Lebaran selalu terasa hangat.
Takbir bergema. Notifikasi ucapan masuk tanpa henti. Timeline penuh foto keluarga berseragam.
Kita hidup di zaman ketika teknologi mempercepat segalanya termasuk cara kita meminta maaf.
Namun dalam bab “Teknologi Berperikemanusiaan” di buku Seni Menyikapi Hidup, kita diingatkan bahwa teknologi seharusnya membantu manusia menjadi lebih manusiawi, bukan sekadar lebih cepat dan efisien. Masalahnya bukan pada teknologinya, tetapi pada cara kita menyikapinya. Dan mungkin, itu juga berlaku pada Lebaran.
Lebaran di Era Serba Cepat
Hari ini, meminta maaf bisa cukup lewat broadcast message.
Silaturahmi bisa selesai lewat story dan video call.
Tidak salah. Tapi pertanyaannya: apakah hati kita ikut hadir?
Dalam buku ini dijelaskan tiga prinsip kunci yang diajarkan Gandhi:
self-awareness, self-control, dan harmony with nature.
Tiga hal ini terasa sangat relevan dengan momen Lebaran.
Self-Awareness: Sadar Diri Saat Meminta Maaf (hal.138)

Self-Awareness berarti kesadaran akan siapa diri kita sebenarnya—termasuk luka, ego, dan kelemahan kita.
Lebaran bukan hanya soal mengatakan “maaf,” tetapi tentang benar-benar menyadari di mana kita pernah salah. Tanpa kesadaran diri, maaf hanya menjadi formalitas sosial.
Puasa selama Ramadan melatih kita untuk melihat ke dalam. Lebaran adalah ujian: apakah kita masih membawa kesadaran itu?
Self-Control: Menahan Ego
Buku itu juga menekankan pentingnya self-control—kemampuan mengendalikan diri.
Tapi Lebaran menguji hal yang lebih sulit: menahan ego.
Menahan diri untuk tidak terpancing pertanyaan sensitif.
Menahan diri untuk tidak membalas sindiran.
Menahan diri untuk tidak merasa paling benar.
Karena sering kali yang merusak suasana bukan masalah besar, melainkan reaksi kecil yang tidak terkendali.
Harmony: Hidup Selaras, Bukan Dominan
Prinsip ketiga adalah harmoni, menempatkan diri sebagai bagian dari alam dan kehidupan, bukan pusatnya.
Lebaran sering kali membuat kita ingin terlihat sempurna: pakaian terbaik, rumah rapi, foto paling estetik. Tapi harmoni bukan tentang tampilan luar. Ia tentang keseimbangan batin.
Buku itu mengingatkan bahwa manusia harus memperhatikan dampak dari setiap langkahnya, termasuk bagaimana kita memperlakukan orang lain.
Apakah kehadiran kita membawa ketenangan?
Atau justru tekanan?
Lebaran sebagai Titik Dewasa
Mungkin Lebaran bukan tentang kembali menjadi suci secara instan.
Tapi tentang menjadi sedikit lebih dewasa dari tahun lalu.
Sedikit lebih sadar diri.
Sedikit lebih mampu mengendalikan reaksi.
Sedikit lebih lapang dalam memaafkan.
Di tengah dunia yang semakin cepat dan bising, mungkin yang kita butuhkan bukan lebih banyak teknologi, melainkan lebih banyak kebijaksanaan dalam menyikapinya. Karena pada akhirnya, yang membuat Lebaran bermakna bukan seberapa meriah perayaannya, melainkan seberapa tenang hati kita setelahnya.
Awita Ekasari/Content Writer Mizanstore
