“Aku rela dipenjara asalkan bersama buku, karena dengan buku aku bebas.”
Ungkapan dari Wakil Presiden pertama kita, Mohammad Hatta, di atas menjadi bukti nyata betapa kuatnya sebuah kekuatan literasi. Sayangnya, data dari studi “Most Littered Nation In the World” oleh Central Connecticut State University menunjukkan bahwa minat baca di Indonesia masih berada di peringkat ke-60 dari 61 negara. Angka yang cukup memprihatinkan, ya?
Namun, di tengah tantangan besar tersebut, Indonesia tidak pernah kehabisan talenta hebat. Bumi Nusantara terus melahirkan para sastrawan laki-laki genius yang buah pikirannya tidak hanya dicintai di dalam negeri, tetapi juga diakui dan dihargai oleh dunia internasional. Lewat goresan pena mereka, wajah kebudayaan dan sejarah Indonesia berhasil menembus batas-batas negara melalui berbagai penghargaan bergengsi.
Siapa saja mereka dan karya apa saja yang sukses melenggang ke kancah dunia?
1. Pramoedya Ananta Toer – Sang Maestro dengan Tetralogi Buru

Bicara soal sastra dunia, nama Pramoedya Ananta Toer tentu berada di garda depan. Mulai menulis sejak era 1940-an, Pramoedya telah melahirkan lebih dari 50 karya yang diterjemahkan ke dalam lebih dari 41 bahasa asing.
Mahakaryanya yang paling mengguncang dunia adalah Tetralogi Buru, yang diawali oleh novel Bumi Manusia. Ditulis di tengah masa tahanannya di Pulau Buru pada tahun 1973, novel yang kini telah diterjemahkan ke dalam 34 bahasa ini mengisahkan perjuangan Minke, seorang pemuda pribumi yang sekolah di institusi Belanda, serta kisah cintanya yang tragis bersama Annelies. Lewat karakter Nyai Ontosoroh, Pramoedya juga menampilkan pergerakan feminisme yang sangat elegan. Berkat dedikasinya, beliau dianugerahi penghargaan internasional:
- PEN/Barbara Goldsmith Freedom to Write Award (1988)
- The Fund for Free Expression Award (1989)
- English P.E.N Centre Award (1992)
- Stichting Wertheim Award (1992)
- Ramon Magsaysay Award (1995)
- Doctor Honoris Causa dari Universitas Michigan (1999)
- Chancellor’s Distinguished Honor Award dari Universitas California, Berkeley (1999)
- Chevalier de l’Ordre des Arts et des Lettres (2000)
- Fukuoka Asian Culture Prize (2000)
- Norwegian Authors’ Union Award (2004)
- Pablo Neruda Centennial Award (2004)
- Global Intellectuals Poll oleh Prospect (2005)
2. Ahmad Tohari – Menyuarakan Sisi Kemanusiaan Lewat Ronggeng Dukuh Paruk

Ditulis pada tahun 1982, novel Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari berhasil memotret realitas kemiskinan, kebodohan, dan gejolak politik tahun 1960-an di sebuah desa kecil. Kisah cinta tragis antara Srintil, sang penari ronggeng, dan Rasus, seorang tentara, disajikan dengan begitu memikat.
Awalnya diterbitkan sebagai trilogi (Catatan Buat Emak, Lintang Kemukus Dini Hari, dan Jantera Bianglala), mahakarya setebal 379 halaman ini kemudian disatukan menjadi satu novel utuh pada tahun 2003. Novel ini sukses memikat hati pembaca global dan telah diterjemahkan ke dalam bahasa Jepang, Jerman, Belanda, dan Inggris. Atas pencapaiannya, Ahmad Tohari dianugerahi penghargaan regional bergengsi S.E.A. Write Award pada tahun 1995 dan Cultural Visit Award dari Pemerintahan Australia pada 1977
3. Sapardi Djoko Damono – Menghanyutkan Dunia Lewat Kesyahduan Hujan Bulan Juni

Siapa yang tidak luluh membaca bait-bait puisi sang maestro romansa, Sapardi Djoko Damono? Melalui novel Hujan Bulan Juni (135 halaman), ia tidak hanya menyajikan kisah cinta beda keyakinan yang rumit antara dua dosen, Sarwono dan Pingkan, tetapi juga menyisipkan 95 puisi syahdu di dalamnya.
Keindahan bahasa Sapardi terbukti mampu melintasi batas negara. Beliau sukses membawa pulang penghargaan Anugerah Buku ASEAN 2018 di Kuala Lumpur, Malaysia, untuk dua karya masterpiecenya, yakni Hujan Bulan Juni dan Yang Fana Adalah Waktu. Buku ini wajib banget masuk ke dalam rak buku kamu yang menyukai romansa mendalam.
4. Andrea Hirata – Laskar Pelangi yang Fenomenal

Melalui kisah perjuangan 10 anak dari keluarga prasejahtera di Belitung, Andrea Hirata berhasil menciptakan sejarah baru. Novel Laskar Pelangi (529 halaman) sukses menjelma menjadi buku pertama dari Indonesia yang meraih predikat international bestseller.
Hingga saat ini, kisah penuh motivasi dan pendidikan ini telah diterbitkan di lebih dari 130 negara dan diterjemahkan ke dalam 34 bahasa asing. Dobrakan luar biasa ini membawa Andrea Hirata memenangkan penghargaan internasional tingkat dunia, di antaranya sebagai pemenang pertama New York Book Festival 2013 di Amerika Serikat dan Buchaward 2013 di Jerman. Tahun 2015, Hirata mendapat gelar Doctor Honoris Causa di bidang sastra dari University of Warwick, United Kingdom. Tahun 2017 dia menerima penghargaan budaya dari pemerintah Prancis untuk karyanya Les Guerriers de L’arc-en-ciel (Laskar Pelangi edisi Prancis, penerbit Mercure de France).
5. Eka Kurniawan – Cerita yang Memikat Lewat Cantik Itu Luka

Sebagai representasi sastrawan kontemporer, Eka Kurniawan sukses menghentak dunia lewat novel debutnya, Cantik Itu Luka. Menggabungkan sejarah kelam masa kolonial dengan sentuhan realisme magis dan fantasi, novel ini menceritakan kehidupan tragis seorang pelacur yang melahirkan anak keempatnya yang buruk rupa namun dinamai si Cantik.
Kisah yang sarat akan satire dan narasi sejarah yang kuat ini sukses memikat para kritikus sastra internasional. Terbukti, novel ini telah dialihbahasakan ke dalam 33 bahasa dan berhasil mengantarkan Eka Kurniawan meraih penghargaan World Readers Award pada tahun 2016.
5 Joko Pinurbo – Puisi Satir yang Mendunia

Berdasarkan informasi yang disampaikan dalam laman Makassar International Writers Festival (MIWF), Joko Pinurbo lahir di Sukabumi, Jawa Barat pada 11 Mei 1962. Penyair yang akrab disapa Jokpin ini dikenal luas lewat keunikannya dalam merangkai benda-benda sederhana dan benda sehari-hari menjadi puisi yang penuh satir, humor, sekaligus perenungan mendalam.
Sebagai salah satu penyair Indonesia yang sangat produktif, Joko Pinurbo telah melahirkan banyak karya tulisan semasa hidupnya, mulai dari kumpulan puisi, antologi cerpen, hingga novel. Dirangkum dari laman Goodreads, berikut adalah daftar karya Joko Pinurbo yang telah berhasil diterbitkan:
- Celana
- Di Bawah Kibaran Sarung
- Pacarkecilku
- Telepon Genggam
- Kekasihku
- Pacar Senja
- Kepada Cium
- Celana Pacarkecilku di Bawah Kibaran Sarung
- Lukisan Kaligrafi
- Mancis: Jejak Darah
- Tak Ada Asu di Antara Kita
- Salah Piknik
- Kabar Sukacita
- Epigram 60
- Buku Latihan Tidur X Nyanyian Puisi Baju Bulan
- Surat tentang Harapan yang Abadi untuk Ahok
- Klub Solidaritas Suami Hilang: Cerpen Pilihan KOMPAS 2013
- Di Tubuh Tarra, dalam Rahim Pohon: Cerpen Pilihan KOMPAS 2014
- “Anak ini Mau Mengencingi Jakarta?”: Cerpen Pilihan KOMPAS 2015
- Doa yang Terapung: Cerpen Pilihan KOMPAS 2018
- Mencari Presiden Antikorupsi: Puisi Menolak Korupsi #9
- 60 Puisi Indonesia Terbaik 2009: Anugerah Sastra Pena Kencana
Melalui goresan penanya yang khas, Jokpin berhasil menggaet sejumlah penghargaan bergengsi dari dalam maupun luar negeri, antara lain:
- Penghargaan Buku Puisi Dewan Kesenian Jakarta (2001)
- Hadiah Sastra Lontar (2001)
- Tokoh Sastra Pilihan Tempo (2001, 2012)
- Penghargaan Sastra Badan Bahasa (2002, 2014)
- Kusala Sastra Khatulistiwa (2005, 2015)
- South East Asian (SEA) Write Award (2014)
Kehadiran karya-karya Joko Pinurbo membuktikan bahwa puisi yang dekat dengan realitas sehari-hari mampu menyampaikan pesan yang sangat kuat dan diakui di kancah literasi.
Membaca karya para maestro di atas bukan hanya tentang menikmati jalinan cerita yang indah, melainkan juga bentuk apresiasi dan kebanggaan kita terhadap identitas bangsa yang diakui dunia.
Yuk, ikut ambil bagian dalam meningkatkan minat baca Indonesia dan koleksi novel-novel original terbaik karya sastrawan kebanggaan kita.
Awita Ekasari/Content Writer Mizanstore
Sumber: Artikel diolah dari berbagai sumber dengan penyesuaian
https://www.instagram.com/p/CwSD_26RqgA/?img_index=1
https://bukunesia.com/tokoh/biografi-pramoedya-ananta-toer
https://mizan.com/penulis/andrea-hirata
https://www.beautyjournal.id/article/rekomendasi-karya-sastra-penulis-indonesia
