“Dan-Sha-Ri”: Filosofi Jepang untuk Rumah yang Lebih Rapi Saat Lebaran.

Apabila kita “menolak” hubungan dengan barang (Dan), dan “membuang” barang (Sha), maka kita bisa “melepas” keterikatan darinya (Ri), sehingga esensinya sendiri adalah “mengeluarkan” barang. Itulah inti dari Danshari, filosofi decluttering Jepang yang telah mendunia.

Hideko Yamashita, seorang ahli decluttering ternama asal Jepang, membuka mata kita bahwa tumpukan barang yang tidak kita butuhkan di rumah merupakan bukti dari adanya perasaan atau pikiran negatif kita yang menyangkal ketidakbergunaan barang tersebut. Melepaskan barang-barang tersebut sejatinya berkaitan erat dengan membebaskan hidup dan diri kita sendiri. (hal 200)

Tak sekadar membenahi barang, filosofi ini bertujuan untuk membenahi pikiran sehingga kita dapat hidup dengan mood yang lebih baik, sesulit apa pun kehidupan kita. Menjelang Lebaran, momen “Kembali Fitrah” sering kali kita maknai dengan membeli barang-barang baru. Namun, bagaimana jika tahun ini kita melakukan pendekatan sebaliknya? Mari kita ber-Danshari bersama-sama dengan fokus pada “Diri Kita yang Sekarang.” (hal 46)

1. Menolak (Dan): Membentengi Diri dari Impulsivitas Lebaran

Langkah pertama adalah “Menolak”. Menjelang Idulfitri, godaan diskon peralatan dapur atau dekorasi rumah sangatlah besar. Sebelum membeli, tanyakan pada diri sendiri: “Apakah barang ini benar-benar mencerminkan kebutuhanku saat ini, atau aku hanya ingin terlihat sempurna di mata tamu?” Dengan menolak barang yang tidak perlu masuk ke rumah, kita sedang menjaga kejernihan pikiran dari tumpukan beban baru. (hal.144)

dok.mizanstore

2. Membuang (Sha): Melepaskan “Barang Mati” di Sudut Ruang

Gunakan momentum bebersih rumah untuk melakukan aksi “Membuang” atau mengeluarkan. Fokuslah membuang barang yang selama ini hanya menjadi “polusi visual”.

  • Baju Lebaran Tahun Lalu: Jika sudah tidak nyaman atau tidak lagi sesuai dengan gaya pribadimu sekarang, jangan simpan karena alasan “sayang”.
  • Peralatan Masak yang Menumpuk: Sering kali dapur kita penuh dengan alat yang jarang dipakai. Mengeluarkan barang-barang ini bukan sekadar membuang benda, tapi membuang energi negatif yang menghambat aliran kedamaian di rumah. (hal.86)
dok.mizanstore

3. Melepas Keterikatan (Ri): Menemukan Keikhlasan dalam Berbagi

Inilah tujuan akhir dari Danshari. Saat kita berhasil memisahkan diri dari keterikatan materi, kita mencapai kebebasan mental. Di bulan yang penuh berkah ini, “membuang” barang bisa bermakna mulia jika disalurkan menjadi sedekah. Barang yang bagi kita sudah tidak memiliki nilai fungsi “sekarang”, mungkin menjadi berkah luar biasa bagi orang lain. Di sinilah transformasi hidup terjadi: dari rasa memiliki yang berlebih menjadi rasa ikhlas yang melapangkan dada. (hal.171)

dok.mizanstore

Rumah yang Lapang, Hati yang Tenang

Buku Danshari mengajak kita beraksi untuk mentransformasi hidup. Dengan mengubah pandangan akan nilai barang-barang yang kita pegang selama ini, kita memberikan ruang bagi keberkahan dan kebahagiaan baru untuk masuk. (hal.242)

dok.mizanstore

Lebaran tahun ini, mari kita hiasi rumah bukan dengan tumpukan benda baru yang sesak, melainkan dengan ruang yang lapang dan hati yang jernih. Karena pada akhirnya, rumah yang paling indah adalah rumah yang paling memberikan kedamaian bagi penghuninya untuk saling bersilaturahmi.


Awita Ekasari/Content Writer Mizanstore

Bagikan ke Sekitarmu!
“Dan-Sha-Ri”: Filosofi Jepang untuk Rumah yang Lebih Rapi Saat Lebaran.
Postingan terkait

This website uses cookies.