Bagi para pencinta fiksi remaja (young adult), nama Zoulfa Katouh tentu sudah tidak asing lagi. Penulis asal Suriah ini sukses mencuri perhatian dunia lewat novel debutnya, As Long As the Lemon Trees Grow (2022). Setelah sukses dengan perilisan global naskah aslinya pada Juni lalu, bulan Juli ini menjadi momen yang paling dinantikan oleh para pembaca di tanah air. The Ocean Would Paint Me Blue edisi terjemahan bahasa Indonesia resmi terbit, menariknya lagi, lengkap dengan versi limited edition yang menghadirkan keindahan illustrated edges (tepi buku berilustrasi) yang sangat cantik.
Sebelum berburu bukunya, yuk intip isi kepala Zoulfa! Mulai dari keberaniannya mendefinisikan ulang kata “Jihad”, hingga bagaimana sebuah video game menginspirasi elemen magis di buku barunya. Simak obrolan lengkapnya berikut ini yang dikutip dari litslodge.wordpress.com
Menghidupkan Arti “Jihad” yang Sebenarnya

Karakter utama dalam novel terbaru Zoulfa dinamai Jihad—sebuah nama yang sering kali disalahpahami oleh media Barat. Zoulfa bercerita bahwa ide ini bermula dari keresahannya melihat bagaimana karakter Arab dan Muslim digambarkan di media.
“Ide ini memuncak lewat sebuah cuitan saya di Twitter (X). Saya heran, kenapa jarang ada karakter bernama Jihad? Padahal arti kata tersebut sangat indah dan menggambarkan ketangguhan,” ungkap Zoulfa.
Ia juga menyayangkan bagaimana bahasa Arab sering kali disudutkan dan dianggap agresif, padahal aslinya sangat merdu. Lewat sosok remaja perempuan berusia 17 tahun ini, Zoulfa ingin menampilkan Islam yang ramah, hangat, dan menjadi pilihan sadar dalam hidup seseorang.
Berdamai dengan Identitas dan Masa Lalu Suriah
Sebagai tokoh utama berhijab, Jihad diceritakan harus berjuang menghadapi stereotipe sekaligus perasaan asing—tidak sepenuhnya diterima di lingkungan tempat tinggalnya. Bagi Zoulfa, menulis konflik ini tidaklah sulit karena berakar dari pengalaman pribadinya sebagai minoritas yang sering merasa “kurang pas” di dunia mana pun.
Namun, Zoulfa menekankan sebuah pesan penting: “Penilaian orang lain tidak mendefinisikan siapa diri kita. Tidak ada alasan bagi kita untuk hidup dengan selalu meminta maaf atau menyembunyikan diri.”
Selain tentang identitas, latar belakang Suriah juga menjadi ruh yang kuat dalam karya-karyanya. Bagi Zoulfa, menulis tentang Suriah adalah caranya untuk merayakan dan merebut kembali tanah airnya yang sempat terluka parah sebelum akhirnya merdeka.
Merajut Seni, Musik, dan Video Game ke Dalam Tulisan

Salah satu daya tarik utama dari The Ocean Would Paint Me Blue adalah penggambaran latarnya yang sangat hidup dan puitis. Siapa sangka, keindahan itu lahir dari kecintaan Zoulfa pada museum, lukisan Monet, matahari terbenam di pantai, hingga musik instrumental karya komposer seperti Ólafur Arnalds dan Ludovico Einaudi.
Uniknya lagi, novel ini juga memasukkan elemen magis berupa hilangnya kemampuan sang karakter utama dalam melihat warna akibat duka yang mendalam. Elemen ini ternyata terinspirasi dari sebuah video game indie berjudul Gris.
“Saat sedang menulis bab-bab awal, saya memainkan game Gris yang bercerita tentang seorang gadis yang melewati fase kesedihan dengan menemukan kembali warna dalam hidupnya. Saya menangis tersedu-sedu saat memainkannya, dan game itulah yang menginspirasi hilangnya warna pada dunia Jihad,” kenang Zoulfa.
Menariknya, elemen magis ini juga muncul karena alasan logis. Awalnya, Zoulfa ingin Jihad keluar malam-malam untuk menggambar mural sebagai terapi diri. Namun, setelah dipikir-pikir, rasanya tidak realistis dan berbahaya bagi remaja perempuan berkeliaran di New York jam 3 pagi.
“Justru saat mencoba membuatnya lebih masuk akal, saya malah menemukan elemen magis tersebut,” ujarnya sambil tertawa.
Apakah Ada Lanjutan As Long As The Lemon Trees Grow?

Di akhir obrolan, Zoulfa membagikan tips yang terdengar klise namun sangat krusial bagi para calon penulis: teruslah menulis dan jangan takut membuat draf yang buruk.
“Jika kamu melihat draf paling pertama dari Lemon Trees, atau proyek apa pun yang saya tulis, kamu pasti akan terkejut karena saking berantakannya,” aku Zoulfa.
Kuncinya, menurut Zoulfa, adalah mencintai cerita itu sendiri, karena sebagai penulis, kita akan membaca ulang tulisan tersebut hingga ribuan kali.
Bagi para penggemar yang penasaran apakah Zoulfa akan kembali ke dunia As Long As the Lemon Trees Grow, ia membocorkan bahwa ia tidak akan menulisnya dalam bentuk novel utuh lagi, melainkan dalam bentuk cerita pendek.
“Kamu tidak akan pernah bisa melupakan cinta pertamamu,” tutupnya manis.
Awita Ekasari/Content Writer Mizanstore
Sumber: (diolah dari berbagai sumber dengan penyesuaian)
https://litslodge.wordpress.com/2026/05/20/exclusive-interview-with-author-zoulfa-katouh/
https://www.bloomsbury.com/uk/discover/articles/interviews/interview-with-zoulfa-katouh
