Wajib Baca! 6 Mahakarya George Orwell yang Menguak Sisi Gelap Dunia dan Kekuasaan

Kalau kamu suka cerita tentang pengawasan pemerintah, kritik sosial yang tajam, atau ingin tahu kisah perjuangan berat penulis, nama George Orwell pasti muncul di urutan teratas. Orwell, yang nama aslinya Eric Arthur Blair, bukan cuma penulis novel; dia adalah pengamat yang berani terjun ke lumpur kemiskinan demi bisa menuliskan kebenaran.

Berikut adalah deretan karya ikoniknya beserta sinopsis dan jejak adaptasinya:

1. 1984 (Nineteen Eighty-Four)

Menceritakan Winston yang berusaha menjadi warga negara yang baik dengan mematuhi setiap aturan partai meski jauh di dalam hati dan pikirannya bersemayam antipati terhadap kediktatoran yang ada di negaranya. Walaupun begitu, Winston tidak berani melakukan perlawanan secara terbuka. Tidak mengherankan, karena Polisi Pikiran, teleskrin, dan mikrofon tersembunyi membuat privasi hanya serupa fantasi. Bahkan, sejarah ditulis ulang sesuai kehendak Partai. Negara berkuasa mutlak atas rakyatnya. Yang berbeda atau bertentangan akan segera diuapkan.1984 merupakan satire tajam, menyajikan gambaran tentang luluhnya kehidupan masyarakat totalitarian masa depan yang di dalamnya setiap gerak warga dipelajari, setiap kata yang terucap disadap, dan setiap pemikiran dikendalikan. Hingga kini, 1984 merupakan karya penting Orwell yang mengantarkannya ke puncak kemasyhuran.

1984 telah diadaptasi menjadi film paling ikonik yang dibintangi John Hurt). Kisah ini juga menjadi inspirasi utama berbagai pementasan teater di Broadway.

2. Animal Farm

dok.mizanstore

Buku satir politik yang fenomenal ini wajib banget masuk daftar bacaanmu! Buku ini memang bukan fabel biasa,George Orwell menulis Animal Farm sebagai sindiran tajam terhadap sistem politik yang rusak. Telah diterjemahkan dalam 70 bahasa di dunia dan menjadi salah satu karya sastra paling banyak diterjemahkan sepanjang abad ke-20, sejajar dengan 1984. Novel ini juga telah diadaptasi beberapa kali di tahun 1954 dan film live-action tahun 1999. Kabarnya, Andy Serkis tengah menyiapkan versi animasi terbaru yang akan tayang di 2026.

3. Keep the Aspidistra Flying (Gerundelan Penulis Kere)

Gordon Comstock adalah seorang penyair idealis yang memutuskan berhenti dari pekerjaannya yang mapan karena benci pada dunia kapitalis. Ia memilih hidup melarat sebagai penjaga toko buku, berperang melawan “Dewa Uang”, dan menolak menanam pohon Aspidistra (simbol kelas menengah). Namun, kemiskinan ternyata jauh lebih pahit dan menghancurkan harga diri daripada yang ia bayangkan. Novel ini telah diangkat ke layar lebar dengan judul “A Merry War” (1997), dibintangi oleh Richard E. Grant dan Helena Bonham Carter.

4. Luntang-Lantung si Gadis Taat (A Clergyman’s Daughter)

Mengisahkan Dorothy Hare adalah anak pendeta yang hidupnya sangat kaku dan melelahkan karena harus mengurus gereja serta ayahnya yang kolot. Suatu hari, ia mengalami amnesia dan tiba-tiba terbangun di jalanan London yang keras. Ia harus bertahan hidup sebagai pemetik buah dan pengemis, sebuah perjalanan yang membuatnya mempertanyakan kembali iman dan keadilan di dunia. Luntang-Lantung si Gadis Taat mengenalkan jurus sinisme khas George Orwell sang pengarang sebelum kelahiran mahakaryanya 1984 dan Animal Farm. Dorothy di sini bisa jadi adalah kita semua—dalam bentuk ekstremnya yang berusaha menjawab pertanyaan abadi: Siapa kita?

5. Down and Out in Paris and London

Bukan fiksi, melainkan catatan jujur Orwell saat ia memilih hidup menggelandang. Ia menceritakan pengalamannya menjadi pencuci piring yang bekerja belasan jam di dapur hotel Paris yang kotor, hingga tidur di penampungan tunawisma di London. Buku ini membuka mata pembaca tentang sisi gelap kemiskinan yang seringkali tidak terlihat.

6. Burmese Days

Mengisahkan kehidupan kolonial Inggris yang munafik di Burma (Myanmar) tahun 1920-an, berpusat pada John Flory, pedagang kayu yang kesepian dan frustrasi, yang terjerat dalam konflik sosial, rasisme, dan dilema moral, terutama setelah ia jatuh cinta pada wanita Inggris, Elizabeth Lackersteen, yang lebih memilih pria kaya, hingga berakhir tragis dengan bunuh diri, merefleksikan kehancuran moral imperialisme dan ketidakadilan terhadap penduduk asli. Novel ini ditulis berdasarkan pengalaman pribadi George Orwell saat menjadi polisi di Burma. Orwell secara tajam mengkritik imperialisme Inggris sebagai sistem yang korup, munafik, dan merusak baik penjajah maupun yang dijajah.

George Orwell mengajarkan kita untuk tidak gampang percaya pada propaganda. Dia mengajak kita untuk tetap kritis dan selalu curiga kalau ada sesuatu yang dirasa tidak beres dalam sistem sosial. Membaca buku-bukunya bukan cuma soal menikmati cerita, tapi soal belajar melihat dunia dengan mata yang lebih terbuka.

Dari deretan kisah di atas, mana yang menurutmu paling menarik untuk dibaca duluan?

(Artikel diolah dari berbagai sumber dengan penyesuaian)

Awita Ekasari/Content Writer Mizanstore

Bagikan ke Sekitarmu!
Wajib Baca! 6 Mahakarya George Orwell yang Menguak Sisi Gelap Dunia dan Kekuasaan
Postingan terkait

This website uses cookies.