Bagi sebagian orang, hidup tenang adalah impian. Namun bagi segelintir lainnya, bisa “mati dengan tenang” justru menjadi sebuah perjuangan panjang yang menguras emosi. Premis emosional dan penuh empati inilah yang dibawa oleh film terbaru sutradara Ismail Basbeth, Rencana Besar untuk Mati dengan Tenang (atau My Own Last Supper).

Sebelum menjelma menjadi visual yang memukau, cerita ini awalnya lahir dari lembaran kata-kata magis dalam novel karya Wisnu Suryaning Adji (diterbitkan oleh Bentang Pustaka) pada 2022 lalu yang sempat memenangkan penghargaan bergengsi Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) 2017.

Sinopsis Rencana Besar untuk Mati dengan Tenang

https://www.instagram.com/mattacinema/

Film ini berfokus pada perjalanan hidup seorang pria tua keturunan Tionghoa. Di masa senjanya, ia tidak meminta banyak, hanya ingin menutup usia dengan damai. Namun, trauma masa lalu—terutama ingatan kelam seputar gejolak politik tahun 1965—terus membayangi perilakunya sehari-hari. Lewat pendekatan yang sangat humanis, penonton diajak menyelami bagaimana luka sejarah bisa menetap begitu lama di dalam diri seseorang, sekaligus melihat bagaimana ia mencoba berdamai dengan luka tersebut.

Tembus sebagai Main Competition di Shanghai International Film Festival (SIFF)

https://www.instagram.com/rencanabesarmatidengantenang/

Meski belum resmi tayang secara reguler di bioskop tanah air, film produksi Matta Cinema dan Ruang Basbeth Bercerita ini sudah lebih dulu mencuri perhatian dunia. Juni lalu, film ini sukses menembus Main Competition di Shanghai International Film Festival (SIFF) 2026 dan langsung memborong 7 nominasi utama, mulai dari Sutradara Terbaik hingga Aktor Terbaik.

Selain prestasinya, daya tarik film ini juga ada pada jajaran pemainnya. Mulai dari debut mengejutkan dari Rocky Gerung di dunia seni peran. Bukan sebagai pengamat, kali ini Rocky Gerung akan berperan sebagai seorang Chef. Selain itu, ada juga penampilan memukau dari talenta muda berbakat, seperti Jessy Davita dan Nicholas Anderson.

Untuk kita yang sudah tidak sabar menyaksikan kisah yang menyentuh hati ini, kabarnya Rencana Besar untuk Mati dengan Tenang” dijadwalkan menyapa pencinta film Indonesia di bioskop pada akhir tahun 2026 nanti. Siapkan tisu, karena film ini siap mengajak kita merenungkan kembali arti kedamaian hidup yang sesungguhnya.

 
 
 
 
 
Lihat postingan ini di Instagram
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

Sebuah kiriman dibagikan oleh CHINDOVOICE MEDIA™ 印華聲報 | Info & Berita Chindo (@chindovoice.id)

Yuk, Baca Dulu Bukunya!

Sambil menunggu filmnya resmi rilis di bioskop akhir tahun nanti, membaca novelnya terlebih dahulu bisa jadi cara terbaik untuk menyelami emosinya secara lebih mendalam. Menikmati setiap untaian kata dari Wisnu Suryaning Adji pasti akan memberikan pengalaman magis tersendiri sebelum kita melihatnya bertransformasi ke dalam bentuk visual.

Nah, kalau kamu sendiri tipe yang mana nih? Lebih suka baca novelnya dulu biar kebayang ceritanya, atau langsung tunggu filmnya rilis di bioskop?


Awita Ekasari/Content Writer Mizanstore

Sumber: Artikel diolah dari berbagai sumber dengan penyesuaian

https://www.tempo.co/teroka/film-rencana-besar-untuk-mati-dengan-tenang-berkompetisi-di-shanghai-film-festival-2253248

https://kumparan.com/berita-terkini/sinopsis-rencana-besar-untuk-mati-dengan-tenang-karya-wisnu-suryaning-adji-25urN621QSN/ful

Bagikan ke Sekitarmu!
Intip Trailer My Own Last Supper: Film yang Masuk Shanghai Festival: Diadaptasi dari Novel Rencana Besar untuk Mati dengan Tenang