Mengenal Human Library: Saat Manusia Menjadi “Buku” yang Bisa Kamu Baca

Pernahkah kamu menilai seseorang hanya dari penampilannya, lalu ternyata setelah kenal dekat, dugaanmu salah besar? Menghakimi orang lain berdasarkan asumsi atau stereotipe adalah hal yang sering tanpa sadar kita lakukan. Nah, untuk menjembatani perbedaan inilah sebuah gerakan unik bernama Human Library (Perpustakaan Manusia) hadir.

https://readinggarden.humanlibrary.org/

Di Human Library, kamu tidak akan menemukan deretan buku kertas atau digital. Di sini, kamu membaca “Buku Manusia” lewat sebuah dialog terbuka.

Bagaimana Cara Kerjanya?

Para “Buku” di perpustakaan ini adalah orang-orang yang pernah mengalami penghakiman, stigma, atau diskriminasi karena perbedaan latar belakang atau pengalaman hidup mereka. Setiap orang memiliki “judul” uniknya masing-masing berdasarkan stigma yang melekat pada mereka.

Membaca “Buku” di sini berarti kamu bebas mengobrol dan mengajukan pertanyaan langsung kepada mereka untuk memahami arti di balik “judul” tersebut. Menariknya, setiap sesi “membaca” atau berdialog personal ini memiliki durasi waktu yang sudah ditentukan, biasanya sekitar 30 menit.

Human Library menyediakan ruang aman (safe space) di mana kamu bebas menanyakan apa saja tanpa perlu takut dihakimi balik. Ini adalah kesempatan emas bagi kita sebagai pembaca untuk membongkar asumsi dan prasangka buruk yang mungkin selama ini kita pendam.

Dialog Tanpa Batas: Human Library menciptakan ruang diskusi khusus tempat hal-hal tabu bisa dibahas secara terbuka dan jujur tanpa adanya kecaman. Tempat di mana orang-orang yang biasanya tidak pernah mengobrol, akhirnya bisa duduk bersama dan saling memahami. Karena waktunya terbatas, kamu disarankan untuk langsung bertanya secara to-the-point tanpa perlu berbasa-basi.

Panduan Cara Meminjam “Buku”

https://readinggarden.humanlibrary.org/

Lalu, bagaimana sih prosedur untuk meminjam dan mengobrol dengan para “buku” ini? Jika kamu berkunjung ke markas mereka di Kopenhagen, Denmark, kamu bisa mendatangi area bernama Reading Garden. Tempat terbuka ini menjadi lokasi publik utama bagi siapa saja yang ingin merasakan pengalaman unik ini.

Sama seperti perpustakaan konvensional, alur peminjamannya pun sangat terstruktur:

  1. Disambut Pustakawan: Saat pertama kali datang, kamu akan langsung disambut oleh pustakawan yang bertugas.
  2. Memilih Topik: Di meja pustakawan, kamu bisa melihat daftar topik apa saja yang tersedia untuk “dibaca” pada hari itu.
  3. Registrasi: Kamu wajib mendaftarkan diri terlebih dahulu untuk mendapatkan kartu perpustakaan, sekaligus membaca lembar Aturan untuk Pembaca.
  4. Bertemu dengan “Buku”: Setelah menentukan topik yang diinginkan, pustakawan akan mempertemukan dan memperkenalkan kamu langsung dengan “buku” pilihanmu.

Serunya lagi, kamu tidak harus datang sendirian. Jika kamu berkunjung bersama teman-teman, satu “buku” bisa dipinjam bersama-sama untuk dibaca berkelompok hingga maksimal 5 orang. Suasana mengobrolnya pun jadi terasa seru seperti sedang diskusi grup!

Asal-usul Human Library

Gerakan ini awalnya bernama “Menneskebiblioteket” dalam bahasa Denmark. Melansir dari situs resminya, Human Library pertama kali diinisiasi di Kopenhagen pada musim semi tahun 2000 oleh seorang aktivis hak asasi manusia (HAM) bernama Ronni Abergel, bersama saudaranya Dany, serta dua rekan kerjanya, Asma Mouna dan Christoffer Erichsen. Keempat pendiri ini berhasil menciptakan sebuah platform belajar yang sangat unik dan inovatif.

Acara perdana mereka berlangsung selama empat hari berturut-turut dengan durasi delapan jam per hari, serta menghadirkan lebih dari 50 “judul buku” manusia yang berbeda. Antusiasme masyarakat luar biasa. Lebih dari seribu pembaca datang dan memanfaatkan kesempatan ini untuk menantang cara pandang mereka sendiri. Kesuksesan besar ini membuat para pembaca, “buku”, pustakawan, hingga penyelenggara kagum dengan dampak positif yang dihasilkan.

Saat ini, Human Library Organisation (HLO) telah menjadi organisasi nirlaba internasional resmi yang bermarkas di Kopenhagen, Denmark. Gerakan ini telah berekspansi secara global ke enam benua dan aktif di lebih dari 80 negara dengan dukungan ribuan sukarelawan. Karena konsepnya yang unik, nama Human Library kini telah menjadi merek dagang terdaftar yang penggunaannya memerlukan izin tertulis dari organisasi.

Misi Utama: Pendidikan, Keberagaman, dan Inklusi

Sebagai platform pembelajaran global yang inovatif, Human Library masuk ke berbagai sektor—mulai dari sekolah menengah, universitas, pelatihan medis, hingga komunitas masyarakat. Tujuannya satu: meningkatkan pemahaman tentang keberagaman demi menciptakan masyarakat yang lebih inklusif dan harmonis di tengah perbedaan budaya, agama, sosial, dan etnis.

Selain di dunia pendidikan, Human Library juga menawarkan Pelatihan Keberagaman, Kesetaraan, dan Inklusi (DEI) untuk perusahaan-perusahaan besar dunia. Pelatihan ini membantu karyawan meningkatkan empati sosial di lingkungan kerja sekaligus memperluas kesadaran budaya mereka saat berhadapan dengan klien.

Seru banget ya konsep perpustakaan manusia ini? Kita jadi bisa belajar toleransi langsung dari cerita hidup orang lain, bukan cuma lewat teori. Nah, kalau gerakan sekeren ini tiba-tiba ada di Indonesia, apakah kamu mau mencobanya?


Awita Ekasari/Content Writer Mizanstore

Sumber: Artikel diolah dari berbagai sumber dengan penyesuaian

https://humanlibrary.org/about

https://www.beautynesia.id/life/kenalan-dengan-human-library-di-denmark-bisa-pinjam-manusia-bukan-buku/b-301131/4

Bagikan ke Sekitarmu!
Mengenal Human Library: Saat Manusia Menjadi “Buku” yang Bisa Kamu Baca
Postingan terkait

This website uses cookies.