan krisis identitas yang dihadapi.
- Kelanjutan Kisah dalam Bentuk Cerita Pendek: Bagi kamu yang belum rela berpisah dengan dunia Lemon Trees, Zoulfa membocorkan bahwa ia tidak akan menulis kelanjutannya dalam bentuk novel utuh. Namun, ia berencana kembali ke dunia tersebut lewat cerita-cerita pendek di masa depan. “Kamu tidak akan pernah bisa melupakan cinta pertamamu,” ujarnya.
Musik di Balik Layar (The Lemon Trees Playlist)
- Lagu Kebangsaan Salama & Kenan: Zoulfa menulis hampir semua adegan kebersamaan Salama dan Kenan sambil mendengarkan lagu instrumental berjudul “Wander” karya Dyathon. Lagu ini wajib masuk playlist kamu saat membaca!
- Lirik BTS yang Bikin Menangis: Salah satu lagu yang paling memengaruhi emosi Zoulfa saat menulis adalah “Film Out” dari BTS. Menurutnya, melodi dan lirik lagu tersebut adalah sebuah mahakarya yang sukses membuatnya menangis tersedu-sedu saat merajut cerita.
- Lagu Coldplay: Lagu “Fix You” dari Coldplay juga menjadi inspirasi utama. Liriknya dianggap sangat mewakili dinamika hubungan mendalam antara Salama dan Kenan, serta ikatan emosional antara Salama dan Layla.
Melalui As Long As the Lemon Trees Grow, Zoulfa Katouh ingin menyampaikan pesan terpenting di atas segalanya: bahwa harapan akan selalu ada di setiap cobaan hidup, dan selalu ada cahaya di ujung jalan yang gelap. Bagaimana, jadi makin tidak sabar untuk membaca (atau membaca ulang) kisah ikonik yang satu ini?
Sumber: artikel diolah dari berbagai sumber dengan penyesuaian
https://www.bloomsbury.com/uk/discover/articles/interviews/interview-with-zoulfa-katouh