Kesuksesan The Da Vinci Code, Angels & Demons, dan Inferno membuktikan bahwa cerita-cerita Dan Brown sangat cocok diadaptasi ke layar. Alurnya cepat, penuh ketegangan, dan sarat konspirasi berskala global. Namun, tidak semua novel Dan Brown sudah dibuat versi film atau serial.
Padahal, ada beberapa judul yang secara cerita justru sangat sinematis dan berpotensi besar jika diadaptasi, berikut daftarnya:
1. The Secret of Secrets (2026)
Merupakan salah satu karya Dan Brown yang sangat menarik untuk dibahas, terutama karena buku ini melanjutkan petualangan Robert Langdon dengan tema yang sangat provokatif: pencarian akan pengetahuan kuno yang bisa mengubah cara pandang manusia terhadap dunia.
Melanjutkan petualangan Professor Robert Langdon, ikonolog Harvard yang terkenal dari seri sebelumnya. Menurutnya, The Secret of Secrets menjadi novel dengan plot paling rumit dan ambisius yang pernah ditulisnya. Cerita masih berfokus pada Professor Robert Langdon yang terseret dalam pencarian mendesak di Praha setelah seorang ilmuwan (sekaligus kekasihnya), Dr. Katherine Solomon, diculik bersama manuskrip rahasianya. Manuskrip ini memuat penemuan yang bisa mengguncang dunia tentang kesadaran manusia dan apa yang terjadi setelah kita mati! Langdon harus memecahkan kode-kode kuno sambil dikejar oleh sosok misterius yang terinspirasi dari mitos Golem—makhluk tanah liat kuno Praha.
Kenapa Buku Ini Layak Difilmkan?
1. Ceritanya Sudah “Cinematic” dari Sananya
Dan Brown menulis novel ini dengan struktur thriller cepat, penuh twist, dan berpindah lokasi ikonik. Adegan-adegannya mudah dibayangkan secara visual: kejar-kejaran, teka-teki simbol, hingga pengungkapan rahasia besar yang mengubah perspektif. Dalam bahasa sederhana: ini buku yang kebayang kayak nonton film sambil baca.
2. Mengangkat Misteri Besar yang Relevan dengan Zaman Sekarang
The Secret of Secrets tidak cuma soal kode dan simbol, tapi juga menyentuh pertanyaan besar tentang pengetahuan tersembunyi manusia, sains, dan batas antara kepercayaan lama dan teknologi modern.
3. Robert Langdon = Karakter yang Sudah Punya Basis Fans
Robert Langdon bukan karakter baru. Penonton sudah “kenal” lewat:
Artinya, The Secret of Secrets:
- tidak perlu membangun dunia dari nol
- punya fanbase siap nonton
- mudah dipasarkan sebagai lanjutan semesta Dan Brown
4. Potensi Visualnya Kuat
Dan Brown selalu memilih latar ikonik dan simbolik, dan novel ini melanjutkan tradisi itu.
Kalau difilmkan, penonton akan disuguhi:
- lokasi bersejarah
- detail arsitektur
- simbol visual yang kuat
2. Origin (2017)
Sebagai bagian dari seri Robert Langdon, Origin justru belum mendapatkan adaptasi visual. Novel ini membahas pertanyaan besar umat manusia: dari mana kita berasal dan ke mana kita akan pergi? Tema sains, agama, teknologi, dan kecerdasan buatan berpadu dalam cerita yang relevan dengan zaman sekarang.
Dengan latar Spanyol yang kaya visual dan isu AI yang semakin dekat dengan kehidupan manusia, Origin punya potensi kuat untuk difilmkan. Menceritakan Robert Langdon, pakar simbologi dari Harvard, tiba di Museum Guggenheim Bilbao untuk menghadiri pengumuman penemuan besar yang diklaim akan “mengubah wajah sains selamanya” dan menjawab dua pertanyaan mendasar eksistensi manusia: “Dari mana kita berasal?” dan “Ke mana kita akan pergi?”. Penemuan ini dipresentasikan oleh mantan mahasiswanya yang kini menjadi futurolog miliarder, Edmond Kirsch. Namun, acara tersebut mendadak berubah menjadi kekacauan total saat Edmond dibunuh tepat sebelum ia mengungkapkan rahasianya.
Langdon pun terpaksa melarikan diri bersama direktur museum, Ambra Vidal, untuk mencari kata kunci rahasia yang akan membuka presentasi video Edmond yang hilang. Dalam pelariannya yang menegangkan melintasi Barcelona, mereka harus menghadapi musuh misterius yang tampaknya memiliki koneksi dengan Istana Kerajaan Spanyol dan fanatisme agama. Dengan bantuan asisten kecerdasan buatan (AI) milik Edmond yang bernama Winston, Langdon berpacu dengan waktu untuk mengungkap kebenaran ilmiah yang bisa mengguncang dunia sekaligus mengancam nyawa mereka berdua.
Kenapa Buku Ini Layak Difilmkan?
1. Keindahan Arsitektur yang Spektakuler
Dan Brown memilih lokasi yang sangat artistik di Spanyol. Bayangkan keindahan visual Museum Guggenheim di Bilbao yang futuristik, atau kemegahan gereja Sagrada Família dan gedung Casa Milà karya Antoni Gaudí di Barcelona. Latar tempat ini akan memberikan estetika film yang luar biasa dan sangat memanjakan mata penonton.
2. Kehadiran Winston: Karakter AI yang Menarik
Salah satu elemen paling unik di buku ini adalah Winston, asisten kecerdasan buatan (AI) yang sangat canggih dan cerdas. Interaksi antara Winston dan Robert Langdon akan menjadi dinamika baru yang segar di film. Dalam industri film saat ini, teknologi AI adalah tema yang sangat populer dan menarik untuk divisualisasikan.
3. Menjawab Pertanyaan Besar Umat Manusia
Buku ini berani mengangkat dua pertanyaan yang selalu membuat manusia penasaran: “Dari mana kita berasal?” dan “Ke mana kita akan pergi?”. Tema besar tentang asal-usul kehidupan dan masa depan umat manusia melalui kacamata sains modern akan membuat film ini memiliki bobot diskusi yang mendalam, bukan sekadar film aksi biasa.
4. Perburuan Kode yang “High-Tech”
Jika film Robert Langdon sebelumnya banyak berkutat dengan naskah kuno dan debu sejarah, Origin menawarkan perburuan kode yang lebih modern dan teknis. Penggunaan teknologi, internet, dan kecepatan informasi dalam memecahkan teka-teki Edmond Kirsch akan memberikan ritme film yang cepat dan sangat mendebarkan.
5. Kontroversi Sains vs Agama yang Menegangkan
Ciri khas Dan Brown adalah membenturkan penemuan sains yang mengejutkan dengan doktrin agama tradisional. Ketegangan antara kebenaran ilmiah yang ditemukan Edmond Kirsch dengan pertahanan iman para tokoh agama di Spanyol akan menciptakan konflik dramatis yang kuat dan membuat penonton terus berpikir hingga akhir film.
Meski belum diadaptasi, Digital Fortress, Deception Point, dan Origin menunjukkan bahwa dunia cerita Dan Brown masih jauh dari kata habis untuk layar lebar. Ketiganya menawarkan tema yang relevan, konflik besar, dan potensi visual yang kuat.
3. Digital Fortress (1998)
Digital Fortress adalah novel debut Dan Brown yang mengangkat isu keamanan data, kriptografi, dan dunia intelijen digital. Ceritanya bermula ketika mesin pemecah kode tercanggih milik NSA (Badan Keamanan Nasional Amerika) menghadapi kode misterius yang mustahil ditembus, Susan Fletcher, seorang kriptografer jenius, dipanggil untuk turun tangan. Kode tersebut ternyata berasal dari “Benteng Digital”, sebuah algoritma enkripsi tak terpatahkan yang diciptakan oleh mantan programmer NSA yang menyimpan dendam. Jika algoritma ini bocor ke publik, seluruh rahasia intelijen Amerika akan terancam lumpuh.
Penyelidikan Susan membawanya ke dalam pusaran konspirasi, pengkhianatan, dan kejar-kejaran maut yang menjalar hingga ke Sevilla, Spanyol. Di sana, tunangannya, David Becker, harus bertaruh nyawa untuk menemukan kunci rahasia sebelum sistem keamanan nasional hancur total. Dalam dunia yang penuh tipu daya ini, Susan segera menyadari bahwa musuh yang sebenarnya mungkin jauh lebih dekat dari yang ia duga.
Dengan tema yang relevan di era kebocoran data dan kecerdasan buatan, Digital Fortress sangat cocok diadaptasi menjadi film atau serial bertema thriller teknologi. Ketegangannya konstan, konfliknya global, dan karakternya kuat.
Kenapa Layak Difilmkan?
1. Ketegangan yang Terbagi di Dua Lokasi (Dual Plot)
Dan Brown menggunakan teknik penceritaan paralel yang sangat efektif untuk film. Di satu sisi, ada ketegangan Susan Fletcher di dalam gedung NSA yang futuristik dan penuh rahasia (ruang tertutup/klaustrofobik). Di sisi lain, ada petualangan David Becker yang dikejar-kejar pembunuh bayaran di jalanan Sevilla, Spanyol yang eksotis. Perpaduan antara suasana teknologi canggih dan keindahan kota tua Eropa akan sangat memanjakan mata penonton.
2. Isu yang Sangat Relevan (Privasi vs Keamanan)
Film-film bertema intelijen dan keamanan siber selalu menarik perhatian. Digital Fortress mengangkat dilema etis: Seberapa jauh pemerintah boleh mengintip privasi warga demi keamanan nasional? Isu ini sangat dekat dengan kehidupan kita saat ini di era digital, sehingga akan terasa sangat nyata dan mendebarkan bagi penonton modern.
3. Tokoh Protagonis Perempuan yang Jenius
Susan Fletcher bukanlah tokoh utama biasa. Ia adalah kriptografer jenius yang mengandalkan otak dan logika di dunia yang didominasi pria. Karakter “female lead” yang cerdas dan tangguh seperti ini sangat populer dalam industri film saat ini, memberikan nafas baru bagi genre techno-thriller.
4. Alur “Bom Waktu” (The Ticking Clock)
Novel ini memiliki tempo yang sangat cepat. Penonton akan disuguhkan sensasi “bom waktu” karena kode Digital Fortress terus bekerja menghancurkan sistem keamanan NSA. Ketegangan yang terus meningkat hingga detik terakhir adalah rumus sukses bagi sebuah film blockbuster yang membuat penonton tidak berani berkedip.
5. Nama Besar Dan Brown
Setelah kesuksesan trilogi Robert Langdon (The Da Vinci Code, Angels & Demons, Inferno), penonton sudah memiliki kepercayaan pada kualitas cerita Dan Brown. Memfilmkan Digital Fortress adalah langkah strategis karena penggemar Dan Brown di seluruh dunia sangat besar, sehingga potensi kesuksesan di box office sangat tinggi.
4. Deception Point (2001)
Menceritakan tentang analis Gedung Putih, Rachel Sexton, yang ditugaskan menyelidiki penemuan NASA di Kutub Utara: meteorit berisi bukti kehidupan luar angkasa yang bisa memengaruhi pemilihan presiden, di mana ayahnya mencalonkan diri melawan presiden petahana, Zachary Herney. Rachel dan tim ahli menemukan bahwa penemuan tersebut palsu dan merupakan bagian dari intrik politik untuk menyelamatkan NASA dari privatisasi dan memenangkan pemilu, memaksa mereka untuk mengungkap konspirasi besar sambil diburu oleh pembunuh bayaran.
Deception Point menawarkan skala cerita yang luas—mulai dari Gedung Putih, badan intelijen, hingga lingkungan ekstrem Kutub Utara. Nuansanya mirip film thriller politik dengan balutan sains.
Kenapa Buku Ini Layak Difilmkan?
1. Latar Tempat yang Ekstrem: Bayangkan ketegangan di atas bongkahan es Arktik yang mencair, badai salju, dan laboratorium canggih di tengah antah berantah. Secara visual, ini akan menjadi film survival-thriller yang sangat memukau.
2. Aksi yang Mendebarkan: Ada banyak adegan aksi yang sangat sinematik, mulai dari kejar-kejaran helikopter hingga pertempuran di atas kapal penelitian di tengah samudera yang ganas.
3. Konspirasi Politik: Cerita ini menggabungkan sains, ruang angkasa, dan intrik politik Gedung Putih. Tema manipulasi informasi atau hoax tingkat tinggi sangat relevan dengan isu dunia saat ini.
4. Teknologi Militer Canggih: Dan Brown memperkenalkan berbagai gadget dan senjata militer masa depan yang selalu menarik untuk divisualisasikan ke dalam film.
Nah, tinggal menunggu waktu hingga salah satu—atau bahkan semuanya—benar-benar hidup di layar. Kalau terwujud jadi film, buku Dan Brown mana yang paling ingin kamu lihat difilmkan duluan?
(Artikel diolah dari berbagai sumber dengan penyesuaian)
Awita Ekasari/Content Writer Mizanstore