Dee Lestari adalah salah satu penulis Indonesia paling berpengaruh yang karya-karyanya kerap menjadi best seller, diadaptasi ke film, bahkan dibaca hingga ke luar negeri. Namun, sebenarnya perjalanan kariernya dimulai jauh sebelum namanya dikenal di jagat sastra. Bagaimana kisahnya? Ini dia rangkuman perjalanan dan jejak karya-karyanya.
Awal Kehidupan & Latar Belakang

Dewi Lestari, yang lebih dikenal dengan nama pena Dee Lestari, lahir di Bandung, Jawa Barat, pada 20 Januari 1976. Ia merupakan anak keempat dari lima bersaudara dari pasangan Yohan Simangungsong dan Tiurlan Siagian. Suasana keluarga Dee sangat kental dengan dunia seni; tiga kakak/adiknya aktif di bidang kreatif, mulai dari sutradara dan penulis skenario, pianis/jazz singer, hingga vokalis band indie-pop terkenal.
Dalam pendidikan formal, Dee menyelesaikan sekolahnya di Bandung, kemudian melanjutkan ke FISIP Universitas Parahyangan dan lulus dari jurusan Hubungan Internasional.
Karier di Dunia Musik

Sebelum menekuni dunia tulis-menulis secara penuh, Dee awalnya berkecimpung di dunia musik. Ia menjadi backing vocal untuk artis-artis besar seperti Iwa.K dan Chrisye, kemudian membentuk trio vokal bernama Rida, Sita, Dewi (RSD) yang sempat populer di tahun 90-an lewat lagu-lagu seperti “Antara Kita” dan “Kusadari”.
Di 2006, Dee merilis album solo berjudul Out Of Shell secara indie dengan single Simply. Meskipun telah meninggalkan RSD, ia tetap aktif berkarya di musik dan menciptakan lagu-lagu yang populer, termasuk beberapa yang dinyanyikan oleh penyanyi lain, seperti Kali Kedua (Raisa), Firasat (Marcel Siahaan), dan Perahu Kertas (Maudy Ayunda).
Tahun 2026 ini juga ia baru merilis single terbarunya yang berjudul “(Jangan) Jatuh Cinta” sebagai pembuka album solo ketiganya setelah 17 tahun. Lagu ini menandai kembalinya Dee ke dunia musik lewat proses penyembuhan emosional.
Transformasi Menjadi Penulis Bestseller

Tahun 2001 menjadi titik awal transformasi Dee ke dunia literasi. Ia menerbitkan novel pertamanya, Supernova: Ksatria, Puteri, dan Bintang Jatuh, yang langsung meraih status best seller. Novel ini membuka jalan bagi serial Supernova — termasuk Akar, Petir, Partikel, Gelombang, danInteligensi Embun Pagi — yang konsisten menjadi favorit pembaca hingga kini.
Dee juga menulis karya-karya fenomenal lain seperti:
- Filosofi Kopi (2006) — kumpulan cerita yang mendapat berbagai penghargaan sastra dan diterjemahkan ke bahasa lain dan sudah diadaptasi jadi film layar lebar.
- Rectoverso (2008) — karya yang menggabungkan musik dan sastra dan sudah diangkat menjadi film layar lebar.
- Perahu Kertas (2009) — selain novel populer, juga diadaptasi menjadi film layar lebar yang dibintangi Maudy Ayunda dan Adipati Dolken.
- Madre juga sudah difilmkan dan dibintangi Vino.G Bastian dan Laura Basuki serta Kepingan Supernova serta karya lainnya termasuk Aroma Karsa.
Beberapa novel Dee bahkan diterjemahkan ke bahasa asing, seperti Perahu Kertas versi bahasa Inggris. Sementara Filosofi Kopi versi bahasa Jepang menghubungkan kisah kopi dengan arti kehidupan secara mendalam.
Prestasi & Pengaruh Budaya

Berikut daftar karyanya meraih penghargaan,
- Book of The Year 2018, IKAPI Awards (Aroma Karsa)
The Most Influential Person in Publishing, IDEA FEST 2017 - Book of The Year 2016, IKAPI Awards (Supernova: Inteligensi Embun Pagi)
Anugerah Pembaca Indonesia 2016: Penulis Favorit dan Buku Favorit (Supernova: Inteligensi Embun Pagi) - PNFI Awards 2016 (Portal Novel Fantasi Indonesia): Author of The Year, Book(s) of The Year (Serial Supernova), Best Indonesian Fantasy Novel (Supernova: Inteligensi Embun Pagi)
- Anugerah Pembaca Indonesia 2015: Penulis Favorit dan Buku Favorit (Supernova: Gelombang)
- Penghargaan Sastra Badan Pengembangan & Pembinaan Bahasa 2012 – Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan untuk buku Madre
- Top 10 Khatulistiwa Literary Award 2010 (Perahu Kertas)
- Writer Of The Year 2008 versi Prestige Magazine
- Top 5 Khatulistiwa Literary Award 2006 (Filosofi Kopi)
- Karya Sastra Terbaik 2006 versi Majalah Tempo untuk Filosofi Kopi
- Anugerah Musik Indonesia (AMI Award) 2005, Nominator kategori Lagu Pop Terbaik (Firasat)
- Top 10 Khatulistiwa Literary Award 2003 (Supernova: Akar)
- Top 5 Khatulistiwa Literary Award 2001 (Supernova: Ksatria, Puteri, dan Bintang Jatuh)
Adaptasi film seperti Perahu Kertas, Rectoverso, Madre, dan Filosofi Kopi juga sukses menarik banyak penonton, memperluas pengaruh karya Dee dari buku ke layar lebar.
Kabar Terbaru: Serial Netflix & Teater Musikal

Baru-baru ini, Netflix secara resmi mengumumkan bahwa tiga novel best seller karya Dee Lestari — Rapijali, Perahu Kertas, dan Aroma Karsa — akan diadaptasi menjadi serial orisinal di platform streaming mereka. Ketiganya dipilih karena memiliki cerita dan pembangunan karakter yang kaya sehingga cocok untuk format serial.
- Rapijali rencananya akan digarap oleh Starvision.
- Aroma Karsa akan disutradarai oleh Kamila Andini.
- Perahu Kertas diproduksi bersama Visinema untuk versi serial Netflix.
Pengumuman ini disampaikan dalam sesi Netflix Creative Asia SEA pada ajang Jogja-Netpac Asian Film Festival (JAFF) pada 2 Desember 2025, menandai strategi Netflix dalam memperluas jangkauan konten berbasis karya sastra Indonesia ke panggung internasional.
Selain itu, novel Perahu Kertas juga akan hadir dalam bentuk teater musikal yang dipentaskan di Jakarta. Pementasan ini direncanakan berlangsung mulai 30 Januari hingga 15 Februari 2026, menghadirkan kisah ikonik Kugy dan Keenan dalam format panggung yang magis dan musikal.
Deretan Buku Non-Fiksi

Di balik dunia fiksi yang kaya imajinasi, Dee juga menulis non-fiksi yang membuka ruang refleksi dan “dapur kreatif”nya:
- Di Balik Aroma Karsa — Membongkar proses riset dan penulisan Aroma Karsa: dari ide, riset penciuman, hingga pergulatan kreatif.
- Rantai Tak Putus — Menceritakan perjuangan dan perkembangan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Indonesia, khususnya yang dibina oleh Yayasan Dharma Bakti Astra (YDBA),
- Tanpa Rencana — Catatan tentang merayakan ketidakterdugaan, spontanitas, dan makna di balik jalan yang tak selalu lurus.
- Selaras — Ajakannya untuk mencari keseimbangan antara diri, sesama, dan semesta; hidup lebih sadar dan hadir.
Buku-buku ini menegaskan Dee bukan hanya perangkai cerita, melainkan perenung kehidupan yang berbagi cara memaknai proses.
Mak Suri dan Semesta yang Terus Tumbuh
Julukan “Mak Suri” dari para pembaca lahir dari kedekatan dan keteladanan kreatif Dee. Dari musik ke novel, dari film ke serial Netflix, hingga teater musikal—karyanya terus menemukan rumah baru.
Dee Lestari membuktikan bahwa cerita yang jujur, riset yang tekun, dan imajinasi yang berani akan selalu relevan, baik itu di halaman buku, di layar, dan di panggung.
Kalau kamu, paling suka karya Mak Suri yang mana?
Awita Ekasari/Content Writer Mizanstore
(artikel diolah dari berbagai sumber dengan penyesuaian)
https://deelestari.com/id/blog
https://blog.mizanstore.com/dee-lestari-mengenal-mak-suri
