Hari Ibu sering datang dengan daftar hal-hal yang ingin kita berikan: bunga, kue, hadiah cantik, atau ucapan manis di media sosial. Namun, di tengah semua itu, ada satu hal yang sering terlupa—ibu tidak pernah benar-benar meminta apa-apa. Ia terbiasa memberi, jauh sebelum kita belajar bagaimana caranya membalas.
Ibu hadir dalam hal-hal kecil yang sering kita anggap biasa. Bangun lebih pagi dari siapa pun. Mengingat detail yang bahkan kita lupa. Menyimpan lelahnya sendiri agar rumah tetap terasa hangat. Maka mungkin, kado untuk ibu tak harus besar atau mahal. Apa saja ya? Ini dia listnya!
1. Waktu Quality Time Bersama Ibu

Di antara semua kado, waktu adalah yang paling sering kita tunda. Padahal, bagi ibu, ditemani tanpa tergesa sering kali lebih berharga daripada apa pun. Duduk bersama sambil minum teh, mengobrol tentang hal-hal kecil, atau makan bersama tanpa layar di tangan—hal-hal sederhana ini adalah bentuk cinta yang nyata.
Waktu berkualitas bukan soal durasi, tapi kehadiran. Tentang benar-benar mendengarkan, bukan sekadar ada. Tentang membuat ibu merasa penting, bukan hanya di Hari Ibu, tapi di hari-hari biasa.
2. Waktu Me Time Ibu

Ibu sering lupa bahwa ia juga manusia. Ia terbiasa mendahulukan orang lain, sampai lupa bagaimana rasanya memikirkan diri sendiri. Karena itu, memberi ibu waktu me time bisa menjadi kado yang sangat bermakna.
Me time bukan bentuk egoisme. Ia adalah jeda. Waktu untuk bernapas, membaca, berjalan pelan, atau sekadar diam tanpa merasa bersalah. Dengan memberi ruang ini, kita seakan berkata: “Ibu juga berhak lelah. Ibu juga pantas beristirahat.”
3. Voucher Pijat/Belanja

Ada tubuh yang jarang mengeluh, tapi terus bekerja tanpa henti. Tubuh itu milik ibu. Voucher pijat atau relaksasi mungkin terlihat sederhana, tapi maknanya dalam. Ia adalah pengakuan bahwa kelelahan ibu nyata, dan layak dirawat.
Bukan soal tempatnya mewah atau tidak, tapi niat di baliknya. Tentang kepedulian pada tubuh yang selama ini menopang begitu banyak peran, tanpa banyak keluhan. Voucher belanja juga bisa kamu berikan sebagai bentuk self reward untuk ibu.
4. Memberikan Buku Favoritnya
Buku bisa menjadi ruang bagi ibu untuk kembali pada dirinya sendiri, membaca pelan-pelan, memahami, atau sekadar menikmati waktu tanpa tuntutan. Lewat halaman demi halaman, ibu diberi waktu untuk berhenti sejenak dari rutinitas. Terlebih jika buku yang diberikan adalah buku kesehatan, parenting, atau pengembangan diri, ia bukan hanya menjadi teman membaca, tetapi juga sumber pengetahuan yang menambah wawasan dan mendukung peran ibu dalam menjalani kesehariannya. Sebuah kado sederhana yang menenangkan sekaligus memberdayakan.
5. Surat Tulisan Tangan: Kata yang Tak Selalu Terucap

Ada banyak rasa yang sulit diucapkan langsung. Rasa terima kasih, penyesalan, atau cinta yang sering kita simpan karena merasa “ibu pasti sudah tahu”. Padahal, mendengarnya tetap penting.
Surat tulisan tangan, sesederhana apa pun isinya, bisa menjadi kado yang sangat personal. Beberapa kalimat jujur tentang betapa berharganya peran ibu sering kali lebih menyentuh daripada hadiah mahal.
6. Berikan Makanan Favoritnya

Makanan selalu punya cara sendiri untuk menyampaikan cinta. Memasak makanan kesukaan ibu, atau membelikannya tanpa diminta, adalah bentuk perhatian yang terasa nyata. Di balik satu piring makanan, ada pesan sederhana: “Aku ingat. Aku peduli.” Sebagai anak kamu pasti tahu apa makanan pantangan ibumu atau yang paling disukainya.
7. Doa: Kado yang Tak Terlihat, tapi Selalu Sampai

Pada akhirnya, ada kado yang tak bisa dibungkus. Doa. Ia sederhana, tapi penuh harap. Mendoakan ibu—kesehatannya, ketenangannya, kebahagiaannya—adalah bentuk cinta yang paling sunyi sekaligus paling tulus.
Hari Ibu bukan tentang siapa yang memberi hadiah paling besar. Ia tentang kesadaran. Tentang melihat ibu bukan hanya sebagai sosok yang kuat, tapi juga manusia yang perlu dipeluk, didengar, dan dirawat.
Kado untuk ibu tak harus mahal. Yang sederhana pun cukup, asal datang dari hati. Karena sering kali, yang paling ibu butuhkan bukan benda—melainkan perhatian, waktu, dan cinta yang dihadirkan sepenuh-penuhnya.
Awita Ekasari/Content Writer Mizanstore
