Barangkali, sebagai penduduk yang tinggal di negeri dengan dua iklim saja, kita tidak mengenali betapa cinta bisa tumbuh di musim dingin yang bersalju. Betapa berbahayanya musim semi, ketika bunga bermekaran, dan hati menjadi lahan yang subur untuk menumbuhkan cinta. Atau barangkali, cinta sekejap yang muncul saat liburan musim panas. Juga hati, yang barangkali berduka seiring musim gugur.

Secangkir Petang Panjang di Central Park disajikan oleh Bondan Winarno meringankan dahaga ketika menikmati waktu istirahat. Entah dibaca saat pagi, siang, sore, maupun malam, kehangatannya selalu terasa seperti terpaan matahari petang yang enggan disebut menjemukan. Sebuah sajian mantap yang dapat menjadi perenungan dalam bentuk kumpulan cerpen yang menenangkan sekaligus mencerahkan.

Kaget mendengar nama Bondan Winarno sebagai penulisnya? Merasa mengenal namanya untuk profesi yang berbeda? Samakan Bondan yang kamu kenal dengan Bondan yang menulis buku ini?

Kamu mungkin mengenalnya sebagai pencicip makanan enak yang “makyus” dari sebuah program televisi. Akan tetapi, perlu kamu tahu bahwa sebelum acara kuliner tersebut membesarkan namanya, Bondan lebih dahulu jatuh cinta pada dunia penulisan. Bondan Winarno sempat menjadi wartawan, copy writer, dan stringer, serta pengalaman melancong ke mancanegara.

pexels-photo-241250

ilustrasi taman (image from pexels.com)

Pada masanya, cerpen-cerpen Bondan menghiasi rubrik di koran, majalah, bahkan memenangi sayembara menulis. Cerita-cerita yang didapatnya dari petualangannya ke berbagai tempat di dunia membuat pembacanya turut ikut menyekanu cerita dari Indonesia Timur, perbatasan Filipina, jalanan metropolis Paris, bahkan kota yang tak pernah tidur seperti New York.

Sebagian besar ceritanya tentang cinta yang tak pernah habis menjadi bahan perbincangan manusia. Cerita wartawan-wartawan yang melakukan perjalanan kerja, bertemu seorang gadis yang menawan, jatuh cinta, dan selalu menantikan pertemuan-pertemuan selanjutnya. Ada pula kisah para lelaki yang cemburu dengan nahkota kapal di Indonesia Timur, kisah pria beristri yang jatuh cinta dengan pelayan tempat makan siang favoritnya, serta masih banyak cerita lainnya yang sayang untuk dilewatkan.

Manuskrip Petang Panjang di Central Park adalah harta bagi kamu yang ingin mengenal Bondan Winarno melalui tulisannya. Ceceran cerita yang sepat muncul di koran, majalah, dan sempat dibukan juga dalam Pada Sebuah Beranda, kini dapat kamu nikmati 338 halaman yang meneduhkan.

Sekilas Setelah Membaca Petang Panjang Di Central Park

Saya memang bukan siapa-siapa. Maksud saya, apa begitu penting pendapat saya setelah membaca buku ini? Saya hanya pembaca biasa, penikmat  buku-buku lainnya dengan berbagai tema. Tapi jika boleh sedikit berbagi, tentu, tidak ada yang lain selain kekaguman dari rombongan cerita pendek Bondan melekat dalam ingatan.

Beberapa pendapat dari penulis ulung seperti Seno Gumira Ajidarma, Goenawan Muhammad, dan Maria Hartiningsih memang bukan isapan jempol belaka. Kamu harus membacanya sendiri untuk merasakan sajian yng dibuat oleh si ahli kuliner, Bondan Winarno.

pexels-photo-106130

ilustrasi taman (image from pexels.com)

Cerita-cerita diracik sedemikian rupa, tidak sedikit pun kekurangan garam, bumbunya, semuanya pas. Sederhana, tetapi enak untuk dibaca. Setiap pilu yang ingin dibagi, setiap luka yang tidak terperi, kesedihan, kesepian, kejutan, kekosongan, atau cinta semua sampai dalam diksi yang tidak rumit. Latar cerita yang berganti-ganti membawa pelajaran yang berbeda yang dapat ditarik dari berbagai sisi.

Nikmatilah suguhan ringan dalam bentuk cerita-cerita pendek karya Bondan Winarno ini. Mudah-mudahan kamu bisa mendapat manfaat dari setiap ceritanya seperti yang diharapkan oleh si penulis.

(banner image from pexels.com)

[Hanung W L/Copywriter Mizanstore]

Bagikan ke Sekitarmu!
Secangkir Petang Panjang di Central Park