“Perempuan harus berpendidikan tinggi, karena ia adalah madrasah pertama bagi anak-anaknya.”
Kita sering mendengar kalimat itu diulang-ulang dalam seminar, pidato tokoh, hingga caption media sosial yang niatnya memotivasi. Sepintas, kalimat ini terdengar seperti pujian mulia bagi perempuan. Namun, jika kita bedah pelan-pelan, ada sesuatu yang terasa menyesakkan di sana. Mengapa hak perempuan untuk menempuh pendidikan harus selalu diberikan “syarat” atau pembenaran demi orang lain?
Pendidikan sebagai Hak, Bukan Sekadar Alat
Sesuai Pasal 31 UUD 1945, pendidikan adalah hak dasar setiap warga negara. Titik. Tidak ada catatan kaki yang mengatakan perempuan berhak sekolah hanya jika ia berencana menjadi ibu.
Jika dulu hambatan bagi perempuan datang dalam bentuk pelarangan akses pendidikan secara terang-terangan, kini hambatan itu hadir dalam bentuk yang lebih halus: sebuah tuntutan moral. Pendidikan perempuan seolah-olah baru dianggap ‘berharga’ jika ia berhasil mencetak generasi yang cerdas, sebuah narasi yang lagi-lagi mengurung nilai seorang perempuan hanya sebatas fungsi pengasuhannya saja. Narasi ini seolah-olah memberdayakan, padahal tetap membatasi tujuan perempuan belajar hanya untuk mempersiapkan diri mengasuh anak.
Pisau Bermata Dua bagi Perempuan
Narasi “madrasah pertama” ini bisa menjadi pisau bermata dua. Di satu sisi ia mendorong perempuan untuk belajar, namun di sisi lain ia menciptakan standar moral yang berat.
Pertama, ia memberikan beban tunggal pada pundak ibu. Jika seorang anak dianggap kurang cerdas atau gagal secara akademik, masyarakat akan dengan cepat menunjuk jari pada sang ibu. Padahal, mendidik anak adalah kerja kolektif. Ada peran ayah yang krusial, ada peran lingkungan, dan ada tanggung jawab negara dalam menyediakan gizi serta fasilitas pendidikan yang layak.
Kedua, narasi ini seolah-olah “mengecilkan” perempuan yang karena faktor ekonomi atau keadaan tidak sempat mencicipi bangku kuliah. Kita harus ingat bahwa pemberdayaan tidak hanya lahir dari gelar akademik, tapi juga melalui kerja, komunitas, dan peran sosial lainnya yang mereka jalani dengan tangguh.
Hilangnya Sosok Ayah dalam Narasi Pendidikan Anak
Hal yang paling ironis adalah absennya peran laki-laki dalam narasi ini. Berbagai penelitian psikologi menekankan bahwa keterlibatan ayah secara aktif dalam pengasuhan sangat berpengaruh pada perkembangan kognitif dan emosional anak. Menaruh seluruh beban pendidikan anak pada ibu bukan hanya tidak adil bagi perempuan, tapi juga merugikan sang anak yang kehilangan figur pendidik dari ayahnya sendiri.
Menghidupkan Kartini dalam Setiap Langkah
Peringatan Hari Kartini di era saat ini bukan hanya tentang mengenang masa lalu, tetapi juga tentang menatap masa depan. Generasi muda, baik laki-laki maupun perempuan, perlu memahami bahwa perjuangan Kartini adalah perjuangan untuk menciptakan masyarakat yang adil dan setara. Pendidikan, teknologi, dan kesadaran sosial harus dimanfaatkan untuk menghapus hambatan yang masih dihadapi perempuan.
Pemerintah, masyarakat sipil, dan individu harus bekerja sama untuk memastikan bahwa setiap perempuan memiliki kesempatan untuk bermimpi, berkarya, dan berkontribusi tanpa batasan. Semangat Kartini mengajarkan kita bahwa perubahan dimulai dari keberanian untuk bermimpi dan bertindak.
Merayakan Kedaulatan Perempuan
Sudah saatnya kita memaknai ulang pendidikan perempuan. Perempuan berhak sekolah tinggi karena ia adalah manusia yang punya akal dan rasa. Ia berhak cerdas untuk dirinya sendiri. Mau ia menjadi ibu rumah tangga, wanita karier, atau memilih untuk tidak memiliki anak sekalipun, pendidikannya tidak pernah sia-sia.
Di era yang penuh peluang ini, mari kita wujudkan visi Kartini dengan terus memperjuangkan kesetaraan, memberdayakan perempuan, dan membangun masa depan yang lebih inklusif untuk semua. Karena perempuan yang paling berdaya adalah ia yang bisa memilih jalannya sendiri tanpa perlu beban pembenaran dari siapa pun.
Awita Ekasari/Content Writer Mizanstore
Sumber: (diolah dari berbagai sumber dengan penyesuaian)
https://magdalene.co/story/pendidikan-perempuan-bukan-sekadar-jadi-ibu
https://rri.co.id/semarang/regional/644854/hari-kartini-ini-tantangan-perempuan-masa-kini