Gen Z memang tumbuh di era serba klik, serba cepat, dan serba instan. Tapi, justru karena terlalu terbiasa dengan semuanya yang bisa didapat dalam hitungan detik, mereka mulai mencari sesuatu yang nggak instan.
Dalam podcast Raditya Dika, Iqbaal Ramadhan sempat membahas soal ini: ada kenikmatan tersendiri ketika kita menjalani sebuah proses, bukan cuma mengejar hasil akhirnya. Makanya, nggak heran kalau earphone kabel, kamera analog, sampai buku fisik kembali dilirik. Ribet sedikit? Nggak masalah. Justru prosesnya yang bikin seru!
Nah, tren “lama” apa saja yang kembali dihidupkan Gen Z? Yuk, kita lihat!
1. Buku Fisik yang Selalu Menemani Ke Mana pun Pergi

Di tengah gempuran e-book dan audio digital, memegang buku kertas ternyata punya sensasi tersendiri yang nggak bisa digantikan. Aroma kertas baru, bunyi lembaran yang dibalik, hingga pengalaman menandai kutipan favorit pakai highlighter jadi momen mindful tersendiri di kala lelah scrolling medsos.
Fenomena ini pun terbukti lewat data! Menurut laporan Indonesia Millennial & Gen Z Report (IMGR) 2026 dari IDN Research Institute, sebanyak 41% Gen Z Indonesia masih rutin membaca buku fisik. Menariknya lagi, 58% responden mengaku membaca demi pengembangan diri dan menambah wawasan.
Tak bisa dimungkiri, kehadiran fenomena BookTok dan Bookstagram juga punya andil besar. Lewat video singkat berisi ulasan, rekomendasi hangat, hingga emotional reaction pascabaca, judul-judul buku fisik kembali mendadak viral, diburu di toko buku, dan ngetren di mana-mana! Ini membuktikan bahwa medsos dan buku fisik tak harus saling menggantikan, tapi justru bisa saling merangkul untuk menyalakan semangat membaca.
2. Perpustakaan Ramai Dikunjungi Kembali Sebagai Third Place

Bukan cuma kafe atau co-working space, kini perpustakaan publik makin ramai disatroni anak muda sebagai third place, ruang nyaman ketiga untuk beraktivitas di luar rumah dan tempat kerja. Suasana yang tenang, arsitektur yang estetik, serta ruang diskusi yang inklusif bikin perpustakaan jadi destinasi favorit buat me-time, silent book club, atau sekadar mencari ketenangan di tengah hiruk-pikuk kota.
Antusiasme ini terlihat nyata dari data yang dikutip dari Liputan6.com. Menurut catatan Dispusip DKI Jakarta, sepanjang Semester I 2026 saja, Perpustakaan Jakarta sudah menerima hingga 320.352 kunjungan (rata-rata sekitar 13 ribu pengunjung per pekan!). Bahkan, sejak kembali dibuka hingga menginjak usia empat tahun, total kunjungannya sudah menembus angka 1,96 juta orang.
Angka fantastis ini jadi bukti manis kalau perpustakaan bukan lagi tempat “berdebu” yang membosankan, melainkan ruang publik yang hidup bagi masyarakat untuk belajar, berdiskusi, berkarya, hingga membangun jejaring.
3. Earphone Berkabel (Wired Earphones) Kembali Jadi Tren

Saat dunia berlomba-lomba beralih ke wireless earbuds, Gen Z justru ramai-ramai balik ke kabel! Bukan sekadar ikut-ikutan tren, ada alasan-alasan simpel tapi relatable di balik populernya kembali earphone berkabel ini:
- Penunjang Fashion yang Penuh Nostalgia: Kabel yang terurai memberikan estetika khas Y2K, vintage, dan gaya cool & effortless yang pas banget buat melengkapi OOTD.
- Tanda ‘Jangan Diganggu’: Kabel yang melingkar jelas di telinga jadi sinyal visual tak tertulis ke orang sekitar kalau kamu lagi in the zone, baik saat asyik dengerin musik maupun fokus baca buku.
- Tak Ada Drama Kehabisan Baterai: Bebas dari rasa panik saat baterai habis tiba-tiba di tengah-tengah lagu favorit atau podcast yang lagi seru-serunya.
- Praktis, Tinggal Dicolok dan Langsung Pakai: Tanpa perlu ribet pairing Bluetooth atau nunggu terkoneksi, tinggal colok dan playlist favoritmu langsung siap menemani hari.
4. Kamera Analog Kembali Diburu di Era Serba Instan

Di tengah gempuran smartphone berkamera super canggih yang bisa mengambil ratusan foto dalam sekali klik, Gen Z justru jatuh cinta pada kamera analog. Dikutip dari Kompas.com, fotografi analog menghadirkan ritme yang bertolak belakang dengan kehidupan anak muda masa kini yang serba cepat, dipenuhi notifikasi, dan terbiasa dengan kepuasan instan.
Bukan cuma soal estetika retro, kamera analog menawarkan pengalaman yang sangat bermakna: proses menunggu dan belajar bersabar. Keterbatasan jumlah frame dalam satu roll film (biasanya hanya 27 atau 36 frame) “memaksa” kita untuk berpikir dua kali sebelum menekan tombol shutter: “Penting atau tidak momen ini diabadikan?”
Tanpa layar untuk langsung melihat hasilnya, setiap jepretan jadi terasa jauh lebih berharga, penuh kejutan, dan otentik. Sebuah cara unik bagi Gen Z untuk menikmati momen secara utuh di tengah riuhnya dunia digital!
5. Foto Cetak & Album Kenangan Kembali Diminati

Menyimpan ribuan foto di cloud atau gallery HP memang practical, tapi foto fisik yang bisa dipegang dan dipajang punya nilai sentimental yang jauh lebih dalam. Tren mencetak foto ala cetak polaroid dan menyusunnya rapi di album foto kini kembali populer sebagai cara Gen Z mengabadikan momen berharga bersama teman maupun keluarga.
Tren di atas membuktikan satu hal: secanggih apa pun teknologi berkembang, manusia akan selalu merindukan hal-hal yang terasa nyata dan bisa disentuh secara fisik—termasuk sebuah buku.
Kamu sendiri sudah baca buku fisik apa pekan ini? Jangan lupa lengkapi koleksi bacaan favoritmu di Mizanstore, ya!
Awita Ekasari/Content Writer Mizanstore
sumber: artikel diolah dari berbagai sumber dengan penyesuaian
https://www.idntimes.com/tech/gadget/alasan-gen-z-mulai-balik-ke-headset-kabel-c1c2-01-7cxy7-gf3g2h
https://medium.com/@salsabila-azzahra/tren-lagi-alasan-earphone-kabel-diminati-gen-z-d3c67622ce0a
https://www.liputan6.com/news/read/8249057/ramai-ramai-kembali-ke-perpustakaan
