Singapura punya cara inovatif untuk mengajak warganya kembali menggemari buku. Melalui Dewan Perpustakaan Nasional (NLB) dan kampanye bertajuk ReadSG, masyarakat setempat kini bisa mendapatkan insentif berupa uang tunai hanya dengan meluangkan waktu untuk membaca.
Program yang mengusung konsep gamifikasi ini berupaya mengubah waktu luang untuk membaca menjadi koin digital melalui platform CrowdTaskSG milik GovTech.
Skema ini memang tidak akan membuat para penggemar buku kaya raya. Untuk mendapatkan 1 dollar SG (sekitar Rp 13.914), warga harus menyelesaikan 50 sesi membaca selama 50 hari. Setiap sesi membaca minimal 15 menit akan diberi 20 koin virtual. Koin tersebut harus dikumpulkan hingga 1.000 koin untuk bisa ditukar dengan uang. Aturannya, hanya satu sesi yang bisa dicatat per hari.
Program “dibayar untuk membaca” ini masih dalam fase uji coba hingga akhir tahun, dengan fitur dan peningkatan baru yang akan dikembangkan berdasarkan masukan warga.
Melawan Arus Konten Instan
Pemerintah Singapura memanfaatkan sistem poin dan rasa keterlibatan publik untuk membendung gempuran konten digital berdurasi singkat yang kerap merusak rentang fokus masyarakat.
Chief Executive NLB Singapura, Melissa Tam, mengungkapkan bahwa masyarakat modern terus-menerus dibombardir oleh kelimpahan informasi, video singkat, dan ringkasan serba cepat. Melalui kampanye ini, warga didorong untuk mengambil jeda sejenak selama 15 menit di tengah kesibukan harian—seperti saat naik transportasi umum, makan siang, atau menjelang tidur.
Menjaga Kebiasaan Membaca
Uniknya, inisiatif ini diluncurkan di negara dengan tingkat literasi yang sangat tinggi. Pada studi PISA 2025, pelajar berusia 15 tahun di Singapura berhasil meraih peringkat pertama dunia untuk kemampuan membaca, mengungguli negara-negara seperti China dan Taiwan.
Fakta tersebut menegaskan bahwa gerakan membaca 15 menit sehari ini tidak berfokus pada peningkatan kemampuan dasar membaca, melainkan menjaga agar tradisi membaca tetap hidup di tengah derasnya arus digitalisasi. Langkah ini menjadi pengingat sederhana bahwa membaca tidak harus menyita banyak waktu; cukup 15 menit yang konsisten untuk menggantikan kebiasaan scrolling media sosial yang berlebihan.
Awita Ekasari/Content Writer Mizanstore
Sumber: Artikel diolah dari berbagai sumber dengan penyesuaian