September selalu jadi waktu yang pas untuk menambah daftar bacaan. Apalagi kalau ada banyak buku menarik dengan cerita dan topik yang beragam. Mulai dari novel yang mengangkat kisah Tionghoa-Indonesia dan sejarah yang jarang dibicarakan, buku yang membahas cara informasi memengaruhi pikiran kita, hingga kisah cinta penuh surat misterius.
Bulan ini, kami memilih 10 buku yang punya cerita dan daya tarik masing-masing. Ada buku terbaru dari penulis yang sudah lama dikenal, buku yang sedang banyak dinantikan, sampai bacaan anak yang seru untuk menemani si kecil. Yuk, lihat apa saja pilihannya!
1. Perkumpulan Anak Luar Nikah
Setelah karya pertamanya, Grace Tioso kembali dengan Perkumpulan Anak Luar Nikah, novel yang mengangkat sisi kehidupan Tionghoa-Indonesia yang jarang dibicarakan.
Buku ini ditulis berdasarkan pengetahuan Grace sebagai keturunan Tionghoa-Indonesia dan diperkuat dengan riset yang mendalam. Untuk menulis ceritanya, ia melakukan wawancara dengan sejumlah jurnalis, pengacara di Singapura, serta associate professor dari National University of Singapore dan Nanyang Technological University. Ia juga menghadiri beberapa persidangan di State Courts dan Supreme Courts.
Melalui novel ini, pembaca akan menemukan bahwa kehidupan masyarakat Tionghoa-Indonesia sangat beragam. Ada yang berasal dari keluarga peranakan, totok, hingga mereka yang menggunakan bahasa Belanda dalam kesehariannya. Profesi para tokohnya pun tidak hanya berkutat pada perdagangan. Ada wartawan, dokter, dosen, artis, bahkan orang-orang yang diam-diam masuk ke dunia politik.
Di balik gaya ceritanya yang ringan, buku ini juga mengangkat sejarah yang cukup kelam, termasuk kisah tentang anak-anak yang dicatat sebagai “anak luar nikah” dalam akta kelahiran. Hal tersebut menjadi salah satu dampak dari perlakuan tidak adil yang terjadi pada masa lalu.
Cerita juga mengikuti perjalanan tokoh utama sejak kecil hingga dewasa dan menjadi seorang ibu. Karena itu, buku ini bisa dinikmati oleh pembaca remaja hingga dewasa yang ingin membaca cerita dengan latar sejarah dan kehidupan masyarakat Tionghoa-Indonesia.
2. 1984 — George Orwell
Bagaimana jadinya jika setiap gerak kita diawasi, setiap percakapan didengar, bahkan pikiran kita pun bisa dianggap sebagai sebuah kejahatan?
Itulah dunia yang dihadapi Winston dalam 1984. Ia berusaha menjadi warga negara yang patuh terhadap Partai, meski sebenarnya ia tidak menyukai pemerintahan yang mengatur hampir seluruh kehidupan masyarakat.
Tidak ada privasi di dunia Winston. Polisi Pikiran selalu mengawasi. Teleskrin dan mikrofon tersembunyi membuat orang tidak pernah benar-benar bisa merasa aman. Bahkan sejarah dapat diubah sesuai keinginan Partai.
Melalui 1984, George Orwell menggambarkan sebuah masyarakat yang hidup di bawah pemerintahan yang mengontrol segalanya. Informasi dapat diubah, masyarakat terus diawasi, dan orang-orang yang memiliki pemikiran berbeda dapat menghilang begitu saja.
Meski telah terbit sejak lama, 1984 masih menjadi bacaan penting hingga sekarang. Buku ini membuat kita kembali berpikir tentang kekuasaan, kebebasan, informasi, dan bagaimana sebuah pemerintahan bisa mempertahankan kekuasaannya.
3. Perang Kognitif
Perang terbesar abad ke-21 mungkin tidak selalu terjadi dengan senjata. Bisa jadi, perang itu justru terjadi di dalam pikiran kita.
Perang Kognitif membahas bagaimana informasi, algoritma, dan emosi dapat memengaruhi cara manusia berpikir dan melihat sebuah persoalan. Di dunia digital, perhatian dan pendapat masyarakat menjadi sesuatu yang sangat berharga.
Buku ini mengajak pembaca melihat berbagai hal yang sering kali tidak kita sadari: bagaimana sebuah cerita bisa dibuat untuk memengaruhi pendapat, bagaimana emosi digunakan untuk menggerakkan banyak orang, dan bagaimana informasi dapat membentuk cara kita melihat suatu peristiwa.
Pembahasannya juga berkaitan dengan kehidupan politik, demonstrasi, media sosial, dan demokrasi Indonesia pada 2025.
Buat kamu yang sering bertanya-tanya, “Kok informasi ini bisa dipercaya banyak orang?” atau “Kenapa orang bisa begitu mudah terbawa sebuah isu?”, buku ini bisa menjadi bacaan yang menarik untuk memahami apa yang sebenarnya terjadi di balik layar.
4. The Ocean Would Paint Me Blue
Buku kedua Zoulfa Katouh yang banyak dinantikan ini membawa kisah tentang kehilangan, keluarga, perundungan, dan menemukan kembali warna dalam kehidupan.
Tokoh utamanya adalah Jihad Dabbagh, gadis Suriah-Amerika berusia 17 tahun yang sedang berduka setelah kehilangan ibunya. Setelah pindah ke sekolah baru, Jihad juga harus menghadapi perundungan. Hari-harinya terasa semakin abu-abu.
Sampai suatu hari, ia menemukan buku sketsa peninggalan sang ibu. Secara ajaib, gambar-gambar yang ia buat mulai hidup di dinding-dinding kota New York.
Perpaduan kisah sedih, hubungan ibu dan anak, seni, serta unsur magis membuat The Ocean Would Paint Me Blue menjadi salah satu buku yang patut masuk daftar bacaan September.
Buat yang sudah mengincar edisi illustrated edges, sayangnya edisi tersebut sudah habis terjual. Tapi jangan sedih, karena edisi spray edges sudah bisa kamu pesan sekarang!
5. Tak Mau Dirayu Bulan
Sebelum dikenal sebagai salah satu penulis paling berpengaruh di Indonesia, Andrea Hirata menjalani kehidupan yang penuh perjuangan.
Pengalaman tersebut menjadi bagian dari Tak Mau Dirayu Bulan, novel terbaru Andrea Hirata yang diangkat dari perjalanan hidupnya sendiri dan disajikan kembali dalam bentuk fiksi.
Dalam perjalanan hidupnya, Andrea pernah menjadi buruh anak dan pendulang timah. Ia juga sempat putus sekolah saat SMA, bekerja sebagai kuli di toko bahan bangunan, belajar di bawah remang lampu jalanan demi mempersiapkan ujian masuk universitas negeri, hingga akhirnya bekerja sebagai pegawai kantor pos.
Pengalaman-pengalaman tersebut membuat buku ini menjadi cerita tentang perjuangan untuk mendapatkan pendidikan, mengejar mimpi, dan terus melangkah meski keadaan tidak selalu mudah.
Menariknya, sebelum diterbitkan di Indonesia, novel ini lebih dulu terbit dalam bahasa Arab dengan judul The Aluminium Coin. Edisi tersebut diterbitkan oleh Dar El-Muna dan diikutkan dalam Abu Dhabi International Book Fair 2026.
6. Ideologi Kaum Intelektual
Apa sebenarnya peran orang-orang yang memiliki ilmu dan pengetahuan di tengah masyarakat?
Pertanyaan tersebut menjadi salah satu hal yang dibahas Ali Syari’ati dalam Ideologi Kaum Intelektual.
Syari’ati membahas hubungan antara agama, kebudayaan, masyarakat, dan orang-orang yang memiliki peran dalam membentuk perubahan. Baginya, agama bukan hanya sesuatu yang digunakan untuk mempertahankan keadaan yang sudah ada. Agama juga dapat menjadi pegangan untuk menjawab berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat.
Ia juga memperkenalkan istilah rausyanfikr, yaitu orang-orang yang tidak hanya memiliki pengetahuan, tetapi juga mau terlibat dan berbuat sesuatu untuk masyarakat.
Menurut Syari’ati, orang-orang seperti ini perlu dekat dengan masyarakat, berani menentang ketidakadilan, dan ikut memperjuangkan kehidupan yang lebih baik.
Buku ini cocok untuk kamu yang ingin mengenal pemikiran Ali Syari’ati sekaligus merenungkan kembali peran orang berilmu di tengah berbagai persoalan yang terjadi di masyarakat.
7. Ketika Quran Jatuh di Hati Hamba yang Merasa Biasa
Siapa bilang Al-Qur’an hanya untuk orang yang merasa sudah alim? Ketika Quran Jatuh di Hati Hamba yang Merasa Biasa justru mengajak pembaca melihat bahwa Al-Qur’an bisa dekat dengan siapa saja.
Buku Nadirsyah Hosen ini membahas surat-surat pendek dalam Juz Amma dengan cara yang ringan dan dekat dengan kehidupan sehari-hari. Setiap pembahasan dilengkapi kisah orang-orang dengan berbagai latar belakang yang dapat membantu pembaca memahami pesan dari surat yang dibahas.
Al-Qur’an tidak hanya ditujukan kepada mereka yang rajin beribadah, rutin mengikuti kajian, atau memiliki pengetahuan agama yang luas. Al-Qur’an juga bisa menyentuh hati siapa saja yang mau membuka diri dan merenungkan hidup melalui ayat-ayatnya.
Mau tukang ojek, pedagang beras, kiai, artis, atau siapa pun, semua punya kesempatan untuk menemukan kedekatan dengan Al-Qur’an. Dengan pembahasannya yang ringan dan cerita yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, buku ini terasa seperti bacaan tafsir yang dekat dengan generasi muda. Tidak heran kalau buku ini menjadi salah satu buku agama yang banyak direkomendasikan untuk Gen Z.
8. Ayo Tebak-Tebakan Hewan?
Belajar mengenal hewan bisa jadi jauh lebih seru kalau dilakukan sambil bermain! Ayo Tebak-Tebakan Hewan? merupakan buku anak interaktif yang mengajak si kecil mengenal berbagai hewan melalui permainan tebak-tebakan.
Setiap hewan diperkenalkan melalui petunjuk dalam bentuk sajak berima. Setelah menebak, anak bisa membuka flap untuk melihat jawabannya.
Tidak hanya membuat kegiatan membaca lebih menyenangkan, buku ini juga dapat membantu menstimulasi rasa ingin tahu anak. Si kecil pun bisa belajar mengenal berbagai hewan sambil bermain dan berinteraksi langsung dengan isi buku. Cocok untuk menemani waktu bermain dan belajar bersama Ayah dan Bunda.
9. Seri Dongeng Akhlakul Karimah
Mengenalkan kebiasaan baik kepada anak bisa dimulai dari cerita sederhana yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Seri Dongeng Akhlakul Karimah hadir dalam beberapa judul, seperti Selalu Berdoa, Santun Berbicara, Ucap Salam, dan Sayangi Binatang.
Setiap buku berisi sekitar 12 halaman sehingga tidak terlalu panjang untuk dibacakan kepada si kecil. Bentuknya juga tipis dan ringan sehingga mudah dibawa ke mana saja.
Dengan harga yang terjangkau, seri ini bisa menjadi pilihan untuk menambah koleksi buku anak sekaligus mengenalkan berbagai kebiasaan baik melalui cerita yang sederhana dan mudah dipahami.
10. Divine Rivals
Perang, surat misterius, dan kisah cinta yang tidak terduga. Divine Rivals punya semuanya. Ketika Forest, kakak Iris Winnow, pergi ke medan perang, Iris terpaksa meninggalkan sekolah dan bekerja untuk membantu keluarganya. Di kantor surat kabar, ia justru harus berhadapan dengan Roman Kitt, rekan kerja yang sejak awal memandang rendah dirinya.
Di tengah rasa rindunya kepada sang kakak, Iris mulai menulis surat menggunakan mesin tik warisan neneknya. Anehnya, surat-surat yang ia selipkan di bawah lemari pakaian selalu menghilang.
Hingga suatu malam, sebuah surat dari orang asing muncul di lantai. Isinya hanya tiga kata: “Ini bukan Forest.” Siapa yang menerima surat-surat Iris selama ini? Mengapa orang asing tersebut bisa membalas suratnya? Dan bagaimana hubungan mereka berkembang di tengah perang antara dua musuh abadi, Dewa Dacre dan Dewi Enva?
Dengan perpaduan fantasi, perang, misteri, dan kisah cinta, Divine Rivals cocok untuk kamu yang suka cerita penuh rahasia dan surat-surat misterius. Buku ini juga tengah mendapat perhatian baru berkat rencana adaptasinya ke layar lebar oleh Paramount Pictures.
Sepuluh buku pilihan editor September ini punya cerita yang sangat beragam. Ada yang mengajak kita melihat kembali sejarah, mempertanyakan kekuasaan, memahami bagaimana informasi bekerja, mendekatkan diri dengan Al-Qur’an, sampai sekadar menikmati kisah fantasi dan romance yang bikin penasaran.
Buat kamu yang sedang mencari bacaan baru bulan ini, mungkin salah satunya bisa menjadi buku yang menemani hari-hari di bulan September. Jadi, sudah tahu buku mana yang mau masuk ke reading list-mu?
Awita Ekasari/Content Writer Mizanstore