Ada kalanya sebuah buku tidak hanya bercerita, tetapi juga membantu kita memahami perasaan yang selama ini sulit dijelaskan. Begitu pula dengan The Ocean Would Paint Me Blue, novel terbaru Zoulfa Katouh, penulis As Long as the Lemon Trees Grow.
Lewat kisah Jihad, perpaduan magical realism, seni, kenangan, dan perjalanan menghadapi kehilangan, novel ini mengajak kita melihat duka dan proses penyembuhan dari sudut pandang yang begitu personal. Setelah membacanya, mungkin ada beberapa hal yang akan terasa lebih dekat dengan kehidupan kita sendiri.
1. Duka tidak selalu bisa dijelaskan dengan kata-kata

Kehilangan seseorang yang kita cintai bisa menghadirkan perasaan yang begitu rumit. Ada kesedihan, kerinduan, bahkan rasa kosong yang terkadang sulit diungkapkan.
Melalui perjalanan Jihad setelah kepergian ibunya, kita diajak memahami bahwa berduka bukan sekadar menangis atau merasa sedih. Ada kalanya duka membuat dunia terasa berbeda dan membutuhkan waktu panjang untuk benar-benar bisa menerimanya.
2. Menyembuhkan diri tidak harus selalu lewat kata-kata
Dalam novel ini, seni menjadi bagian penting dari perjalanan Jihad. Melalui lukisan dan mural, ia menemukan cara untuk mengekspresikan perasaan serta menyimpan kenangan tentang ibunya.
Dari sini, kita bisa memahami bahwa setiap orang punya cara berbeda untuk menghadapi luka. Bagi sebagian orang, mungkin dengan bercerita. Bagi yang lain, bisa lewat menulis, menggambar, mendengarkan musik, atau sekadar menciptakan sesuatu.
3. Kenangan bisa menjadi cara untuk tetap merasa dekat
Ada orang-orang yang memang sudah tidak bisa lagi kita temui, tetapi kenangan tentang mereka tetap tinggal.
Sketchbook peninggalan ibu Jihad menjadi salah satu jalan yang membawanya lebih dekat pada sosok yang telah pergi. Dari sana, kita diingatkan bahwa kehilangan tidak selalu berarti harus melepaskan semua yang pernah kita miliki bersama seseorang.
4. Proses pulih memang tidak selalu berjalan lurus
Mungkin kita sering membayangkan bahwa sembuh berarti suatu hari bangun dan tidak lagi merasa sedih. Padahal, kenyataannya tidak sesederhana itu.
Ada hari ketika kita merasa baik-baik saja, lalu tiba-tiba sebuah lagu, tempat, benda, atau kenangan membuat rasa kehilangan kembali muncul. The Ocean Would Paint Me Blue mengingatkan bahwa mundur selangkah dalam proses penyembuhan bukan berarti kita gagal. Kita hanya sedang menjadi manusia.
5. Kita berhak menemukan kembali warna dalam hidup

Ketika sedang berduka, hal-hal yang dulu terasa menyenangkan pun bisa kehilangan maknanya. Namun, perlahan-lahan, selalu ada kemungkinan untuk kembali menemukan hal-hal kecil yang membuat hidup terasa berarti.
Perjalanan Jihad memperlihatkan bahwa menemukan kebahagiaan setelah kehilangan bukan berarti kita melupakan orang yang telah pergi. Justru, kita belajar membawa kenangan itu bersama kita sambil terus menjalani hidup.
6. Orang-orang di sekitar kita bisa menjadi bagian dari proses penyembuhan

Keluarga dan persahabatan menjadi bagian penting dalam perjalanan Jihad. Salah satunya adalah Jamie, sosok yang hadir di tengah perjalanan Jihad ketika ia sedang berusaha memahami kehilangan dan dirinya sendiri.
Kehadiran Jamie menunjukkan bahwa terkadang, seseorang tidak perlu datang dengan jawaban untuk membantu kita melewati masa sulit. Ada kalanya, cukup dengan hadir, mendengarkan, atau menemani kita menjalani hari-hari yang berat, seseorang sudah memberikan ruang untuk kita perlahan pulih.
Sebab, kita memang tidak selalu membutuhkan orang yang bisa memperbaiki keadaan. Terkadang, kita hanya membutuhkan seseorang yang bersedia tetap tinggal ketika semuanya terasa berantakan.
7. Pada akhirnya, hidup akan selalu punya ruang untuk harapan
Di balik kisah tentang kehilangan, The Ocean Would Paint Me Blue juga merupakan cerita tentang menemukan kembali harapan. Tentang bagaimana seseorang perlahan belajar menerima masa lalu, memahami dirinya sendiri, dan berani membuka hati pada kemungkinan-kemungkinan baru.
Sebab, mungkin sembuh bukan tentang kembali menjadi diri kita yang dulu. Mungkin, sembuh adalah tentang menjadi seseorang yang baru dengan luka, kenangan, dan warna-warna yang kita bawa sepanjang perjalanan.
Awita Ekasari/Content Writer Mizanstore
Sumber: artikel diolah dari berbagai sumber dengen penyesuaian
https://www.goodreads.com/en/book/show/242805141-the-ocean-would-paint-me-blue
https://www.instagram.com/p/DcDu1x-GWkk/?img_index=1

