Mengenal Indonesia nggak selalu harus lewat buku sejarah. Lewat novel, kita bisa menemukan banyak cerita tentang negeri ini tentang penjajahan, luka, identitas, ketidakadilan, hingga perjuangan.
Setiap bulan Agustus, kita kembali diingatkan pada perjalanan panjang Indonesia menuju kemerdekaan. Namun, sejarah Indonesia tidak hanya berisi tanggal, nama tokoh, atau peristiwa besar yang tercatat di buku pelajaran. Di baliknya, ada manusia dengan luka, harapan, konflik, dan perjuangannya masing-masing. Hal-hal tersebut juga bisa kita temukan lewat karya sastra.
Beberapa novel membawa kita kembali ke masa penjajahan, mengungkap sejarah yang sengaja dikubur, memperlihatkan pergulatan identitas, hingga mengajak kita melihat persoalan ketidakadilan yang terasa begitu dekat.
1. Perkumpulan Anak Luar Nikah
Bagaimana rasanya tumbuh dengan perasaan bahwa ada bagian dari identitasmu yang selalu membuatmu menjadi orang asing?
Perkumpulan Anak Luar Nikah karya Grace Tioso membawa kita pada kisah tentang identitas, keluarga, dan sejarah minoritas Tionghoa-Indonesia. Namun, jangan terkecoh dengan judulnya. “Anak luar nikah” di sini bukan sekadar tentang status kelahiran, melainkan menjadi metafora bagi mereka yang merasa tidak sepenuhnya diterima dan terus mencari tempat untuk merasa menjadi bagian dari negeri sendiri.
Melalui kisah para tokohnya, novel ini menyentuh persoalan tentang keluarga, asal-usul, dan bagaimana sejarah sebuah kelompok minoritas turut membentuk kehidupan generasi setelahnya.
Di balik cerita personal para tokohnya, pembaca diajak melihat Indonesia dari sisi yang mungkin jarang dibicarakan: tentang mereka yang hidup di tengah masyarakat, tetapi tetap bergulat dengan pertanyaan tentang siapa diri mereka dan di mana sebenarnya rumah mereka.
Perkumpulan Anak Luar Nikah menunjukkan bahwa mengenal Indonesia juga berarti memahami beragam identitas dan pengalaman yang membentuk negeri ini.
2. Bangkol (2024-1934)
Bagaimana jika sebuah kampung menyimpan rahasia kelam yang tidak boleh dibicarakan siapa pun?
Itulah yang dialami Singgih Pramu Wardana atau Pram dalam Bangkol.
Sejak kecil, Pram dibuat penasaran dengan Bangkol, sebuah kampung Jawa di pedalaman Sumatra yang dianggap terkutuk. Rasa penasarannya semakin besar ketika ia bertemu Evelin van Bertha, mahasiswi Leiden yang memiliki kalung dengan foto hitam-putih yang mengingatkannya pada foto di rumah kakek-neneknya.
Awalnya, Pram hanya membantu Evelin melakukan penelitian tentang sejarah kapal-kapal yang ditenggelamkan di pesisir barat Sumatra. Namun, ketika Evelin tiba-tiba menghilang, ia mulai menghubungkan berbagai potongan misteri yang membawanya kembali ke Bangkol.
Di sana, tersimpan sejarah kelam sejak zaman penjajahan: kerja paksa, perang, pengkhianatan, dan pembantaian.
Semakin dalam Pram menggali, semakin jelas bahwa masa lalu Bangkol bukan sekadar legenda tentang kampung terkutuk.
Novel ini mengajak kita melihat bahwa sejarah tidak selalu tersimpan di tempat yang mudah ditemukan. Ada pula sejarah yang sengaja disembunyikan.
3. Pangeran dari Timur
Jauh sebelum Indonesia menjadi negara merdeka, Raden Saleh telah membawa identitas tanah kelahirannya hingga ke Eropa.
Dalam Pangeran dari Timur, kita mengikuti kisah Raden Saleh yang masih muda ketika dipisahkan dari keluarganya di Terbaya, Semarang, menjelang berakhirnya Perang Jawa. Bakat melukisnya membuat ia dikirim jauh ke Belanda.
Di tanah yang begitu jauh dari Jawa, Raden Saleh mengembangkan kemampuannya dan melukis sejarah serta kehidupan di Eropa. Namun, sejauh apa pun ia pergi, identitas sebagai orang Jawa tetap melekat dalam karya dan kehidupannya.
Novel ini juga menghadirkan Syamsudin dan Ratna Juwita, serta Syafei dengan semangat pemberontakannya. Kisah mereka berpadu dengan gejolak sosial-politik sebuah bangsa yang sedang mencari jalan menuju kemerdekaan.
Pangeran dari Timur mengingatkan kita bahwa mengenal Indonesia juga berarti memahami bagaimana identitas dan rasa memiliki terhadap tanah air dapat terus hidup, bahkan ketika seseorang berada jauh darinya.
4. Rahasia Salinem
Memasak memang tentang takaran. Mungkin, hidup begitu juga. Kalau pas, bisa mencerahkan.”
Apa yang terjadi ketika sebuah resep masakan ternyata menyimpan lebih dari sekadar cita rasa?
Dalam Rahasia Salinem, kematian Mbah Nem justru membuka rahasia besar tentang keluarga Tyo. Ia baru mengetahui bahwa perempuan yang selama ini dianggap sebagai neneknya ternyata bukan nenek kandungnya. Dari sana, Tyo mulai menelusuri masa lalu Mbah Nem dan menemukan sebuah resep bumbu pecel yang menjadi bagian penting dari sejarah keluarganya.
Resep tersebut bukan sekadar warisan keluarga. Di tengah gejolak revolusi, resep itu pernah menjadi jalan untuk menyelamatkan sebuah keluarga di Surakarta.
Lewat kisah Salinem, seorang abdi dalem keluarga bangsawan, novel ini membawa kita menyusuri masa ketika perang, perlawanan, dan pergolakan politik menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Di balik sepiring pecel, tersimpan kisah tentang cinta, kesetiaan, kehilangan, dan perjuangan untuk bertahan hidup.
Rahasia Salinem mengingatkan kita bahwa sejarah bisa tersimpan di tempat-tempat yang paling sederhana, bahkan dalam sebuah resep yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
5. Tanah Para Bandit
Bagaimana jika tinggal di sebuah tempat yang membuat batas antara penjahat dan orang terhormat menjadi semakin kabur? Itulah gambaran yang muncul dalam Tanah Para Bandit.
Novel ini membawa kita ke sebuah tempat di mana segala sesuatu seolah dapat diatur selama ada uang. Yang tidak layak bisa dibuat memenuhi syarat, yang bersalah bisa dibuat terlihat benar, dan hak orang lain bisa dirampas begitu saja.
Di tengah situasi tersebut, hadir sosok yang sejak usia lima belas tahun menemukan sebuah tempat rahasia di tengah hutan lebat Bukit Barisan.
Kisahnya kemudian membawa pembaca menyaksikan sebuah dunia yang telah terbiasa dengan kebohongan, kemunafikan, dan ketidakpedulian.
Tanah Para Bandit memperlihatkan bagaimana ketidakadilan bisa menjadi semakin berbahaya ketika dianggap sebagai sesuatu yang biasa.
Mungkin, itulah salah satu kekuatan novel: membuat sejarah dan persoalan sebuah negeri terasa lebih dekat karena kita melihatnya melalui kehidupan manusia.
Jadi, di momen Kemerdekaan ini, kita tidak harus selalu membuka buku sejarah untuk mengenal Indonesia. Karena semakin banyak cerita yang kita baca, semakin banyak pula sisi Indonesia yang bisa kita kenal. Dapatkan semua buku-bukunya di Mizanstore, ada diskon khusus selama momen kemerdekaan di promo merdeka membaca. Cek selengkapnya di sini!
Awita Ekasari/Content Writer Mizanstore





