Pernahkah kamu membaca kalimat seperti “Jantungnya berdegup dug-dug saat namanya disebut” dan mendadak merasa ikut deg-degan? Atau membaca “Brak!” saat pintu terbanting dan refleks merasa kaget? Efek dramatis yang membuat kata terasa berbunyi ini lahir dari satu elemen kebahasaan yang ajaib: onomatope.
Onomatope menghadirkan suara nyata ke dalam bentuk teks. Lewat instrumen ini, pembaca tidak cuma diajak membaca visual kata, tetapi juga diajak “mendengar” peristiwa yang disajikan.
Asal-Usul Onomatope
Secara etimologi, kata onomatopoeia berasal dari bahasa Latin yang berakar dari bahasa Yunani Kuno: onoma (nama) dan poein (membuat). Jika digabungkan, onomatopoiia secara harfiah berarti “pembentukan nama” atau “membuat kata”.
Mengutip buku Linguistik Mikro (Kajian Internal Bahasa dan Penerapannya) (2020) karya Yusri dan Mantasiah R., onomatope sering disebut sebagai tiruan bunyi, yaitu proses pemberian nama pada suatu kata berdasarkan bunyi yang dihasilkannya.
Meskipun sumber bunyinya sama, tiap bangsa punya persepsi unik dalam mengelompokkan dan menirukan suara tersebut. Di Indonesia, suara hewan seperti ayam diwakili kukuruyuk, kucing dengan meong, dan anjing dengan guk-guk. Begitu pula peristiwa sehari-hari seperti gedebuk untuk benda jatuh, hingga kriuk untuk tekstur makanan renyah.
Fungsi Onomatope dalam Karya Sastra
Banyak digunakan dalam cerita anak, komik, hingga karya sastra modern, onomatope memegang peranan krusial untuk membangun emosi pembaca:
- Menciptakan Efek Imajinatif: Memancing audiens untuk mendengar secara mental bunyi yang dimunculkan.
- Menghidupkan Suasana: Membangun tensi dan ketegangan pada adegan-adegan dramatis.
- Mewakili Ekspresi Emosional: Menegaskan gejolak batin tokoh, seperti penggunaan kata hiks untuk menggambarkan tangis yang tertahan.
Eksplorasi Onomatope dalam Berbagai Bahasa di Dunia
- Bahasa Inggris: Banyak ditemui dalam komik dan fiksi, seperti woof (anjing), splash (kecipak air), buzz (dengung lebah), hingga click (suara jepretan).
- Bahasa Jepang (Giongo & Gitaigo): Membagi onomatope menjadi Giongo untuk peniru suara fisik (piyopiyo untuk anak ayam) dan Gitaigo untuk peniru keadaan/perasaan tanpa suara (wakuwaku untuk perasaan bersemangat).
- Bahasa Thailand: Punya karakteristik unik yang kaya nada dan vokalisasi vokal panjang. Suara hewan diekspresikan secara unik seperti hong-hong (anjing), meow-meow (kucing), atau jaab-jaab (kicauan burung). Bunyi aksi juga sangat ekspresif, seperti tueng (suara benturan keras).
Dunia Lisbeth Juga Dilengkapi Onomatope
Keajaiban eksplorasi bunyi ini terasa kian istimewa dalam novel Dunia Lisbeth karya Grace Tioso. Penggunaan onomatope di dalamnya diusulkan langsung oleh teman Tuli yang ingin tahu bagaimana wujud suara dari benda-benda yang mereka lihat sehari-hari. Lewat pilihan kata peniru bunyi tersebut, cerita ini menjembatani persepsi rasa, detak emosi, dan getaran suasana di tengah keheningan yang dialami para tokoh utamanya, Lisbeth dan Bryan.
Lewat kisah Lisbeth dan Bryan dalam Dunia Lisbeth, pembaca diajak melihat representasi dunia Tuli secara lebih akurat, termasuk penggunaan BISINDO (Bahasa Isyarat Indonesia) yang berkembang secara alamiah di komunitas Tuli. Tidak berhenti di situ, novel ini juga mengangkat sisi menarik dari franchise world dan industri F&B—sebuah realita di balik segelas bubble tea yang kerap kita nikmati tanpa tahu pergulatan seru di dalamnya.
Sinopsis Dunia Lisbeth
Dunia Lisbeth sunyi. Tanpa suara. Namun, hening tak berarti tenang. Tak bisa mendengar bukan berarti hidupnya tenteram.
Lisbeth pintar, tetapi bicara sukar. Berbakat, tetapi sulit diterima masyarakat. Sekolah Tuli Maitra yang dia bantu dirikan dan kelola, kini dalam kondisi goyah. Butik pengantinnya yang baru dibuka, terancam gulung tikar.
Saat itulah, dunia Lisbeth bersinggungan dengan seorang pria. Bryan, pengurus kafe boba di ruko sebelah.
Dunia Bryan ingar. Penuh sindiran, hinaan, makian. Dari orang-orang terdekat. Dari keluarga yang seharusnya menjadi pendukung terberat. Lisbeth orang pertama yang membuatnya merasa didengar. Lisbeth wanita pertama yang benar-benar menimbulkan sesuatu pada hatinya. Namun, hati Lisbeth sendiri seakan-akan bergeming.
[Kamu tidak Tuli. Tidak bisa mengerti aku.]
Hanya dua kalimat, tetapi dinding penghalang itu menjulang, dan dunia Bryan guncang.
Penasaran dengan perjalanan kisah Lisbeth dan Bryan serta indahnya eksplorasi rasa di dalamnya? Baca selengkapnya novel Dunia Lisbeth karya Grace Tioso!
Awita Ekasari/Content Writer Mizanstore
Sumber: Artikel diolah dari berbagai sumber dengan penyesuaian
https://www.kompas.com/skola/read/2021/08/25/153231769/apa-itu-onomatope-dalam-bahasa-indonesia
https://balaibahasajateng.kemendikdasmen.go.id/2020/09/onomatope
https://balaibahasariau.kemendikdasmen.go.id/artikel/onomatope-1771374786