Setelah menyelesaikan dua seri spin-off besar—yaitu The Heroes of Olympus dan The Trials of Apollo—penulis fantasi legendaris Rick Riordan akhirnya kembali ke akar ceritanya dengan merilis buku baru dalam seri aslinya, Percy Jackson and the Olympians. Buku keenam, The Chalice of the Gods (2023), diikuti oleh buku ketujuh yang sangat dinantikan, Wrath of the Triple Goddess (2024).
Buku ketujuh ini adalah buku kedua dalam sub-seri yang dijuluki “The Senior Year Adventures” (Petualangan Tahun Terakhir SMA), yang berfokus pada perjuangan Percy mendapatkan surat rekomendasi kuliah.
Petualangan Tahun Terakhir SMA
Seri terbaru ini menawarkan nostalgia sekaligus ancaman baru yang membedakannya dari petualangan Percy sebelumnya:
- Fokus cerita ke 3 karakter utama: Cerita ini kembali fokus penuh pada ketiga tokoh utama yang paling dicintai: Percy Jackson, Annabeth Chase, dan Grover Underwood. Ini adalah perpaduan sempurna antara dinamika akrab dan humor khas yang dirindukan pembaca.
- Reuni Karakter: Pembaca tidak hanya bertemu trio emas, tetapi juga beberapa tokoh lama yang sudah familier dan sangat dirindukan, berbaur dengan tokoh-tokoh baru yang menarik, menyeramkan, dan memiliki masa lalu misterius.
- Ancaman Sihir dan Hantu: Kali ini, petualangan Percy melibatkan elemen yang lebih gelap dan spooky. Misi mereka melibatkan sihir dan melawan para hantu menyeramkan yang berusaha mengambil alih New York.
- Hewan Peliharaan Unik: Sebagai tambahan yang lucu dan khas, cerita ini menghadirkan hewan-hewan peliharaan unik milik Dewi Hecate, yang masing-masing memiliki ciri khas tersendiri dan menambah kekacauan dalam misi.
Reuni Teman Lama: Kembali ke Sudut Pandang Percy
Kembalinya narasi sudut pandang orang pertama dari Percy Jackson terasa seperti sebuah reuni bagi Riordan. Ia mengakui, ini adalah pengalaman yang berbeda dari seri-seri sebelumnya, di mana Percy harus berbagi fokus dengan karakter Romawi di The Heroes of Olympus atau dewa Apollo yang menjadi manusia di The Trials of Apollo.
“Sangat menyenangkan untuk mengunjunginya kembali setelah bertahun-tahun. Ini seperti kembali ke reuni SMA dan melihat semua teman lama yang sudah bertahun-tahun tidak kita temui,” ujar Riordan.
Ia juga mengungkapkan bahwa ide untuk buku-buku baru ini terinspirasi dari proyek serial TV Disney+ yang tengah berjalan. Ia merasa, momen ini adalah waktu yang tepat untuk menulis buku sebagai ucapan terima kasih kepada para penggemar setia.
Yang mengejutkan, kembali ke gaya narasi Percy terasa sangat mudah bagi Riordan. Ia mengibaratkannya seperti “memakai celana jins tua yang nyaman.” Hal ini tidak lepas dari kenyataan bahwa karakter Percy memiliki banyak kemiripan sifat dengan dirinya dan didasarkan pada kepribadian putranya.
Merancang Rumah Dewi Sihir Hecate
Setiap buku baru harus memiliki elemen segar, dan untuk Wrath of the Triple Goddess, Riordan memutuskan untuk fokus pada dewi yang menarik: Hecate.
“Aku suka ide tentang Hecate, dewi sihir, menjadi pusat cerita buku ini,” jelas Riordan. “Ide untuk melihat sang Dewi di rumahnya sendiri adalah sesuatu yang menarik bagiku. Seperti apa penampakannya? Di mana Dewi Ilmu Sihir tinggal?”
Riordan mengaku sangat senang merancang rumah besar (mansion) sang Dewi. Di sisi lain, hal yang paling sulit dalam penulisan adalah membangun latar belakang bagi dua hewan peliharaan Hecate, Hecuba dan Gale, karena ia harus menambal banyak kekosongan mitologi untuk membuat karakter non-manusia tersebut terasa manusiawi dan mampu menyampaikan kisahnya.
Kisah Cinta sebagai Fondasi
Terlepas dari petualangan, humor, dan mitologi, kisah cinta antara Percy dan Annabeth selalu menjadi benang merah yang mengalir dengan mudah di karya Riordan.
“Aku rasa semua momen Annabeth-Percy cukup mudah,” ujarnya. Ia mengungkapkan bahwa hubungan mereka didasarkan pada pengalaman pribadinya dan sang istri. “Kami bersama ketika kami berusia 16 tahun, kau tahu, seperti Percy dan Annabeth, dan kami terus bersama sejak saat itu.”
Riordan meyakini bahwa kisah cinta adalah hal yang sangat dipikirkan anak muda. Meskipun ia tidak ingin menjadikannya fokus utama cerita, ia tahu bahwa kisah romansa adalah bagian penting dari kehidupan yang akan selalu membuat pembaca penasaran.
Seperti Nostalgia Kisah Lama
Riordan mengaku gugup dengan respons penggemar setelah jeda panjang, tetapi umpan balik yang ia terima sangat positif. Para pembaca merespons buku-buku baru ini seperti “mengunjungi kembali teman lama,” sekaligus memungkinkan pembaca baru untuk langsung menikmati keseluruhan seri tanpa hambatan.
Sebagai seorang mantan guru, Riordan selalu berusaha menyajikan tema-tema berat seperti trauma atau mitologi secara relevan bagi pembaca muda. “Aku tidak ingin memaksakannya kepada mereka… tapi aku juga tidak ingin mengabaikannya, berpura-pura seolah-olah semuanya bahagia,” katanya. Ia percaya anak-anak memahami ketegangan dan trauma, dan sebagai penulis, ia berusaha menyeimbangkan tanpa membuat mereka merasa tidak nyaman.
Saat ditanya tentang elemen mitologi Yunani yang belum ia tulis, Riordan menyebut kisah Orpheus dan Eurydice. Ia menjelaskan bahwa meskipun kisah itu adalah mitos favoritnya, ia belum pernah menulisnya karena kisah tersebut terlalu kuat dan menyedihkan baginya. “Ceritanya tentang, kau tahu, sepasang kekasih yang pada dasarnya diberi kesempatan untuk bahagia lagi, dan Orpheus mengacaukannya, kau tahu, karena dia tidak bisa percaya,” pungkas Riordan, mengakhiri wawancara.
Kembalinya Riordan ke kepala Percy menjanjikan petualangan penuh tawa, nostalgia, dan tentu saja, kekacauan yang akan terjadi sebagaimana mestinya. Nah, buat kamu yang mau baca Percy Jackson seri ke-7 Wrath of the Triple Goddess edisi terjemahan bahasa Indonesia. Kli di sini “Wrath of the Triple Goddess“
Awita Ekasari/Content Writer Mizanstore
(Artikel diolah dengan penyesuaian)
Sumber: :https://www.youtube.com/watch?si=T6DyGbsKcBSqAi39&v=BJkBV4gwzFA&feature=youtu.be
https://rickriordan.com/series/percy-jackson-and-the-olympians