Setiap orang punya cara sendiri untuk memahami dunia. Ada yang menemukannya lewat musik, pengalaman, percakapan, atau bahkan buku. Begitu pula dengan para member CORTIS yang ternyata punya pilihan bacaan dengan tema dan karakter yang beragam.

Mulai dari pencarian jati diri, kehilangan, cinta, kreativitas, hingga pertanyaan tentang makna hidup, buku-buku yang mereka pilih seolah memberi sedikit gambaran tentang hal-hal yang menarik perhatian mereka. Yuk, intip buku pilihan masing-masing member CORTIS!

1. Juhoon CORTIS

https://cortis.fandom.com/wiki/Juhoon/Facts

Demian — Hermann Hesse

periplus

Kalau ada satu buku yang terasa begitu dekat dengan perjalanan Juhoon, mungkin Demian adalah salah satunya.

Novel karya Hermann Hesse ini mengikuti perjalanan Emil Sinclair, seorang pemuda yang berusaha memahami dirinya sendiri di tengah dua dunia yang bertolak belakang. Di satu sisi ada kehidupan yang penuh aturan dan nilai-nilai yang selama ini ia kenal, sementara di sisi lain ada dunia yang lebih bebas dan penuh pertanyaan.

Pertemuannya dengan Max Demian kemudian menjadi titik penting dalam perjalanan Sinclair menemukan siapa dirinya.

Tema tentang persimpangan dan keberanian menentukan jalan hidup ini terasa relevan dengan cerita Juhoon yang pernah membagikan bagaimana ia mempertimbangkan pilihan antara sepak bola dan musik. Pada akhirnya, ia harus menentukan pilihan mana yang akan lebih ia sesali jika tidak pernah dicoba.

Pavane for a Dead Princess — Park Min-gyu

wikipedia

Tiga orang yang sama-sama kesepian, sebuah department store, dan pertemuan yang perlahan mengubah kehidupan mereka. Itulah premis Pavane for a Dead Princess karya Park Min-gyu.

Alih-alih menghadirkan kisah yang serba manis, novel ini berbicara tentang kesepian, hubungan antarmanusia, dan bagaimana kehadiran seseorang bisa menjadi sedikit cahaya di tengah kehidupan yang terasa sepi.

Menariknya, kisah ini juga telah diadaptasi menjadi film Korea yang tayang di Netflix pada Februari 2026. Jadi, kamu bisa membaca novelnya terlebih dahulu sebelum membandingkannya dengan versi film!

The Art of Loving — Erich Fromm

https://www.waterstones.com/book/the-art-of-loving/erich-fromm/9781855385054

Apa sebenarnya arti mencintai? Pertanyaan itulah yang menjadi salah satu inti pembahasan Erich Fromm dalam The Art of Loving. Buku ini tidak menawarkan formula untuk mendapatkan pasangan atau membuat hubungan romantis berhasil. Sebaliknya, Fromm melihat cinta sebagai sebuah kemampuan yang perlu terus dipelajari dan dilatih.

Menurutnya, persoalan cinta bukan hanya soal menemukan orang yang tepat atau mendapatkan cinta dari orang lain. Yang tidak kalah penting adalah kemampuan kita sendiri untuk mencintai.

Fromm kemudian membahas berbagai bentuk cinta, termasuk cinta romantis, cinta kepada sesama, cinta kepada Tuhan, hingga cinta kepada diri sendiri. Meski tidak tebal, buku ini punya banyak hal untuk direnungkan.

Sebuah Seni untuk Bersikap Bodo Amat — Mark Manson

goodreads

Kalau kebanyakan buku pengembangan diri mengajak kita untuk selalu berpikir positif, Mark Manson justru mengambil arah yang berbeda.

Dalam Sebuah Seni untuk Bersikap Bodo Amat, pembaca diajak menerima kenyataan bahwa hidup memang tidak selalu berjalan sesuai keinginan. Alih-alih berusaha menghindari semua masalah, Manson mengajak kita menentukan masalah mana yang memang pantas mendapatkan energi dan perhatian kita.

Buat Juhoon yang terlihat cukup berhati-hati ketika mengambil keputusan besar dalam hidupnya, gagasan untuk memilih apa yang benar-benar layak diperjuangkan ini terasa menarik untuk dikaitkan.

2. Keonho CORTIS

kapanlagi.com

Übermensch — Friedrich Nietzsche

www.chosun.com

Salah satu gagasan Friedrich Nietzsche yang paling terkenal adalah Übermensch, konsep tentang manusia yang mampu melampaui dirinya sendiri dan menciptakan nilai serta makna bagi kehidupannya.

Bacaan ini membawa kita pada pertanyaan tentang bagaimana seseorang dapat terus berkembang, menghadapi keterbatasannya, dan menentukan jalan hidupnya sendiri.

Buat kamu yang tertarik dengan filsafat dan pertanyaan-pertanyaan besar tentang kehidupan, buku ini bisa menjadi bacaan yang cukup menantang sekaligus membuka banyak ruang untuk berpikir.

Letters to Yves — Pierre Bergé

goodreads

Buku pilihan Keonho yang satu ini datang dari sisi yang jauh lebih personal. Letters to Yves merupakan kumpulan surat Pierre Bergé kepada Yves Saint Laurent setelah kepergian sang desainer. Alih-alih menjadi sekadar memoar, buku ini terasa seperti percakapan dengan seseorang yang sudah tidak bisa lagi menjawab.

Melalui surat-surat tersebut, Bergé mengenang hubungan, kehidupan, dan kehilangan yang pernah mereka lalui bersama. Sebuah bacaan yang intim tentang cinta, kenangan, dan bagaimana seseorang menghadapi kepergian orang yang begitu berarti.

Norwegian Wood — Haruki Murakami

Jaklitera

Buat penggemar Haruki Murakami, Norwegian Wood tentu bukan judul yang asing. Novel ini mengisahkan Toru Watanabe yang kembali mengingat masa mudanya di Tokyo setelah mendengar lagu The Beatles berjudul sama. Dari sana, pembaca dibawa menyusuri hubungan Toru dengan dua perempuan yang sangat berbeda, sekaligus pergulatan emosional yang menyertainya.

Di balik kisah cintanya, Norwegian Wood sebenarnya berbicara banyak tentang kehilangan, kesepian, proses menjadi dewasa, dan bagaimana seseorang belajar menerima hal-hal yang tidak bisa ia ubah.

The Creative Act: A Way of Being — Rick Rubin

goodreads

Bagaimana kalau kreativitas bukan sesuatu yang hanya dimiliki oleh orang-orang berbakat?

Itulah salah satu gagasan menarik yang dibawa Rick Rubin dalam The Creative Act: A Way of Being. Produser musik legendaris ini tidak menulis buku sebagai panduan teknis untuk membuat lagu atau menghasilkan karya.

Sebaliknya, Rubin berbicara tentang bagaimana menjalani hidup dengan pola pikir seorang kreator: lebih peka terhadap sekitar, terbuka terhadap inspirasi, berani bereksperimen, dan tidak terlalu terikat pada ego.

Untuk seseorang yang hidup di dunia kreatif, buku ini bisa menjadi pengingat bahwa proses berkarya bukan hanya tentang menghasilkan sesuatu, tetapi juga tentang bagaimana kita melihat dunia.

Demian — Hermann Hesse

periplus

Ternyata Demian bukan hanya menjadi bacaan Juhoon. Keonho juga pernah membagikan buku ini bersama rekan satu grupnya tersebut.

Novel Hermann Hesse ini membawa pembaca mengikuti perjalanan Emil Sinclair ketika ia mulai mempertanyakan nilai-nilai yang selama ini dipercayainya dan berusaha menemukan identitasnya sendiri.

Sebuah novel coming-of-age yang tidak hanya berbicara tentang tumbuh dewasa, tetapi juga tentang keberanian untuk mengenali diri sendiri dan menentukan jalan yang ingin ditempuh.

3. Seonghyeon CORTIS

(instagram.com/cortis)

No Longer Human — Osamu Dazai

gramedia.com

Ada buku yang selesai dibaca, tetapi ceritanya terus tinggal di kepala. No Longer Human adalah salah satunya.

Novel karya Osamu Dazai ini menceritakan Yozo Oba, seorang pria yang sejak kecil merasa begitu asing dengan orang-orang di sekitarnya. Karena kesulitan memahami manusia dan takut ditolak, Yozo belajar menyembunyikan dirinya di balik berbagai topeng.

Dengan cerita yang gelap dan penuh pergulatan batin, novel ini mengeksplorasi keterasingan, identitas, dan perasaan tidak mampu menjadi bagian dari lingkungan sekitar.

Buat kamu yang menyukai sastra klasik dengan tema psikologis yang kuat, No Longer Human bisa menjadi bacaan yang meninggalkan kesan cukup lama.

Romance of the Three Kingdoms — Luo Guanzhong

penguinbooks

Kalau kamu menyukai cerita sejarah yang penuh strategi dan konflik politik, Romance of the Three Kingdoms wajib masuk daftar bacaan.

Novel klasik karya Luo Guanzhong ini berlatar pada masa akhir Dinasti Han dan mengisahkan persaingan tiga kekuatan besar: Wei, Shu, dan Wu.

Di dalamnya ada peperangan besar, intrik politik, pengkhianatan, kesetiaan, hingga strategi yang melibatkan tokoh-tokoh legendaris seperti Cao Cao, Liu Bei, dan Zhuge Liang.

Dengan cerita yang luas dan karakter yang begitu banyak, novel ini menawarkan pengalaman membaca yang epik sekaligus penuh strategi.

4. Martin CORTIS

cortisfandom

Sebuah Seni Bersikap Bodo Amat — Mark Manson

goodreads

Tidak semua hal dalam hidup harus kita pikirkan sampai berlebihan. Dan itulah salah satu pesan yang ingin disampaikan Mark Manson melalui Sebuah Seni Bersikap Bodo Amat.

Buku ini tidak menjanjikan kehidupan yang selalu positif atau mengajak pembacanya berpura-pura bahwa semua masalah bisa diselesaikan dengan berpikir positif.

Sebaliknya, Manson mengajak kita menerima bahwa masalah akan selalu ada. Yang bisa kita lakukan adalah memilih masalah mana yang pantas mendapatkan perhatian, waktu, dan energi kita. Dengan gaya tulisan yang blak-blakan dan tidak terlalu menggurui, buku ini cocok untuk kamu yang sedang belajar menentukan prioritas dalam hidup.

The Creative Act: A Way of Being — Rick Rubin

goodreads

Bagi Rick Rubin, menjadi kreatif bukan sekadar tentang menghasilkan karya. Kreativitas adalah cara melihat dan menjalani kehidupan.

Dalam The Creative Act: A Way of Being, Rubin membahas proses kreatif dari sisi yang lebih personal, mulai dari menemukan inspirasi, menghadapi kebuntuan, menyingkirkan ego, hingga berani mempercayai intuisi sendiri.

Buku ini menarik terutama bagi siapa pun yang berkecimpung di dunia kreatif karena mengingatkan bahwa karya yang baik tidak selalu lahir dari memaksakan diri untuk terus produktif. Kadang, kita justru perlu berhenti, mengamati, dan membuka diri terhadap apa yang ada di sekitar.

No Longer Human — Osamu Dazai

gramedia

Satu lagi bacaan Martin yang cukup berat adalah No Longer Human. Melalui sosok Yozo Oba, Dazai menggambarkan seseorang yang terus merasa berbeda dari manusia lain. Ketidakmampuannya untuk merasa benar-benar terhubung dengan orang di sekitarnya membuat Yozo memilih untuk memakai “topeng” agar bisa berbaur.

Ia berpura-pura bahagia, berpura-pura baik-baik saja, dan berusaha memenuhi ekspektasi orang lain meski dirinya sendiri semakin jauh dari kehidupan yang sebenarnya.

Ditulis dengan gaya yang sangat personal, novel ini menjadi salah satu karya Dazai yang paling kuat dalam menggambarkan rasa terasing dan pergulatan dengan identitas diri.

Selera bacaan memang tidak selalu bisa sepenuhnya menggambarkan seseorang. Namun, dari buku-buku yang dipilih para member CORTIS, kita bisa melihat beragam tema yang menarik perhatian mereka, mulai dari pencarian jati diri, cinta dan kehilangan, hingga kreativitas dan cara memaknai hidup.

Jadi, kalau kamu ingin mengenal CORTIS dari sisi yang sedikit berbeda, mungkin daftar buku ini bisa jadi tempat yang menarik untuk memulainya. Siapa tahu, dari satu halaman ke halaman berikutnya, kamu justru menemukan alasan baru untuk menyukai mereka.


Awita Ekasari/Content Writer Mizanstore

Sumber: artikel diolah dari berbagai sumber dengan penyesuaian

https://www.cosmopolitan.co.id/article/read/7/2026/47093/rekomendasi-buku-yang-dibaca-martin-cortis

https://www.cosmopolitan.co.id/article/read/6/2026/46429/rekomendasi-buku-yang-dibaca-seonghyeon-cortis

https://www.cosmopolitan.co.id/article/read/7/2026/47161/rekomendasi-buku-yang-dibaca-juhoon-cortis

https://www.idntimes.com/korea/kpop/rekomendasi-buku-favorit-keonho-cortis-c1c2-01-q3cj5-t0sbz8

Bagikan ke Sekitarmu!
Mengungkap Sisi Kepribadian Member CORTIS Lewat Buku yang Mereka Pilih!
Tag pada: