Bulan Ramadan sering kali menghadirkan fenomena unik: ada orang yang kuat menahan lapar dan haus belasan jam, tapi justru “tumbang” saat harus mengerjakan salat lima waktu. Muncul pertanyaan klasik: Puasanya sah nggak, ya?
Ternyata, para ulama punya dua sudut pandang besar dalam melihat masalah ini. Yuk, kita bedah biar makin paham!
1. Pandangan Tegas: Salat Adalah Fondasi Utama

Beberapa ulama dan ahli fiqih, termasuk Imam Ahmad ibn Hanbal, memiliki pandangan yang sangat tegas. Mereka bersandar pada riwayat sejumlah sahabat yang menyatakan bahwa meninggalkan salat dengan sengaja bisa membuat seseorang jatuh dalam kekafiran.
Logikanya sederhana: Jika seseorang dianggap kafir karena meninggalkan salat, maka segala amal ibadah lainnya—termasuk puasa—menjadi batal atau tidak sah. Dalam pandangan ini, salat bukan sekadar pelengkap, melainkan penentu apakah status keislaman seseorang masih diakui atau tidak.
2. Pandangan Moderat: Ibadah yang Terpisah
Di sisi lain, banyak ulama dari kalangan Salaf dan Khalaf memiliki pandangan yang berbeda. Mereka berpendapat bahwa setiap ibadah punya timbangannya masing-masing:
- Seseorang tetap mendapatkan dosa/sanksi karena meninggalkan salat.
- Namun, ia tetap mendapatkan pahala karena menjalankan kewajiban puasa.
Dalam prinsip ini, dosa karena meninggalkan satu kewajiban tidak lantas menghapus pahala dari kewajiban lain yang sudah dijalankan. Puasanya dianggap sah secara hukum (kewajibannya gugur), meski tentu saja nilai pahalanya sangat disayangkan jika harus tergerus karena ia mengabaikan tiang agama yang paling utama.
3. Cara Mengajak dengan Bijak
Kalau kamu punya teman yang perilakunya seperti ini, menghakimi atau langsung menyebut puasanya “sia-sia” mungkin malah bikin dia menjauh. Kita bisa menggunakan pendekatan yang lebih hangat dan menyentuh hati.
Cobalah katakan dengan lembut:
“Semoga Allah SWT memberimu pahala kebaikan atas puasamu, tetapi kamu harus menyempurnakan Islam dengan segala sesuatu yang lebih agung, daripada puasa, yaitu shalat.
(Berpuasa Seperti Nabi – 247-248)
Ibadah itu bukan paket pilihan, melainkan satu kesatuan. Puasa memang ibadah yang luar biasa, tapi salat adalah fondasi tempat semua amal itu bersandar. Mari jadikan Ramadan tahun ini bukan cuma soal menahan lapar, tapi juga momen untuk memperbaiki koneksi kita dengan Allah melalui salat 5 waktu.
Kalau kamu mau tahu lebih banyak tentang buku Berpuasa Seperti Nabi, langsung cek promonya di sini https://mizanstore.com/promo/ramadan_di_mizan_93
Awita Ekasari/Content Writer Mizanstore
