Pernah terpikir tidak, kenapa buku-buku dari luar negeri bisa begitu masif penyebarannya atau mengapa toko buku di sana terlihat sangat hidup? Jawabannya bukan cuma karena minat baca yang tinggi, tapi karena adanya campur tangan pemerintah melalui subsidi yang totalitas.
Mari kita bedah bagaimana beberapa negara maju ini memberikan dukungan luar biasa bagi ekosistem literasi mereka.
1. Norwegia
Pembelian Buku Rutin: Setiap tahun, pemerintah membeli 1.500 judul buku untuk didistribusikan ke perpustakaan umum dan sekolah.
Prioritas Buku Anak: Khusus untuk kategori buku anak-anak, jumlah pembelian oleh pemerintah meningkat hingga mencapai 1.650 buku.
Dampak Nyata: Kebijakan ini memastikan penulis dan penerbit mendapatkan kepastian pasar, sekaligus memperkaya koleksi literasi di seluruh penjuru negeri.
2. Turki
Turki mempunyai lembaga khusus untuk mengurus program bantuan untuk penerjemahan buku. Di Turki, lembaga ini diberi nama Teda. Kementerian Kebudayaan Turki membentuk Teda pada 2006. Turki membuka pendaftaran bagi penerbit asing yang berminat membeli lisensi buku mereka sebanyak dua kali dalam setahun. Jumlah subsidi dana tidak terbatas dan berlaku selama dua tahun. Pendaftaran pun bisa dilakukan secara online. Ada dua opsi subsidi, untuk penerjemahan dan publikasi, harus dipilih salah satu. subsidi tidak diprioritaskan untuk penerjemahan buku-buku penulis yang sudah terkenal di dunia internasional, seperti Orhan Pamuk.
Subsidi diberikan selama dua tahun dan setelah buku terjemahan itu diterbitkan. Penerbit asing mengajukan biaya penerjemahan buku serta melampirkan kontrak pembelian hak cipta dengan penerbit Turki.
Setelah buku terbit, penerbit harus mengirimkan 30 kopi bukunya ke Kementerian Kebudayaan Turki. Dana subsidi diberikan setelah buku terjemahan itu diterbitkan.
3. Malaysia
Malaysia, juga memberikan lampu hijau bagi para pencinta buku. Program Baucar Buku Madani adalah bukti nyata dukungan tersebut. Melalui program ini, seluruh pelajar dari tingkat SD hingga universitas menerima voucer sebesar RM50 (sekitar Rp200.000) per tahun untuk membeli buku.
Hingga Oktober 2024, lebih dari 1,9 juta pelajar telah menebus voucer senilai RM157 juta untuk membeli 3,9 juta buku. Menariknya, pada tahun 2025, kebijakan ini diperluas kepada lebih dari 400.000 guru sebagai bentuk apresiasi. Voucer ini pun fleksibel; tidak terbatas pada buku pelajaran, sehingga buku non-fiksi dan populer pun bisa diakses dengan mudah oleh masyarakat.
4. Kanada
Kanada memiliki The Canada Book Fund (CBF) yang memberikan dukungan secara menyeluruh melalui tiga komponen utama:
- Support for Booksellers: Membantu biaya penjualan online, termasuk ongkos kirim dan pengembangan bisnis selama dua tahun.
- Support for Organizations: Memberikan sumber daya untuk pemasaran dan promosi penulis Kanada.
- Support for Publishers: Memberikan pelatihan bagi pemagang di bidang penerbitan dan bantuan perencanaan bisnis.
5. Korea Selatan
Korea Selatan melalui LTI Korea (Literature Translation Institute of Korea) sangat agresif mendukung penyebaran literatur mereka. Berikut beberapa programnya:
- Dukungan Terjemahan dan Publikasi: LTI Korea memberikan hibah dan dukungan untuk terjemahan dan publikasi karya sastra Korea ke berbagai bahasa. Ini mencakup novel, puisi, drama, literatur anak, dan genre lainnya.
- Program Pendidikan: Institusi ini menyelenggarakan program pendidikan untuk penerjemah, termasuk lokakarya, kursus, dan residensi. Program ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas terjemahan dan membina bakat baru di bidang terjemahan sastra.
- Event Sastra Internasional: LTI Korea berpartisipasi dan mensponsori berbagai pameran buku internasional, festival sastra, dan acara budaya. Ini membantu dalam mempromosikan penulis Korea dan karya mereka di panggung global, mendorong dialog lintas budaya.
- Penelitian dan Sumber Daya: LTI juga berinvestasi dalam penelitian terkait sastra Korea dan terjemahannya, menyediakan sumber daya berharga seperti database karya sastra Korea, terjemahan, dan jurnal akademik terkait.
Bagaimana dengan Indonesia?
Saat ini, dukungan spesifik dalam bentuk subsidi langsung untuk industri buku seperti di negara-negara di atas memang belum terdengar masif.
Langkah nyata yang baru ada saat ini adalah Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 5/PMK.010/2020. Aturan ini menyatakan bahwa semua buku bebas PPN, kecuali jika buku tersebut terbukti melanggar kriteria tertentu berdasarkan putusan pengadilan.
Tentu kita berharap, ke depannya literasi Indonesia juga bisa mendapatkan dukungan se-totalitas negara-negara tetangga agar karya penulis lokal semakin berjaya.
Awita Ekasari/Content Writer Mizanstore
Sumber: (Artikel diolah sesuai dengan penyesuaian)
https://hot.detik.com/art/d-3182309/negara-lain-beri-subsidi-penerjemahan-buku-indonesia
https://www.canada.ca/en/canadian-heritage/services/funding/book-fund.html
https://saungkorea.com/lti-korea-dan-penerjemahan-sastra-korea
https://teda.ktb.gov.tr/EN-252181/what39s-teda.html