Belakangan ini, istilah mindful parenting (pengasuhan penuh kesadaran) sering kali berseliweran di lini masa kita. Ketika mendengar istilah tersebut, sebagian dari kita mungkin langsung membayangkan tumpukan buku psikologi yang tebal atau teori regulasi emosi yang rumit. Kesannya, mindful parenting adalah sebuah ilmu yang hanya dipelajari oleh para ibu di sela-sela waktu senggang mereka.
Namun, benarkah demikian?
Jika kita menengok akun komunitas dan buku terbaru Kurniawan Gunadi, Ayah Paruh Waktu, kita akan menemukan bahwa praktik pengasuhan yang sadar ini sebenarnya bisa mewujud dalam tindakan yang sangat sederhana.
Apa Itu Mindful Parenting Sebenarnya?
Sebelum melihat praktiknya pada sosok ayah, mari kita pahami dulu esensinya. Melansir dari laman kesehatan mental Psychcentral, mindful parenting didefinisikan sebagai praktik menerapkan perhatian penuh pada pengasuhan sehari-hari. Mempraktikkannya berarti kamu membuat pilihan sadar, secara berulang kali, untuk memperhatikan apa pun yang sedang terjadi pada saat ini, baik yang terjadi di dalam diri kamu sendiri maupun pada anak-anak.
Laman Psychcentral juga menyebutkan bahwa praktik ini memungkinkan orang tua untuk menjadi lebih reflektif dan mampu mengatur emosi di depan anak-anak. Tujuannya sangat indah: agar kita bisa menanggapi perilaku atau tindakan si kecil dengan penuh perhatian dan kepala dingin.
Menariknya, karena fokus utama mindful parenting adalah keadaan yang terjadi saat ini, praktik ini tidak membiarkan emosi atau trauma masa lalu ikut campur dalam memberikan respons terhadap suatu keadaan. Pada akhirnya, inilah yang akan membantu memperkuat ikatan batin (bonding) antara orang tua dan anak.
Menghargai “Paruh Waktu” yang Terbatas
Dalam realitas keluarga muda hari ini, waktu yang dimiliki seorang ayah untuk membersamai anaknya sering kali sangat terbatas, terbagi oleh tuntutan perannya sebagai pencari nafkah.
Namun, seperti yang ditekankan dalam konsep mindful parenting, fokus kita adalah momen saat ini. Seorang ayah yang mindful paham bahwa esensi pengasuhan bukan sekadar seberapa banyak jam yang dihabiskan bersama anak, melainkan kualitas dari kehadiran itu sendiri. Menjadi Ayah Paruh Waktu yang sadar berarti ketika jam kerja telah usai dan waktu untuk keluarga tiba, kamu memilih untuk hadir 100 persen.
Lalu, bagaimana cara konkret menerapkan mindful parenting ini jika kamu memiliki keterbatasan waktu? Berikut adalah langkah-langkah sederhana yang bisa kamu lakukan:
1. Jeda 60 Detik di Depan Pintu Rumah
Hubungan antara teori dari Psychcentral dengan realitas sehari-hari dapat kita lihat dalam situasi yang sangat akrab: seorang ayah baru saja menempuh perjalanan panjang membelah kemacetan setelah seharian berhadapan dengan tekanan pekerjaan. Kepalanya penuh, dadanya sesak oleh penat.
Ketika sampai di depan rumah, jangan langsung memutar kenop pintu. Pilihlah untuk berdiri diam di teras atau duduk di dalam kendaraan selama satu atau dua menit, tarik napas dalam-dalam, lalu embuskan perlahan.
Di ruang sempit bernama jeda itulah kamu sedang membuat “pilihan sadar” untuk memutus rantai emosi negatif. Jeda ini berfungsi menyaring emosimu agar stres dari kantor tidak ikut campur dan meluap di dalam rumah. Anak kecil yang sebentar lagi berlari gembira menyambut kakimu tidak bersalah atas harinya yang buruk di tempat kerja. Melalui jeda ini, kamu bersiap merespons pelukan anak dengan penuh perhatian.
2. Praktikkan Being Present
Ketika waktu bersamamu dengan anak terbatas hanya di malam hari sebelum mereka tidur, singkirkan ponsel, matikan televisi, dan tutup laptopmu. Saat anak mengajak bermain atau bercerita, tatap matanya dan dengarkan dengan sungguh-sungguh. Lebih baik menemani bermain selama 30 menit dengan fokus penuh dan hati yang gembira, daripada mendampingi seharian tapi pikiranmu melayang memikirkan pekerjaan esok hari.
3. Jangan Biarkan “Trauma Pola Asuh Lama” Ikut Campur
Banyak ayah yang tanpa sadar mengulangi pola asuh yang kaku dari orang tuanya dulu—seperti langsung membentak atau bersikap dingin saat anak melakukan kesalahan. Mindful parenting mengajakmu untuk memutus rantai tersebut. Jika dulu kamu jarang didekap oleh ayahmu saat menangis, ubahlah polanya sekarang. Saat anakmu menangis, dekap dia terlebih dahulu, validasi perasaannya, baru berikan pengertian dengan kepala dingin setelah ia tenang.
4. Menurunkan Ego
Menjadi lebih reflektif juga berarti berani berkaca dan menerima bahwa tidak ada orang tua yang sempurna. Melalui narasi di buku Ayah Paruh Waktu, kita diingatkan bahwa seorang ayah bukanlah pahlawan super yang kebal terhadap rasa takut. Ayah adalah manusia biasa yang bisa cemas akan masa depan anak atau merasa rapuh saat menghadapi masa-masa sulit.
Jika suatu hari kamu lepas kendali dan membentak anak karena teramat lelah, turunkan egomu setelah emosi mereda. Datangilah anakmu, sejajarkan tinggi badanmu dengan matanya, lalu mintalah maaf secara tulus. Tindakan reflektif ini tidak akan menurunkan wibawamu, justru akan mempererat ikatan batin dan mengajarkan anak tentang cara meregulasi emosi yang sehat.
Pada akhirnya, mindful parenting amembuktikan bahwa pengasuhan penuh kesadaran bukan sekadar teori psikologi di atas kertas. Ia adalah bentuk cinta yang mewujud sebagai “kata kerja” yang melelahkan, namun dilakukan dengan penuh kerelaan.
Sebab kamu tahu,
Melalui jeda satu menit yang kamu ambil di depan pintu teras, itu berarti kamu sedang mengamankan masa depan psikologis anak-anakmu dan memastikan mereka tumbuh di dalam rumah yang penuh kehangatan.
Untuk mendalami ruang refleksi ini dan melihat potret sosok Ayah dari sudut pandang yang lebih dekat, kamu bisa membaca buku terbaru Ayah Paruh Waktu karya Kurniawan Gunadi.
Di dalam buku ini, kamu akan menemukan kumpulan cerita pendek yang dengan sangat jujur merangkum kisah-kisah tentang ayah. Tentang kerja keras yang tak selalu terlihat oleh mata kita, tentang cinta seorang lelaki yang sering kali tak pandai diucapkan dengan kata-kata manis, tentang pesan-pesan berharga yang kerap tak sempat tersampaikan, hingga tentang duka dan beban berat yang terpaksa disimpan sendirian. Buku ini merangkum banyak hal berharga yang pada akhirnya membuat seorang ayah… benar-benar menjadi seorang ayah.
Selamat membaca, berefleksi, dan mengambil jeda yang menenangkan untuk keluargamu.
Awita Ekasari/Content Writer Mizanstore
Sumber: Diolah dari berbagai sumber dengan penyesuaian
https://tirto.id/apa-itu-mindful-parenting-contoh-penerapan-dalam-kehidupan-gBlZ
https://www.instagram.com/ayahparuhwaktu