Apa jadinya jika sebuah warna bisa berbicara? Atau jika sesosok mayat bisa menceritakan detik-detik kematiannya? Dalam novel My Name Is Red (Benim Adım Kırmızı), penulis peraih Nobel Sastra asal Turki, Orhan Pamuk, membawa kita melintasi waktu menuju Istanbul tahun 1591—sebuah
Menelusuri Jejak Pembunuhan Berantai dalam My Name Is Red Karya Orhan Pamuk

