Stop Ketipu! Ini Sederet Nama Samaran Buku Bajakan di Loka Pasar

Bagi para pencinta buku, berburu bacaan baru di marketplace atau media sosial adalah aktivitas yang sangat menyenangkan. Namun, di tengah riuhnya pasar digital, ada satu duri yang siap menusuk industri literasi kita: buku bajakan.

Dalam ilmu kebahasaan, trik yang digunakan oleh para penjual buku ilegal ini disebut sebagai eufemisme. Menurut KBBI Daring, eufemisme adalah ungkapan yang lebih halus sebagai pengganti ungkapan yang dirasakan kasar, yang dianggap merugikan atau tidak menyenangkan,

Kini, para pelaku industri buku ilegal tidak lagi terang-terangan menulis kata “Bajakan” atau “Fotokopian” pada lapak dagangan mereka. Mereka menggunakan berbagai istilah pengganti yang terdengar keren, profesional, bahkan ilmiah, untuk mengelabui pembeli, terutama pembeli pemula yang tergiur harga murah. Dalam konteks industri buku, eufemisme bukan lagi sekadar bumbu bahasa, melainkan alat manipulasi psikologis. Kata bajakan atau Ilegal yang berkonotasi kriminal dan buruk diganti dengan istilah-istilah yang terdengar teknis, akademis, bahkan ramah kantong. Tujuannya jelas: menghilangkan rasa bersalah pembeli (buyer’s guilt) sekaligus memberikan pembenaran semu bahwa buku yang mereka beli adalah produk alternatif yang sah.

Agar kita tidak menjadi bagian dari rantai yang merugikan penulis, editor, dan penerbit, yuk kenali berbagai nama samaran buku bajakan yang paling sering berkeliaran!

1. Re-print / Reprint

Secara harfiah, istilah ini artinya cetak ulang ataupun cetak kembali. Dalam industri penerbitan resmi, reprint adalah proses legal di mana penerbit sah mencetak kembali buku yang permintaannya tinggi atau habis di pasaran.

Faktanya di pasar bajakan: Istilah ini disalahgunakan oleh para pelaku ilegal. Mereka mencetak ulang buku-buku secara ilegal menggunakan mesin cetak mandiri tanpa izin resmi dari penulis maupun penerbit asli, lalu menjualnya dengan label reprint agar terkesan seperti proses produksi biasa.

2. Self Printed

Istilah ini berarti mencetak ulang buku secara mandiri. Namun, perlu dicatat bahwa istilah self printed di lapak bajakan tentu berbeda dengan gerakan self-publishing (penerbitan mandiri oleh penulis) ya! Dalam self-publishing, penulis memegang hak penuh atas karyanya dan mencetaknya secara sah. Sementara di tangan pembajak dan pengedar, self printed hanyalah bahasa halus untuk menyembunyikan fakta bahwa mereka sedang menggandakan karya orang lain tanpa izin demi keuntungan pribadi.

3. Grade Original / Grade Ori

Alias diartikan sebagai kualitas yang serupa dengan produk buku asli. Mengadopsi istilah yang populer di industri fesyen atau sepatu, kata grade ori kerap membuat pelanggan terkecoh. Hal ini karena kata ‘grade’ biasanya dinilai oleh konsumen awam sebagai penyebutan untuk tingkat kualitas paling tinggi yang mendekati asli. Padahal, sebagus apa pun cetakannya, status hukum buku ini tetaplah ilegal.

4. Premium Quality

Sama seperti grade ori, istilah premium digunakan untuk meyakinkan pembeli bahwa kualitas fisik buku bajakan tersebut sangat mirip dengan aslinya. Penjual biasanya mengklaim bahwa covernya tebal dan jilidannya rapi. Kenyataannya, sekeras apa pun mereka meniru kualitas fisik, uang yang dibayarkan sama sekali tidak mengalir kepada penulis dan tim penerbit yang sudah memeras keringat untuk melahirkan karya tersebut.

5. Non-Original / Non-Ori

Istilah ini adalah bentuk kejujuran penjual yang dibungkus dengan bahasa yang lebih halus. Penjual sengaja menghindari kata “bajakan” karena konotasinya yang buruk dan kriminal. Dengan menyebutnya “non-ori”, mereka berharap konsumen menganggapnya sebagai alternatif biasa, seperti halnya membeli suku cadang kendaraan non-ori yang legal di pasaran. Padahal, untuk hak cipta intelektual, produk non-ori berarti produk ilegal.

6. Bookpaper (Jenis Kertas)

Beberapa penjual secara cerdik menghindari pembahasan tentang keaslian buku dengan langsung fokus pada materialnya. Mereka biasanya menuliskan judul buku diikuti keterangan “Bahan Kertas: Bookpaper” atau “Kertas Kuning Ringan”. Strategi ini digunakan untuk mengalihkan perhatian pembeli agar fokus pada kenyamanan membaca (karena kertas bookpaper memang ramah di mata), sekaligus menyembunyikan fakta bahwa isi buku tersebut adalah hasil scan liar.

7. PDF / E-book Murah (Paket Google Drive)

Bentuk pembajakan tidak lagi hanya berupa fisik. Di era digital, banyak oknum menjual “akses” ke Google Drive yang berisi ratusan hingga ribuan judul buku dalam format PDF atau EPUB dengan harga belasan ribu rupiah saja. Mereka sering menggunakan dalih “untuk efisiensi membaca” atau “ramah lingkungan,” padahal itu adalah penggandaan digital tanpa izin berskala besar.

Cara Instan Mengenali Buku Bajakan

Selain menghafal istilah-istilah di atas, rumus paling mudah untuk mendeteksi buku bajakan adalah Harga yang Terlalu Murah. Jika sebuah novel yang baru saja terbit dan di toko resmi harganya Rp90.000, namun di sebuah lapak dijual dengan harga Rp25.000 dengan embel-embel “Reprint” atau “Grade Ori”, sudah bisa dipastikan 100% itu adalah buku bajakan.


Awita Ekasari/Content Writer Mizanstore

Bagikan ke Sekitarmu!
Stop Ketipu! Ini Sederet Nama Samaran Buku Bajakan di Loka Pasar
Postingan terkait

This website uses cookies.