Pernah merasa reading slump atau sekadar malas berkomitmen dengan satu alur cerita yang panjangnya ratusan halaman? Kamu tidak sendirian. Terkadang, kita hanya ingin membaca sesuatu yang singkat, padat, tapi tetap meninggalkan kesan mendalam. Di sinilah buku antologi atau kumpulan cerpen dan puisi bisa menjadi penyelamat.
Tanpa perlu menunggu berhari-hari untuk sampai ke ending, deretan buku berikut menawarkan beragam rasa dan perspektif yang bisa kamu nikmati hanya dalam sekali duduk.
1. Tasbih Kupu-Kupu – Panji Sakti

Buku kumpulan puisi yang ditulis Panji Sakti ini merupakan bentuk kedewasaan seseorang dalam menempuh perjalanan hidup. Bukan cuma sekadar kata-kata, tapi dari makna dan paduan kata yang unik, persis seperti judul buku ini: Tasbih Kupu-Kupu. Gabungan kata “tasbih” dan “kupu-kupu” seolah mengajak logika kita terbang sejenak sambil bertanya-tanya, apa sebenarnya makna di baliknya?
Sejujurnya, Panji bukan ahli musik, lirik, apalagi puisi. Namun satu hal yang pasti, Panji selalu punya cara untuk membuat kita hanyut dalam setiap karya yang ia buat, baik itu melalui lagu, lirik, maupun untaian puisinya. Cocok buat kamu yang lagi cari inspirasi menulis puisi atau malas baca buku yang tebal karena antologi ini hanya berisi 136 halaman.
2. Tanpa Rencana – Dee Lestari

Buku ini adalah eksperimen Dee Lestari untuk menulis secara reflektif, personal, dan sesuai judulnya: tanpa rencana. Tema-tema tentang hubungan antar manusia, baik dengan keluarga maupun pasangan, dan latarnya mayoritas kelompok masyarakat urban akan cocok dengan pembaca Dee Lestari yang kebanyakan berasal dari lapisan sosial yang kurang lebih sama. Disertai ilustrasi yang memperkuat pengalaman menghayati bukunya secara utuh. Tanpa Rencana berisi kumpulan cerpen yang berasal dari pengalamannya. Cocok buat kamu yang nggak mau terikat dengan satu cerita panjang.
3. Rectoverso – Dee Lestari

Rectoverso adalah kumcer (kumpulan cerpen) yang terdiri dari 11 kisah, di antaranya: Curhat Buat Sahabat, Malaikat Juga Tahu, Hanya Isyarat, Peluk, Grow A Day Older, Cecak Di Dinding, Firasat, Tidur, Back to Heaven’s Light. Rectoverso telah diangkat menjadi film layar lebar yang tayang pada 2013 lalu. Membaca Rectoverso tidak akan membuatmu bosan karena kamu bisa memilih 11 cerita yang berbeda dan semuanya seru!
4. Ruang Tengah Ingatan – Prilly Latuconsina

Ruang Tengah Ingatan menjadi buku ketiganya setelah dua buku sebelumnya yang berjudul 5 Detik Rasa Rindu dan Fatamorgana. Buku ketiga dari Prilly Latuconsina ini berisi kumpulan puisi hasil pengalamannya sendiri. Hanya terdiri dari beberapa baris, tapi setiap baitnya kuat secara emosional. Banyak permainan diksi dan metafora yang sederhana khas gaya penulisan Prilly Latuconsina. Membacanya akan membuat kamu menemukan banyak diksi menarik yang mungkin belum pernah kamu baca atau dengar sebelumnya.
5. Retak,Luruh,Kembali Utuh – Prilly Latuconsina

Buku Retak, Luruh, Kembali Utuh memiliki 3 fase, yang pertama fase “Retak” yang terinspirasi dari banyak kisah patah hati yang ia alami ataupun dari orang-orang sekitarnya yang pernah hancur. Lalu selanjutnya ada fase “Luruh”, di fase ini seseorang mulai berusaha melepaskan kesedihan sedikit demi sedikit walaupun terasa berat.
Terakhir, ada fase “Kembali Utuh” di sinilah akhirnya kita menemukan diri sendiri, bagian dulu yang hancur perlahan menemukan rumahnya. Di fase ini pula lahir puisi-puisi yang terinspirasi dari seseorang yang hadir di hidupnya, yaitu pasangannya saat ini (Omara Esteghal)
6. Keluarga Dan Silsilah Suka Duka – Ismail Basbeth

Kronologi hidup manusia ditulis dengan banyak cara. Alih-alih menggunakan linimasa atau buku biografi, Ismail Basbeth memilih memaparkan deretan karya cerita yang ditulisnya sebagai caranya menginterpretasi segala fenomena di sekelilingnya.
Ada kisah Paijo yang merasa kehilangan akar di tanah kelahirannya dalam cerita Pulang. Ada kisah Guntur yang tersesat di tengah riuhnya dunia internet. Semua manusia yang hadir dalam kumcer ini sejatinya bukan hanya orang-orang dalam hidup Ismail Basbeth. Mereka juga ada di sekitar kita, bahkan mereka adalah kita.
7. Balada Suburbia – Zacky Yamani

Kumpulan cerpen yang ditulis Zaky Yamani berisi 1 cerita pendek, di antaranya:Johnny Mushroom, Pedagang Buku, Tak Ada Perempuan Baik-Baik yang Mau Jadi Istriku, Di Antara Mur dan Baut,
Rahmi dan Televisi, Samad Mencari Bangsa, Lelaki yang Mati di San Miguel Avenue, Lelaki yang Mengangkat Ikan Gabus sebagai Anaknya, Megideath, Surat. Setiap 𝙘𝙚𝙧𝙥𝙚𝙣 membawa 𝙩𝙚𝙢𝙖 yg berbeda mulai dari 𝙠𝙚𝙡𝙪𝙖𝙧𝙜𝙖, 𝙥𝙚𝙧𝙘𝙞𝙣𝙩𝙖𝙖𝙣, lingkup 𝙥𝙚𝙧𝙩𝙚𝙢𝙖𝙣𝙖𝙣 hingga 𝙠𝙧𝙞𝙩𝙞𝙠 𝙨𝙤𝙨𝙞𝙖𝙡. Sensasi selama baca 𝙘𝙚𝙧𝙞𝙩𝙖 di buku ini tuh mulai dari 𝙨𝙥𝙚𝙚𝙘𝙝𝙡𝙚𝙨𝙨,sedih, dan tertawa.
8. Akhir Sang Gajah di Bukit Kupu-Kupu

Akhir sang Gajah di Bukit Kupu-Kupu karya Sasti Gotama menyajikan dua puluh cerita yang akan membuat pembaca mempertanyakan ulang apa artinya menjadi manusia. Dengan gaya penceritaan yang memikat, Sasti mengajak pembaca tertawa getir dan menangis ketika mengikuti berbagai pengalaman manusia. Dibuka dengan kalimat-kalimat menggigit, narasi yang tidak kaku, serta pesan tersirat kaya makna.
9. Cerita Dari Sebelah Masjid Raya

Kedua belas kisah dalam Cerita dari Sebelah Masjid Raya menghadirkan berbagai pertanyaan yang selalu menghinggapi pikiran para perempuan yang hidup di tengah situasi penuh ketidakpastian. Sebagian besar cerita dalam buku ini ditulis oleh Raisa Kamila sewaktu masih remaja, merentang dari tahun 2007-2010 yang penuh pergolakan, pertanyaan, dan kejadian-kejadian yang menyebabkan peralihan pandangan atas berbagai hal dalam hidup.
10. Mei Salon

Enam Belas cerita dalam kumpulan ini mempersoalkan relasi. Bukan cuma relasi antar individu, melainkan juga relasi antara individu dan ruang hidupnya; rumah, permukiman, ruang publik, serta alam lepas. Masalah relasi tersebut melibatkan pula urusan etika dan moral yang secara praksis muncul melalui hubungan asmara, keluarga, atau kerja profesional. Pada akhirnya masalah tersebut berujung pada adanya desakan untuk berkuasa atau menguasai, baik individu lain maupun, ruang hidup tempat semua individu bergelut dengan kompleksitas relasi itu sendiri.
Membaca antologi adalah cara terbaik untuk menikmati literasi tanpa beban. Kamu bisa melompat dari satu kisah ke kisah lain, dari filsafat ke puisi, atau dari tawa ke tangis hanya dalam hitungan menit. Jadi, sudah siap menentukan buku mana yang akan kamu selesaikan?
Awita Ekasari/Content Writer Mizanstore
