Biografi Dilan

“Siapa dia?” kutanya Revi.

“Dilan.”

“Oh.”

—Pidi Baiq (Dilan, Dia Dilanku Tahun 1990: hal. 31-32)

Itulah harinya, hari Senin ketika upacara bendera, Milea akhirnya tahu nama anak laki-laki itu. Anak lelaki yang pernah meramalnya. Milea sudah tahu. Kamu mau tahu juga nggak info penting soal Dilan? Soal siapa dia, Dilan, sosok yang kini sudah tenar seantero dunia. Eh, minimal se-Indonesia, deh!

Banyak yang tanya Dilan asli apa nggak? Tapi kata Surayah alias Pidi Baiq sang penulis, Dilan itu asli dan benar ada! Milea juga! (Baca juga: Milea Asli Sudah Nonton Dilan, Kamu Kapan?) Nah, kamu mau kenal nggak sama Dilan dan Milea? Karena Milea sudah diceritakan, sekarang giliran biografi Dilan bisa kamu baca kalau mau nggak penasaran lagi.

Dilan (gambar oleh Pidi Baiq)

Nama: Dilan

Kelas: 2 Fisika 1

Jabatan di geng motor: Panglima Tempur

Hubungan dengan Wati: Saudara sepupu. Ibunya Wati, adiknya ayahnya Dilan

Sahabat di sekolah: Piyan, Anhar, dan lain lain di tempat Bi Eem (tapi kayanya Nandan nggak, soalnya dari wajahnya Nandan tiap ada Dilan selalu ditekuk melulu)

Itu kalau dari Milea. Sebenarnya banyak yang Milea tahu tentang Dilan. Tapi segini cukup dulu. Setelah ini, biar kamu tahu siapa Dilan dari cerita Dilan sendiri.

Dilan adalah Dia Itu, dan Ini adalah Biografinya

“Langsung saja. Namaku Dilan, jenis kelamin laki-laki, bernafas menggunakan paru-paru, sama seperti seekor paus. Tahun 1977, pernah ingin jadi macan, tapi itu gak mungkin.

Aku lahir di Bandung, dari seorang Ibu yang oleh anaknya dipanggil Bunda, kecuali kalau akunya sedang mau minta uang, aku memanggilnya “Bundahara” (seperti yang sudah Lia  ceritakan di dalam buku itu). Tapi aku pernah sekali memanggilnya Sari Bunda, yaitu pada kasus di saat aku ingin makan.”

—Pidi Baiq (Milea, Suara dari Dilan: hal. 21)

Selanjutnya kamu masih mau tahu tentang Dilan atau tentang si Bunda? Karena ini biografi Dilan, maka cerita tentang Bunda bisa kamu tahu nanti dari buku. Sekarang, Dilan dulu. Oh, iya, tapi sebelum Dilan lagi, ini cerita sedikit soal ayah Dilan.

Ayah Dilan adalah seorang tentara, anggota ABRI (yang sekarang disebut TNI). Karena pekerjaannya ini, Dilan dan keluarga sering berpindah-pindah dari satu provinsi ke provinsi lainnya. Ketika duduk di kelas 3 SD, Dilan sekeluarga pernah tinggal di Kabupaten Manatuto, salah satu kota di daerah Timor-Timur yang dulu masih bagian dari wilayah Indonesia sebagai propinsi. Terus pindah lagi ke Ambon, terus pindah lagi ke Manahan, Solo, tapi cuma sebentar, gak tau kenapa.

Dilan punya adik perempuan bernama Disa. Mau tahu nama panjangnya? Disaaaaaaaaa. Dilan juga punya kakak laki-laki bernama Bang Landin, Bang Banar, dan satu kakak perempuan lagi yang seorang guru seperti Bunda. Mereka mulai tinggal di Bandung kira-kira sejak Dilan kelas 5 SD.

Nah untuk kawan-kawan main, selain yang sudah disebut Lia, masih ada Akew, Burhan, Irvan, Bowo, dan banyak lainnya di warung Bi Eem. Semua jadi kawan karena mudah akrab ketika sering ngobrol dan makan bersama di warung Bi Eem.

Buat kamu yang nanya sejak kapan Dilan jadi panglima tempur geng motor, mungkin semua dimulai sejak Dilan punya motor. Dan itu adalah ketika zaman SMP. Motor CB yang dia bawa ke sekolah, dulunya adalah motornya Burhan yang dia beli dengan uang dari ayah dan dimodifikasi di bengkel yng ada di daerah Kebaktian, Kiaracondong.

Dilan juga bergabung dengan anggota geng motornya Burhan, bersama dengan Anhar, Bowo, Akew, dan Piyan (meskipun gak aktif). Awalnya memang semua hanyalah anggota biasa dan melakukan hal-hal yang harus dilakukan, sampai kemudian tahu-tahu Dilan diangkat menjadi Panglima Tempur geng motor.

Sudah. Apalagi yang kamu mau tahu soal Dilan? Tentu selain apa Dilan nyata sudah nonton filmnya atau belum. Sepertinya sudah dan semoga dia suka. Kalau mau tahu yang lengkap lagi, semua ada di Dilan, Dia Dilanku Tahun 1990, Dilan, Dia Dilanku Tahun 1991, dan Milea, Suara dari Dilan. Bisa juga kamu tanya ke Surayah, siapa tahu dia mau cerita banyak lagi soal Dilan.

[Hanung W L/ Copywiter Mizanstore]

 

Bagikan ke Sekitarmu!