Sejauh ini kita gagal memahami maksud dan tujuan Pancasila. Nyatanya, ada lima butir yang selalu digaungkan sebagai ideologi Negara sewajarnya menjadi dasar laku teladan manusia Indonesia. Namun, pada realita yang ada, Pancasila seolah absen dalam setiap perbuatan. Problem ini berupa terlalu melimpah ucapan tanpa dibarengi tindakan. Inilah yang menimbulkan keraguan kebanyakan orang akan ‘kesaktian’ nilai dasar Negara dalam aktifitas sehari-hari.

Untuk itulah diperlukan pembedahan setiap butir dan mewujudkan keteladanan Pancasila yang dapat diaplikasikan dalam setiap perbuatan.

Sila pertama yang menggaungkan Ketuhanan ditilik beberapa momen kebelakang seolah absen dari memori penduduk Indonesia. Padahal Ketuhanan itu seharusnya tanpa egoism agama. Dilukiskan oleh Bung Karno  sebagai ‘Ketuhanan yang berbudaya, Ketuhanan yang berbudi pekerti luhur, Ketuhanan yang menghormati satu sama lain’. Pandangan hidup yang dilandasi oleh semangat ketuhanan yang salah akan meleburkan sifat kearifan masyarakat Indonesia yang penuh tenggang rasa dan gotong royong.

Teladan dengan akhlak mulia yang dicita-citakan oleh manusia muda saat ini. Pergaulan hidup yang dilandasi pemahaman benar akan makna agama melahirkan sifat arif bahwa perbedaan keyakinan tidak menghalangi hubungan kemanusiaan.

Inilah budaya Pancasila yang mulai tergerus oleh ideologi-ideologi luar yang disadur tanpa memahami ajaran Tuhan dengan benar. Seharusnya dengan beragama seseorang akan menjadi jujur, tulus, berempati serta toleran terhadap sesame manusia terlepas apapun agama manusia tersebut. Wawasan Pancasila tersebut terpampang nyata dalam sila pertama Pancasila. Namun, pelaksanaannya menjadi kabur karena urusan egoisme masing-masing.

Keteladanan Pancasila adalah pemikiran yang revolusioner. Sebuah revolusi yang tampaknya tidak semua orang mampu memahami.

Ketuhanan Yang Maha Esa merupakan kerangka dasar pemikiran yang harus dimiliki seorang manusia agar mengerti bahwa laku dan ucap mereka akan ditimbang baik buruknya. Pemikiran tersebut akan melahirkan budaya  Pancasila berani memperjuangkan kebenaran dan keadilan seperti yang digaungkan di sila kedua. Memperjuangkan kebenaran dan keadilan tidak melulu dengan cara memerangi keburukan. Lebih utama dengan menunjukkan kebajikan. Kita seharusnya hadir untuk menebar kebaikan dengan langkah awal yaitu memperbaiki keadaan diri.

Contoh nyata sosok yang gigih memperjuangkan kebenaran dan keadilan secara progresif dilakukan oleh S. Ali Al-Habsyi. Seorang lulusan Fakultas Ekonomi Lambung Mangkurat, Banjarmasin, yang terjun dalam memberdayakan masyarakat. Ia menggagas BMT (Baitul Mal wat Tanwil) pada 1997 untuk mengatasi kemiskinan berbasis masyarakat. Awal mulanya Ali berjalan kaki masuk-keluar kampong. Menawarkan jasa penitipan uang yang kelak dapat dijadikan tabungan untuk dikelola. Mulai dari nol hingga beromzet Rp 7 miliar, Ali melewati tahap tersebut berlandaskan semangat tolong menolong dalam kebajikan.

Ketuhanan yang penuh kasih sayang dan toleran yang diletakkan di jalan yang benar diharapkan dapat membangun suasana yang mendorong pemeluk agama untuk berlomba-lomba berbuat kebajikan. Dengan kata lain kebertuhanan harus ditunjukkan dalam perbuatan sebagai teladan yang nyata. Bukan sekedar pengakuan dan keyakinan di dalam hati. Bagaimana kita melakukan sesama manusia dan alam sekitar, itulah yang akan menunjukkan iman kita. Sebuah budaya Pancasila yang harusnya kita semarakkan.

Menurut Bung Hatta, pengakuan bangsa Indonesia dalam pembukaan UUD 1945 bahwa kemerdekaan dicapai “Atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa” mengandung konsekuensi yang besar. Bahwa kemerdekaan Indonesia harus dipikul dan dipertanggungjawabkan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Menurut Revolusi Pancasila yang digagas Yudi Latif aktualisasi Bhinneka Tunggal Ika adalah sebuah ekspresi persaudaraan yang tidak mengenal batas. Bahwa adil dan beradab adalah sumber adalah sumber yang menghidupkan semangat persaudaraan.

Jika Pancasila sebagai landasan sikap telah kuat, maka dapat menjawab tantangan di masa sekarang. Di mana informasi dan ideologi asing merangsek masuk. Sikap keteladanan Pancasila ini akan menumbuhkan kepercayaan diri dan daya juang dengan memadukan informasi asing serta dasar pemikiran Pancasila. Mana yang baik, mana yang perlu ditinggalkan.

Sosok lain yang bergiat dalam kesejahteraan bangsa Indonesia adalah Bambang Ismawan. Salah satu tokoh pendiri LSM Bina Swadaya yang bergelut di bidang pertanian ini mendampingi masyarakat miskin dengan gerakan pemberdayaan ekonomi melalui kegiatan pendidikan dan pelatihan, pengolahan dan pemasaran hasil pertanian, selain melakukan advokasi kepada para petani.

Semangat keteladanan Pancasila hadir begitu kental melawan kemiskinan dengan kewirausahaan sosial. Tiga hal yang menjadi tantangan terbesar. Idealisme, komitmen, dan konsistensi membuat orang-orang disekitar Bambang Ismawan tidak tahan untuk bekerja bersama.

Budaya inilah yang seharusnya dijadikan sikap bangsa. Sebuah budaya Pancasila yang harus dilakukan dengan konsistensi dan penuh komitmen. Membuat Pancasila benar menjadi sebuah ideologi dasar yang tak hanya kata-kata kosong.

 

Melati/Expose

Bagikan ke Sekitarmu!
KETELADANAN DALAM PERBUATAN