Banyak orang mengira bahwa membeli buku bajakan hanya memberikan dampak pada satu orang saja, yaitu sang penulis yang kehilangan royaltinya. Anggapan ini membuat sebagian pembaca merasa tidak bersalah saat tergiur harga murah. Padahal, jika kita menelaah lebih dalam, industri perbukuan tidak pernah berdiri dari kerja satu orang semata. Satu eksemplar buku yang bertengger di rak toko adalah buah dari kolaborasi panjang yang melibatkan puluhan hingga ratusan kepala. Fenomena ini kian memprihatinkan ketika istilah “repro” atau “reproduksi” mulai digunakan secara lazim dan dianggap wajar oleh masyarakat maupun platform marketplace. Istilah yang dihaluskan tersebut padahal tidak mengubah fakta dasar bahwa tindakan tersebut adalah pencurian hak kekayaan intelektual secara terang-terangan.
Proses Panjang Lahirnya Sebuah Buku
Sebelum naskah siap cetak, ada perjalanan panjang yang membutuhkan waktu, biaya, dan dedikasi luar biasa. Ide murni dari penulis harus melewati meja penyuntingan editor terlebih dahulu agar alur dan bahasanya mengalir dengan baik. Setelah disunting, naskah diserahkan kepada perancang tata letak yang menentukan ukuran huruf, margin, hingga penataan halaman demi kenyamanan membaca. Tak berhenti di situ, desainer sampul dan ilustrator bekerja keras menciptakan visual menarik agar buku mampu memikat calon pembaca. Sebelum masuk ke percetakan, tim proofreader kembali membaca ulang demi memastikan tidak ada kesalahan ketik yang terlewat. Setelah proses produksi selesai, penerbit masih harus mengalokasikan anggaran dan tenaga untuk pemasaran, promosi, hingga gelaran acara launching dan bedah buku.
Semua proses panjang yang memakan biaya tidak sedikit itu ditanggung oleh industri demi menghadirkan karya yang bermutu. Keuntungan dari penjualan buku yang sah kemudian dibagikan secara adil untuk menopang kehidupan banyak orang di balik layar. Namun, para pembajak dengan semena-mena menggandakan, mencuri karya tersebut, dan menjualnya dengan harga murah demi mengeruk keuntungan pribadi.
Bukan Hanya Penulis yang Dirugikan
Dampak merusak dari praktik illegal ini tersebar luas ke berbagai lini. Berikut adalah pihak-pihak yang secara nyata dirugikan akibat pembajakan buku:
1. Editor, Ilustrator, Desain Grafis, dan Tim Produksi: Pekerja kreatif di balik layar yang mencurahkan waktu dan keahlian mereka agar buku nyaman dibaca menjadi pihak pertama yang terancam. Ketika industri lesu akibat pembajakan, kesejahteraan dan keberlanjutan pekerjaan mereka di dunia industri kreatif ikut terdampak langsung.
2. Penerbit: Penerbit menanggung biaya investasi awal yang sangat besar, mulai dari penyuntingan, desain, pencetakan, hingga distribusi. Kerugian besar akibat maraknya buku bajakan membuat penerbit harus berhemat ketat, yang berujung pada makin kecilnya kesempatan bagi naskah-naskah baru atau penulis pemula untuk bisa diterbitkan.
3. Distributor dan Toko Buku Resmi: Buku harus melewati rantai distribusi yang panjang untuk sampai ke berbagai pelosok daerah. Ketika toko-toko bajakan menjual produk tiruan dengan harga yang sangat murah, distributor dan toko buku resmi kehilangan pendapatan, padahal merekalah yang selama ini membantu menyebarkan literasi secara sah.
4. Penulis: Penulis kehilangan royalti yang seharusnya menjadi bentuk penghargaan finansial atas riset, waktu, dan energi yang sering kali dicurahkan bertahun-tahun untuk menyelesaikan satu buah karya.
5. Pembaca dan Masyarakat Luas: Pembaca awam yang tidak bisa membedakan buku asli dan bajakan sering kali tertipu mendapatkan buku dengan kertas berkualitas buruk, cetakan buram, atau halaman yang hilang. Dalam jangka panjang, jika para penulis enggan berkarya lagi karena tidak dihargai, masyarakat akan kehilangan kesempatan menikmati karya-karya best seller baru dan akses terhadap literasi yang bermutu.
Melihat betapa luasnya dampak yang ditimbulkan, sudah saatnya kita menghentikan peredaran buku bajakan. Platform marketplace memiliki peran besar untuk lebih tegas menindak dan memblokir toko-toko penampung buku tiruan yang beroperasi di platform mereka. Di saat yang sama, edukasi kepada masyarakat harus terus digaungkan. Membeli buku original bukan hanya sekadar bentuk apresiasi kepada penulis, melainkan langkah nyata untuk menjaga napas kehidupan ratusan pekerja kreatif di industri perbukuan serta menyelamatkan masa depan literasi bangsa.
Awita Ekasari/Content Writer Mizanstore
Sumber: Artikel diolah dari berbagai sumber dengan penyesuaian
https://mojok.co/terminal/pembajakan-buku-tak-hanya-merugikan-penerbit-tapi-juga-pembaca
https://www.ikapi.org/2025/06/03/pembajakan-buku-adalah-kejahatan-bagi-ekonomi-kreatif
https://blog.mizanstore.com/pembajakan-buku-kejahatan-peradaban-yang-terus-didiamkan