Bagi para pencinta literatur dunia, nama Jane Austen tentu sudah tidak asing lagi. Karya-karya besarnya seperti Pride and Prejudice dan Sense and Sensibility terus dicetak ulang dan diadaptasi ke layar kaca hingga hari ini. Namun, pernahkah kamu membayangkan bagaimana sang penulis legendaris ini melahirkan mahakaryanya?
Berbeda dengan penulis modern yang mendambakan studio sepi dan meja kerja estetik, rutinitas dan kebiasaan menulis Jane Austen justru sangat sederhana, penuh interupsi, dan penuh siasat rahasia.
1. Bangun Pagi dan “Ritual” Sebelum Menulis
Berdasarkan catatan memoar keluarga, Jane Austen adalah seorang yang disiplin dengan waktu. Ia terbiasa bangun sangat pagi dan langsung memainkan piano (fortepiano) sebelum anggota keluarga lainnya beraktivitas.
Setelah itu, giliran ia yang menyiapkan sarapan untuk keluarganya sekitar pukul 09.00 pagi. Karena bertanggung jawab atas persediaan teh, kopi, dan gula di rumahnya, tugas domestik ini selalu menjadi bagian dari rutinitas paginya sebelum ia menyentuh pena.
2. Menulis di Ruang Bersama yang Bising
Jika penulis lain membutuhkan keheningan total, Jane justru menulis di ruang santai (sitting room) Chawton Cottage—rumah yang ia tinggali bersama ibunya, kakaknya (Cassandra), dan seorang teman dekat keluarga.
Sambil Jane menulis, ibu dan kakaknya biasanya duduk di sebelah atau di hadapannya sambil menjahit baju. Bayangkan, di tengah obrolan keluarga dan denting alat jahit, Jane tetap fokus mencelupkan penanya ke tinta dan menyusun dialog-dialog cerdas para karakternya.
3. Siasat Engsel Pintu yang Sengaja Dibiarkan Berderit
Jane Austen adalah orang yang sangat menjaga privasinya. Sepanjang hidupnya, ia bahkan memilih untuk menerbitkan novel-novelnya secara anonim (tanpa nama asli). Karena menulis di ruang bersama, ia selalu dihantui rasa cemas jika ada pelayan atau tamu asing yang masuk dan memergokinya sedang menulis.
Untuk menyiasati hal ini, Jane punya trik unik: ia sengaja melarang pintu ruang santai tersebut diperbaiki atau diberi pelumas. Engsel pintu yang berderit nyaring itu sengaja ia manfaatkan sebagai “alarm” alami. Setiap kali mendengar pintu berderit, Jane akan dengan cekatan menyembunyikan kertas-kertas naskahnya di bawah papan menulis portabelnya atau berpura-pura ikut menjahit bersama ibu dan kakaknya. Jika tamu sudah pergi, ia akan kembali melanjutkan tulisannya.
4. Malam Hari: Menjadi Kritikus Bagi Karya Sendiri
Setelah melewati seharian penuh dengan menulis, makan malam bersama pada sore hari, dan mengobrol santai sambil minum teh, agenda malam hari Jane Austen tidak kalah menarik.
Ia akan mengumpulkan keluarganya dan membacakan bab-bab novel yang sedang ia kerjakan dengan suara keras. Melalui ritual membaca bersama ini, Jane bisa melihat langsung reaksi audiens pertamanya. Jika ada bagian yang dirasa kurang lucu, terlalu bertele-tele, atau kurang dapet emosinya, ia akan langsung merevisinya keesokan hari.
Kebiasaan menulis Jane Austen membuktikan bahwa keterbatasan ruang dan banyaknya interupsi bukanlah alasan untuk berhenti berkarya. Di sudut meja kecil yang ringkih, dengan alarm berupa engsel pintu rusak, Jane Austen berhasil menciptakan beberapa karakter paling ikonik dalam sejarah sastra dunia.
Jadi, kalau kamu punya mimpi menulis tapi merasa kamarmu terlalu bising, ingatlah siasat engsel pintu ala Jane Austen!
Kenang Jane Austen dengan membaca karya-karya klasiknya yang fenomenal, klik di sini buat cari tahu lebih banyak! Koleksi karya Jane Austen.
Awita Ekasari/Content Writer Mizanstore
Sumber: artikel diolah dari berbagai sumber dengan penyesuaian
https://janeausteninvermont.blog/2021/05/12/collecting-jane-austen-the-letters
Buku Daily Rituals: How Artists Work (2013) oleh Mason Currey