Bagi kamu pencinta novel fiksi remaja (young adult), nama Zoulfa Katouh pasti sudah melekat erat di ingatan. Penulis terlaris keturunan Suriah ini sukses mengguncang dunia literasi lewat novel debutnya,As Long As the Lemon Trees Grow (2022). Di balik untaian kalimatnya yang puitis dan penuh emosi, Zoulfa ternyata memiliki sisi kehidupan dan proses kreatif yang sangat unik. Mulai dari latar belakang pendidikannya yang plot twist banget, hingga caranya melihat dunia lewat kacamata seni.
Penasaran ingin mengenal sosoknya lebih dekat? Yuk, simak fakta menarik tentang Zoulfa Katouh berikut ini!
Latar Belakang & Identitas

1. Gadis Kota yang Jadi “Arab Heidi”: Zoulfa lahir di Kanada dan berdarah Suriah. Ia sempat tumbuh besar di tengah kemegahan Dubai sebelum akhirnya menetap di Swiss. Perpindahan ini membuatnya merasa bertransformasi dari gadis kota menjadi tokoh “Heidi” versi Arab.
2. Menguasai Banyak Bahasa: Sebagai seorang trilingual, Zoulfa fasih berbicara dalam bahasa Inggris, Arab, dan Jerman. Serunya lagi, ia masih punya impian untuk menguasai bahasa Prancis dan Korea.
3. Pencetak Sejarah Literasi Dunia: Lewat As Long As the Lemon Trees Grow, Zoulfa resmi mencetak sejarah sebagai penulis Suriah pertama yang berhasil menerbitkan novel Young Adult berbahasa Inggris di pasar bergengsi Inggris dan Amerika Serikat.
Sisi Akademis
4. Seorang Ilmuwan dan Apoteker: Siapa sangka, penulis yang jago mengaduk-aduk emosi pembaca ini adalah lulusan STEM. Zoulfa memegang gelar Sarjana Farmasi dan Magister Ilmu Obat-obatan (Drug Sciences).
5. Melihat Sains sebagai Cerita Fantasi: Latar belakang sainsnya ini membuat Zoulfa punya cara pandang yang unik terhadap tubuh manusia. Baginya, tubuh adalah tokoh utama (protagonis), virus adalah musuh (antagonis), dan obat-obatan adalah senjata magis untuk menang. Persis seperti alur novel fantasi!
Proses Kreatif Menulis

6. Misi Merebut Kembali Nama “Jihad”: Tokoh utama di novel keduanya, The Ocean Would Paint Me Blue, sengaja diberi nama Jihad. Zoulfa ingin mendefinisikan ulang nama tersebut untuk melawan stigma negatif media Barat dan menunjukkan makna aslinya yang indah dan tangguh.
7. Terinspirasi dari Video Game Indie: Elemen magis di novel keduanya—di mana sang karakter utama kehilangan kemampuan melihat warna akibat duka mendalam—ternyata terinspirasi dari game indie berjudul Gris.
8. Prinsip “Draf Pertama yang Berantakan”: Zoulfa blak-blakan mengaku bahwa draf paling pertama dari semua proyek tulisannya selalu berantakan. Baginya, kunci utama menjadi penulis adalah terus melangkah dan mencintai cerita yang sedang ditulis.
Selera Seni & Buku Favorit
9. Impian Adaptasi ala Studio Ghibli: Jika novel pertamanya diadaptasi menjadi film, Zoulfa tidak ingin versi live-action. Impian terbesarnya adalah melihat kisah Salama dan Kenan diwujudkan dalam bentuk film animasi, mirip dengan estetika Studio Ghibli yang disukai kedua karakternya.
10. Pencinta Museum dan Musik Instrumental: Deskripsi latarnya yang sangat hidup lahir karena Zoulfa hobi menghabiskan waktu seharian di museum mengamati lukisan Monet, menghafal warna matahari terbenam, serta mendengarkan komposer seperti Ólafur Arnalds dan Ludovico Einaudi.
11. Buku Masa Kecil dan Inspirasi Young Adult (YA): Zoulfa tumbuh besar bersama buku Anne of Green Gables. Untuk genre YA, ia sangat mengagumi trilogi Inkheart (Cornelia Funke), Sadie (Courtney Summers), The Sun Is Also a Star (Nicola Yoon), dan Legendborn (Tracy Deonn).
12. Baking dan Fanfiction untuk Obat Writer’s Block: Saat terkena writer’s block, cara andalan Zoulfa adalah meninggalkan naskahnya sejenak untuk menulis fiksi penggemar (fanfiction), jalan-jalan ke hutan, atau sibuk membuat kue dan memasak di dapur.
Mengenal Zoulfa Katouh membuat kita sadar bahwa sebuah karya yang luar biasa lahir dari jiwa yang kaya akan pengalaman, empati, dan keberanian. Zoulfa membuktikan bahwa kita tidak perlu membatasi diri pada satu bidang saja—kamu bisa menjadi seorang ilmuwan sekaligus seniman yang menyuarakan perubahan. Semoga fakta-fakta perjalanan hidup Zoulfa ini bisa menjadi suntikan inspirasi buat kamu yang sedang berjuang meraih mimpi atau sedang merajut ceritamu sendiri, ya!
Jangan lupa ikutan pre-order The Ocean Would Paint Me Blue edisi bahasa Indonesia pada 7 Agustus 2026. Banyak bonus menarik dan limited edition (ilustrated edges) hanya selama masa PO.

Awita Ekasari/Content Writer Mizanstore
Sumber: artikel diolah dari berbagai sumber dengan penyesuaian
https://www.zoulfakatouh.com/new-page-2
https://www.bloomsbury.com/uk/discover/articles/interviews/interview-with-zoulfa-katouh
