Siapa bilang Dua Lipa cuma bisa bikin kita joget lewat lagu-lagu hitsnya? Pop star global yang satu ini baru aja membuktikan kalau dia juga punya kepedulian yang luar biasa besar terhadap dunia literasi. Melalui klub bukunya, Service95, Dua Lipa baru saja meresmikan sebuah proyek bernama Manifesto Library.
Nggak main-main, perpustakaan pop-up ini dibuka di dalam toko buku bersejarah yang super estetik, Livraria Lello di Porto, Portugal, sebagai bagian dari festival literasi BABELL – City of Books. Kabar baiknya? Koleksi dari Manifesto Library ini bakal jadi bagian permanen di sana!
Menghidupkan Kembali Suara yang Sengaja Dibungkam
Apa yang bikin Manifesto Library ini begitu spesial? Isinya bukan buku-buku best-seller biasa. Perpustakaan ini merangkum sekitar 100 judul buku yang punya sejarah “kelam”: pernah dilarang, disensor, ditarik dari peredaran, atau dibatasi aksesnya di berbagai belahan dunia.
Kita bicara tentang karya-karya berani yang mengangkat isu sensitif mulai dari ras, seksualitas, identitas, hingga kritik tajam terhadap penguasa. Sayangnya, karena keberanian itu, beberapa buku harus disembunyikan dari rak, dan yang paling memilukan, sebagian penulisnya harus menghadapi ancaman berat hingga kehilangan nyawa demi mempertahankan tulisan mereka.
Koleksi di perpustakaan ini dikurasi dengan sangat apik berdasarkan empat pilar tema utama: Power (Kekuasaan), Control (Kontrol), Voice (Suara), dan Memory (Ingatan).
Lebih dari Sekadar Membaca, Ini Soal Kebebasan Berpikir
Beberapa nama besar dan karya legendaris dipastikan mengisi rak Manifesto Library. Mulai dari The Handmaid’s Tale karya Margaret Atwood, Felon karya Reginald Dwayne Betts, hingga karya-karya provokatif dari Salman Rushdie dan peraih Nobel Olga Tokarczuk.
Lewat siaran persnya, Dua Lipa menyampaikan pesan yang menyentuh hati. Baginya,
Manifesto Library bukan sekadar tempat pinjam buku. Ini adalah ruang bagi kita untuk melihat dunia lebih dekat dan melatih diri agar tetap berpikir kritis.
Proyek ini adalah bentuk penghormatan tertinggi untuk tiga pihak: buku-buku yang sempat dihilangkan dari sejarah, para penulis yang menolak tunduk pada sensor penguasa, dan tentunya, untuk kita—para pembaca—yang berhak dan bebas menentukan sendiri apa yang ingin kita baca tanpa disetir oleh siapa pun.
Langkah Dua Lipa ini jadi pengingat kuat buat kita semua: di era informasi digital seperti sekarang, membaca buku yang memicu pemikiran kritis adalah bentuk kemerdekaan berpikir yang paling mewah.
Kalau kamu berkesempatan berkunjung ke Manifesto Library, buku “terlarang” mana yang paling ingin kamu baca duluan?
Awita Ekasari/Content Writer Mizanstore
Sumber: artikel diolah dari berbagai sumber dengan penyesuaian
https://www.instagram.com/p/DaPjNbaj3TV