Puasa Ramadhan dan Ilmu “Makan Sejati” ala Cak Nun

 Puasa Ramadhan sebentar lagi akan kita jalani. Bulan Ramadan pun tinggal menghitung hari. Sudah seberapa jauh persiapanmu menyambut bulan suci? Sudahkah memaknai puasa sebagai sebetul-betulnya ibadah, bukan sekadar menahan lapar belaka?

Sebetulnya ada banyak “keresahan” tentang “cara” kita beragama yang disinggung Cak Nun—panggilan akrab Emha Ainun Nadjib—dalam buku Anggukan Ritmis Kaki Pak Kiai ini. Tetapi, karena yang paling dekat adalah momentum puasa, maka hal inilah yang akan dibahas dalam resensi hari ini.

“Apakah arti puasa? Puasa menahan lapar. Puasa menahan haus. Sejak subuh, sampai magrib.”

Kutipan lagu anak-anak yang dipopulerkan oleh Tasya Kamila dan telah diperdengarkan sejak kita masih anak-anak hingga kini anak-anak kita masih turut mendengarkannya. Sebuah lagu sederhana yang mengajarkan makna puasa yang terlalu sulit jika mengikut sertakan frasa “menahan nafsu” pula sebagai bagian penting dari puasa.

Akan tetapi, semakin dewasa dan masuk pada usia balig, tentu kita semua bisa menyadari bahwa puasa tidak hanya sekadar “menahan lapar dan haus sejak subuh hingga magrib” saja. Ada yang lebih penting dari itu dan Cak Nun mencoba “menyentil” hal tersebut dengan sangat baik melalui bab “Puasa: Menuju ‘Makan Sejati'” dalam buku Anggukan Ritmis Kaki Pak Kiai.

sampul buku Anggukan Ritmis Kaki Pak Kiai 

Ilmu “Makan Sejati” dan Puasa Ramadhan

Ibadah puasa ramadhan adalah jalan menuju ilmu “makan sejati”. Puasa membantu kita memberi jarak antara makan dengan nafsu. Puasa pula yang akan membuat kita mengerti bahwa ilmu makan sebetulnya hanya perlu dipenuhi oleh sesuatu yang dapat meredakan lapar. Tidak kurang dan tidak lebih hanya itu saja.

Kamu pasti pernah dengar ungkapan “makanlah ketika lapar dan berhentilah sebelum kenyang”. Ilmu ini datang dari baginda Rasulullah SAW dan diketahui oleh kita semua sebagai umatnya sebagai ilmu makan yang turun-menurun. Menurut apa yang sampaikan Cak Nun, ilmu makan ini punya makna yang sangat dalam dan dapat membantu kita memahami arti puasa.

Ketika berpuasa kita menahan lapar setelah sahur dan sangat menantikan waktu berbuka puasa tiba. Sepanjang puasa itu, kita membayangkan banyak makanan untuk berbuka di magrib, nanti. Nasi goreng, mi goreng, soto, ayam penyet, bakso, sate, semua terasa menggiurkan untuk disantap. Padahal ternyata, ketika sampai di rumah untuk berbuka, teh manis saja terasa sudah lebih dari cukup, bukan?

Pertanyaannya adalah mengapa di hari lain yang tanpa puasa, sarapan apa pun selain nasi membuat kita seakan belum makan apa-apa? Sebetulnya apa yang kita beri makan selama ini: perut atau nafsu?

Jika pertanyaannya seperti itu, sebenarnya jawabannya pun sederhana. Kita hanya perlu memahami ilmu “makan sejati” yang sederhana ini: “makanlah ketika lapar dan berhentilah sebelum kenyang”. Jika kita cermat memahami makan sebagai pemenuh kebutuhan perut, maka makanan apa pun harusnya terasa cukup. Jika es teh manis cukup, mengapa memaksakan harus ada nasi padang sebagai dalih pelengkap?

Disadari atau tidak, selama ini, kita lebih sering menuruti nafsu alih-alih memenuhi kebutuhan. Kita dituntut oleh berbagai hal di luar diri yang mengharuskan kita untuk mencapai “lebih” dan bukan sekadar “cukup”. Ketika makan siang dengan client, misalnya, kita punya budaya “malu” pasti enggan mengajak makan siang di warung tenda pinggir jalan dan lebih memilih makan di restoran.

“Alangkah sedih menyaksikan betapa dunia ini diisi oleh banyak manusia yang tak henti-hentinya makan, padahal ia tak lapar, serta oleh banyak manusia yang tidak habis-habisnya makan padahal ia sudah amat kekenyangan.”

Maka marilah di momentum yang sudah dekat ini, jadikan ibadah puasa sebagai tempat berlatih untuk mencapai ilmu “makan sejati”. Menjadikan bulan ramadan sebagai tempat untuk menguji keberhasilan kita untuk selalu merasa “cukup” dan tidak menuntut “lebih”.

[Hanung W L/Copywriter Mizantore]

Bagikan ke Sekitarmu!