Maraknya tren joki di media sosial kini merambah ke ranah yang tak terduga. Setelah joki tugas dan joki Strava sempat menyita perhatian, kini publik dihebohkan oleh fenomena joki baca buku, sebuah jasa yang menawarkan “hasil akhir” membaca bagi mereka yang enggan menuntaskan lembaran halaman sendiri. Fenomena ini mendadak ramai diperbincangkan di platform Threads setelah seorang pengguna bernama @inilindri secara terbuka menawarkan jasa tersebut lengkap dengan daftar tarifnya.
Dalam unggahannya, @inilindri secara terbuka membuka tarif antara Rp700 ribu hingga Rp1,6 juta untuk membaca buku fiksi maupun nonfiksi berkapasitas 100–800 halaman, lengkap dengan fasilitas crochet bookmark, sticky notes transparan, hingga jasa foto untuk konten media sosial.
Tak ayal, unggahan tersebut langsung meledak dan memancing hingga lebih dari seribu balasan warganet. Banyak pengguna Threads yang dibuat kaget dan tak menyangka bahwa aktivitas membaca kini bisa dimanfaatkan sedemikian rupa. Kolom komentar pun terbelah: ada yang merespons positif hingga tertarik menggunakan jasanya, tetapi tidak sedikit pula yang heran dan mempertanyakan apakah memang ada orang yang rela membayar demi berpura-pura membaca.
Sudah Pernah Terjadi di Luar Negeri
Usut punya usut, fenomena ini ternyata bukan hal baru di kancah internasional. Salah satu balasan warganet menginfokan bahwa tren ini sudah meluas di luar negeri. Di platform marketplace global seperti Etsy, jasa yang dikenal dengan istilah Ghost Reader atau Custom Book Annotation Service ini sudah menjamur dengan kisaran tarif yang terbilang fantastis, yakni sekitar Rp800 ribu hingga Rp2 juta per buku.
Para Ghost Reader di luar negeri secara terbuka membagikan proses estetika mereka saat menghias buku lewat video ASMR di BookTok atau Bookstagram. Pembeli di Etsy pun tidak memanfaatkannya secara sembunyi-sembunyi, melainkan bangga mengoleksi buku yang penuh dengan coretan warna-warni dan analisis menarik dari sang kreator demi kenyamanan membaca ulang (rereading) atau sekadar estetika dekorasi rak buku.
Cerminan Lapangan Pekerjaan di Indonesia yang Kian Sulit
Fenomena joki buku sebenarnya adalah salah satu cara bertahan hidup karena makin susahnya cari kerja saat ini akibat syarat yang ketat dan batasan umur. Rasa cemas akibat sulitnya cari uang bikin mereka mutar otak dan jeli ngeliat peluang, salah satunya dengan menjual hobi membaca buat nyari penghasilan dari orang-orang yang cuma butuh pengakuan atau pamer di media sosial.
Keterbatasan lowongan kerja ini akhirnya memaksa Gen Z untuk memutar otak dan berpikir out of the box agar tidak terus-menerus terjebak dalam pengangguran. Dibanding cuma meratapi nasib atau menunggu keajaiban, kreativitas mereka justru makin terasah untuk menciptakan peluang ekonomi baru dari tren media sosial yang sedang berkembang. Bagi Gen Z, memanfaatkan celah seunik apa pun, termasuk joki buku, bukan sekadar cara mencari penghasilan, tapi juga bukti nyata bahwa fleksibilitas dan daya adaptasi mereka sanggup menjawab kerasnya tantangan dunia kerja saat ini.
Tanggapan Kamu Soal Joki Baca Buku Ini?
Penyedia jasa mengungkapkan bahwa mayoritas pengguna tertarik memakai layanan ini demi membangun image di media sosial. Tujuannya sederhana: agar terlihat seperti seorang bookstagram atau bookworm sejati yang berwawasan luas, sekaligus menciptakan kesan seolah-olah buku tersebut sudah dibaca dan diresapi sejak lama. Nah, melihat fenomena yang unik sekaligus menggelitik ini, bagaimana menurut pendapatmu?
Awita Ekasari/Content Writer Mizanstore
Sumber: Artikel diolah dari berbagai sumber dengan penyesuaian
https://www.threads.com/@inilindri/post/DeGLljuEiEF