Tak Pernah Gagal Masuk Kompas, Inilah Rahasia Pak Budi Darma dalam Berkarya!

Para penyuka sastra pasti mengenal Budi Darma. Di usianya yang tak lagi muda, beliau membuktikan eksistensinya dan tetap produktif dalam berkarya. Novel dan buku kumpulan cerpennya telah beberapa kali dicetak ulang karena masih sangat diminati. Cerpen-cerpennya masih sering pun menghiasi halaman-halaman koran Kompas mingguan.

Penasaran bagaimana ia bisa tetap konsisten berkarya? Mungkin kamu bisa mencontoh cara sang maestro yang tak pernah berhenti menulis.

Dalam sebuah wawancara eksklusif dengan Budi Darma, beliau menyatakan bahwa setiap orang tentu punya faktor tersendiri, alasan yang membuatnya mau tetap menulis. Berikut ini 5 hal yang membuat Pak Budi Darma tak kehabisan ide untuk terus menulis hingga hari ini.

1. Banyak Membaca Buku

banyak membaca, banyak inspirasi untuk menulis lagi (gambar dari pexels.com)

Inspirasi bisa datang dari mana saja. Satu faktor yang memacu Budi Darma untuk menulis adalah karena beliau membaca banyak buku. Beliau sudah membaca ratusan (atau mungkin juga ribuan) buku yang kemudian memberinya inspirasi untuk menulis. Menariknya, ketika tinggal di Bloomington, Budi Darma dapat memeroleh banyak bahan bacaan dengan cuma-cuma alias gratis. Yap, orang-orang di sana punya kebiasaan membuang koran-koran, majalah, bahkan buku yang sudah selesai dibaca. Maka begitulah, Budi Darma “memungut” buku-buku itu sehingga ruang apartemennya penuh dengan bahan inspirasi untuk membuat tulisan baru. 

2. Sering Jalan-jalan

Ketika dulu tinggal di Bloomington, Amerika Serikat, Budi Darma sering berjalan-jalan di sekitar apartemen untuk melepas penat. Cerpen Orang-orang Bloomington ditulisnya dengan mengamati aktivitas sehari-hari di sana. 

Pada waktu itu, Bloomington diisi oleh orang-orang tua yang punya kebiasaan yang berbeda. Misalnya ketika berbelanja. Pada umumnya, orang berbelanja langsung untuk satu bulan penuh sehingga daftar belanjaannya biasanya sangat panjang. Akan tetapi, orang-orang tua tentu punya pemikiran lain. Mereka lebih memilih datang ke super market untuk mengambil satu susu dan mungkin besoknya baru satu sereal. Mereka sengaja melakukan hal tersebut karena mereka memiliki lebih banyak waktu luang yang harus terus diisi dengan kesibukan. Pergi ke super market adalah salah satu kesibukan. Oleh karena itu, mereka lebih memilih datang berkali-kali ke sana dan itulah cerpen Orang-orang Bloomington bisa lahir.

3. Pernah Punya Pengalaman Menarik

Pengalaman bisa menjadi bahan cerita yang seru. Pengalaman apa pun, termasuk pengalaman spritual misalnya, bisa saja menjadi bahan untuk membuat cerita baru. Misalnya, untuk cerpen “Laki-laki Pemanggul Karung Goni”, Budi Darma mengaku bahwa ia terinspirasi dari cerita Nabi Khidir. Selain itu, dalam cerita lain misalnya, ia menuliskan secara lengkap bahwa salat yang wajib dilaksanakan seorang muslim adalah salat subuh, salat zuhur, salat asar, salat magrib, dan salat isya. Salah satu pembacanya pernah berkomentar “bukankah semua orang sudah tahu kalau salat 5 waktu itu meliputi salat subuh, salat zuhur, salat asar, salat magrib, dan salat isya? Mengapa harus didekripsikan dengan lengkap?”

Ternyata hal ini berkenaan dengan pengalaman yang dimiliki Budi Darma, berbeda dengan si pembaca. Pembaca yang notabenya orang Indonesia yang tinggal di lingkungan mayoritas muslim tentu paham mengenai hal itu. Akan tetapi, cerpen yang dimaksudkan si pembaca ditulis Budi Darma ketika beliau masih berada di Bloomington. Saat itu, tetangga apartemennya terdiri atas orang dari beragam warga negara dan agama. Tidak semua memahami tentang salat sehingga bagi Budi Darma, penting untuk menjabarkan hal tersebut agar bukunya dapat diterima dan dibaca secara lebih luas.

Baca juga:

4. Cerita dari Teman

Seiring dengan berjalannya waktu, pengalaman hidup akan semakin hari semakin banyak. Cerita dari teman-teman pun bisa menjadi bahan untuk menuliskan cerita. Budi Darma mengakui bahwa banyak cerita-ceritanya yang terinspirasi dari orang-orang sekitar atau pun dari teman-temannya. Tentu saja tidak semua ditulis sama persis dengan cerita aslinya. Cerita-cerita dari teman biasanya bisa menjadi bahan awal untuk selanjutnya diolah menjadi cerita baru.

5. Punya Gagasan yang Bisa dikembangkan

Seringkali ide bisa muncul secara tiba-tiba. Sebaiknya ketika “ilham” itu datang, segera tuliskan! Jangan sampai gagasan itu terlupakan dan kelak tak akan pernah menjadi apa-apa. Setidaknya tuliskan poin penting yang muncul di kepalamu itu dengan segera. Bagus jika kamu dapat menggunakan cara Budi Darma yang langsung menyelesaikannya dengan “sekali duduk”. Bagi Budi Darma, gagasan semenarik apa pun akan terus menjadi gagasan semata jika tak segera dikembangkan.

Setelah membaca ini, harusnya sudah tak ada alasan untuk “nggak punya ide mau menulis apa”. Pak Budi Darma membuktikan bahwa ada beragam alasan yang dapat kamu jadikan bahan untuk mulai membuat tulisan. Apa pun, apa pun dapat menjadi bahan menarik jika kamu menganggapnya begitu.

Ini tips dari orang yang tak pernah gagal mengirim tulisannya ke Kompas, lho. Yakin kamu tak mau meniru jejak gemilangnya itu?

(artikel ini ditulis berdasarkan hasil wawancara langsung tim Mizanstore dan tim Noura Publishing dengan Budi Darma)

#tipsmenulisBudiDarma

[Hanung W L/Copywriter Mizanstore]

Bagikan ke Sekitarmu!

2 thoughts on “Tak Pernah Gagal Masuk Kompas, Inilah Rahasia Pak Budi Darma dalam Berkarya!”

Comments are closed.