Menulis sering kali diidentikkan dengan profesi akademisi, jurnalis, atau orang-orang yang memang punya banyak waktu senggang di depan laptop. Padahal, karya sastra yang hebat sering lahir dari tangan mereka yang sehari-harinya bergelut langsung dengan kerasnya realita di lapangan.
Tiga sosok berikut adalah buktinya. Di sela-sela kesibukan melayani pembeli mie ayam, bertahan di tengah konflik, hingga menembus kemacetan sebagai pengemudi ojek online, mereka berhasil melahirkan karya-karya yang diakui publik.
Aveus Har: Seorang Pedagang Mie Ayam
Bagi warga Pekalongan yang langganan membeli mie ayam racikan Suharso, mungkin tidak banyak yang menyangka bahwa pria di balik gerobak tersebut adalah seorang novelis produktif. Di dunia literasi, ia lebih dikenal dengan nama pena Aveus Har.
Suharso, lulusan SMEA Negeri Pekalongan ini, menyukai genre cerita populer berunsur romantis—melanjutkan jejak para pendahulunya seperti Marga T., Mira W., hingga Fredy S. Sejak buku pertamanya terbit (kumpulan cerpen Paper Doll), Aveus Har sudah melahirkan enam judul novel, satu kumpulan cerpen tambahan, serta buku panduan menulis. Beberapa karyanya yang dikenal publik antara lain Warna Merah Pada Hati, ASIBUKA! Mantra Rahasia, Pangeran Langit Sorry that I Love You, dan Roller Coaster Cinta.
Jalan menulisnya bukan sekadar hobi, melainkan sering menjadi penopang hidup keluarga. Salah satu momen paling membekas adalah ketika warung tempatnya berjualan terancam digusur. Di saat yang sama, naskah novelnya yang berjudulFlawless Hope berhasil menyisihkan sekitar 400 peserta dan keluar sebagai Juara I dalam lomba penulisan novel Bentang Pustaka. Menariknya, ia adalah satu-satunya pengarang pria yang masuk delapan besar sekaligus menjadi pemenang. Novel tersebut kemudian diterbitkan dengan judul Sejujurnya Aku. Hadiah sebesar Rp6.000.000 yang ia dapatkan dari perlombaan itu langsung ia gunakan untuk menyewa tempat kontrakan baru agar bisa terus berjualan mie ayam.
Konsistensi Aveus Har tak berhenti di situ. Memasuki pertengahan tahun 2026, cerpen terbarunya yang berjudul Kisah Sunyi berhasil lolos dan dimuat di harian Kompas edisi Juli 2026. Selain itu, naskah buatannya yang berjudul Pertaruhan Sunyi juga menyabet Juara II dalam Lomba Penulisan Skenario Film Panjang 2026 yang diselenggarakan oleh Kementerian Kebudayaan.
Arafat Nur: Seorang Petani, Jurnalis Lepas, dan Guru Honorer
Jika Aveus Har banyak bercerita tentang dinamika romansa dan keseharian, Arafat Nur membawa pembaca menyelami sisi gelap humanisme di tengah konflik. Tinggal di Aceh saat masa-masa peperangan membuat Arafat paham betul getirnya menjadi warga sipil. Ia pernah diculik karena dituduh sebagai mata-mata, bahkan rumahnya pun sempat dibakar. Trauma dan pengalamannya itu kemudian ia olah menjadi karya sastra dengan gaya penceritaan yang khas: seru, satir, jenaka, namun kerap membuat dada sesak.
Beberapa karya terkenalnya berlatar situasi sosial Aceh yang kompleks. Novel Lampuki mengisahkan keseharian warga di sebuah desa di Aceh, yang membawanya meraih penghargaan berprestasi Kusala Sastra Khatulistiwa pada tahun 2011. Sementara novel Tanah Surga Merah mengangkat kisah mantan pejuang GAM bernama Murad pasca-perjanjian damai tahun 2005—karya ini berhasil memenangkan Sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) 2016 dan membawanya meraih Lencana Emas dari Pemerintah Aceh.
Karya Arafat Nur juga menembus pasar internasional. Novelnya yang berjudul Lolong Anjing di Bulan diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris menjadi Blood Moon Over Aceh oleh Dalang Publishing di Amerika Serikat. Novel tersebut memotret nasib rakyat kecil di Alue Rambe, Lhokseumawe, yang terjepit di antara dua kubu yang bertikai sepanjang tahun 1976–2015. Dengan lihai, Arafat menggambarkan bagaimana warga berjuang tetap hidup “senormal mungkin” di tengah ketakutan yang mengepung.
Sejumlah novel lainnya seperti Dunia Kecil yang Riuh, Burung Terbang di Kelam Malam, Keajaiban Paling Hebat di Dunia, Bulan Kertas, hingga Tempat Paling Sunyi makin mengukuhkan posisinya sebagai salah satu sastrawan penting Indonesia.
Bu Sri: Seorang Supir Ojol
Di usianya yang menginjak 50 tahun, Bu Sri membagi harinya antara memutar gas sepeda motor sebagai pengemudi ojek online (ojol) dan menguntai kata. Di sela-sela kesibukannya mengantar penumpang dan barang, Bu Sri tetap aktif menulis cerpen dan puisi.
Karya-karyanya terhitung sangat produktif dan telah terbit dalam belasan buku antologi bersama berbagai komunitas penulis. Beberapa di antaranya meliputi:
- “Cahaya Bintang Fajar” dalam buku Ambarawa di Ujung Pena (2013)
- “Sri Widati” dalam Untaian Nama Bayi bersama IIDN Semarang (2014)
- “Sketsa Jeddah” dalam Menjadi Tamu di Surga-Nya (2014)
- “Kado Manis dari Robbuna” dalam Anugerah Illahi (2014)
- “Bias Kelabu di Teluk Penyu” dalam Sisi Lain (2015)
- Puisi “Kidung Asa Mpu Pandean” dalam Ambarawa Seribu Wajah (2016)
- “Tiket Pilihan Cinta” dalam Meretas Batas Dunia Kertas (2019)
- “Hujan di Atas Pelangi” dalam Impian Perempuan (2019)
- “Cinta Langit, Bumi dan Bintang” dalam Percayalah Allah Bersamamu (2021)
- “Bentangan Sajadah di Gunung Gajah” dalam Semesta Cinta Lansia (2024)
Meski belasan bukunya sudah beredar di perpustakaan dan rak buku pembaca, Bu Sri tetap rendah hati. Ia mengaku sampai hari ini masih terus belajar untuk mengasah kemampuannya menulis. Bagi Bu Sri, keterbatasan waktu dan kerasnya pekerjaan di jalanan bukanlah penghalang untuk tetap berkarya.
Kisah Aveus Har, Arafat Nur, dan Bu Sri menjadi pengingat sederhana bagi siapa saja:
Kerap kali, tulisan yang paling membekas justru lahir bukan dari ruangan yang tenang, melainkan dari keberanian untuk tetap memegang pena di tengah sibuknya keseharian.
Awita Ekasari/Content Writer Mizanstore
Sumber: diolah dengan penyesuaian
https://www.jpnn.com/news/aveus-har-suharso-penjual-mi-ayam-yang-novelis-produktif
https://aceh.antaranews.com/berita/50081/novel-arafat-nur-diterjemahkan-dalam-bahasa-inggris
https://www.instagram.com/arafat_nur73/
https://www.instagram.com/aveushar/
https://hot.detik.com/book/d-4793486/3-novel-arafat-nur-cetak-ulang-lagi