[Resensi] Sirkus Pohon: Karya Ke-10 Andrea Hirata yang Istimewa

“Saya sangat senang ketika menulis buku ini. Rasanya setiap kali akan berakhir, saya ingin terus menambah lagi dan menambah lagi tulisannya. Saya sedih ketika harus mengakhirinya; tetapi harus, agar teman-teman yang lain bisa membacanya—dan bisa ikut merasakan keceriaannya.” 

Kurang lebih, begitulah pernyataan Andrea Hirata ketika karya ke-10-nya yang berjudul Sirkus Pohon ini rilis pada bulan Agustus lalu. Ternyata betul dan terbukti, kesenangan itu telah tersampaikan dengan cara yang begitu seru! Buku ke-10 ini memang betul-betul istimewa. Kamu tak akan berhenti tersenyum di setiap lembarnya ketika membaca.

Bagi kamu yang masih pemula dan hendak memulai untuk membaca novel “tebal”, kamu dapat memulainya dengan buku Sirkus Pohon. Alasannya sederhana: isinya yang begitu ringan, jumlah kata dalam kalimatnya pendek-pendek, dan jumlah halaman dalam tiap babnya hanya sekitar 3-4 halaman saja. Ya, betul, kamu tidak salah melihat. Ketika membaca kamu juga tak akan mengira bahwa ternyata kamu telah menyelesaikan novel setebal 383 halaman!

Seperti halnya sirkus yang selalu membawa keceriaan, novel Sirkus Pohon juga begitu menyenangkan. Bukankah dalam hidup kita ini mencari kebahagiaan?—tentu saja di samping mencari uang!  Hal ini, berdasarkan penggambaran yang dibuat oleh Andrea Hirata, sangat mungkin kita peroleh dalam sirkus! Semua komplet dan sangat lengkap. Jangan-jangan ketika selesai membacanya nanti, semua orang hendak mendaftarkan diri untuk menjadi anggota sirkus agar mendapatkan keriangan itu.

Membaca buku ini kita akan mengerti banyak hal yang mungkin tak pernah kita ketahui sebagai orang yang tak pernah melihat dari balik layar. Tentang perjuangan, usaha keras, latihan yang disiplin, juga tentang mimpi dan keinginan yang tentu bisa dicapai siapa pun yang berusaha—tak luput dimasukkan sebagai ciri khas pesan tersirat dari tiap karya yang dibuat Andrea. Hanya saja, semua ini disampaikan dengan cara dan gaya yang berbeda dengan novel-novel sebelumnya.

Kamu mungkin sudah lebih dahulu membaca Laskar Pelangi. Novel tersebutlah yang telah membesarkan nama Andrea Hirata hingga begitu dikenal di seluruh Indonesia, bahkan dunia! Buku ini bahkan masuk ke dalam daftar buku yang paling banyak dibaca pelajar di dunia sebagai bacaan wajib oleh sebab kepentingannya. Buku ini menyimpan pesan tentang impian yang tak boleh disia-siakan. Sangat mantap dan tepat untuk dibaca para pelajar agar dapat terus berpegang teguh bahwa cita-cita tentu bisa diraih dengan usaha keras.

Buku Laskar Pelangi yang sukses itu dilajutkan menjadi tetralogi dengan judul Sang Pemimpi, Edensor, dan Maryamah Karpov. Semuanya masih berisi lanjutan kisah perjalanan si Ikal dengan impiannya. Isi cerita disampaikan dengan deskripsi khas Andrea yang membuat pembaca terpana dan mengenal sebuah tempat yang mungkin belum pernah kita ketahui, selain dari Andrea: Belitong. Sebuah tempat yang begitu dekat, tetapi juga begitu jauh, tak terjangkau padahal masih di Indonesia—tempat Ikal berasal.

Kini, masih berasal dari tempat yang sama, Andrea bercerita kembali tentang orang-orang Melayu dan mimpi besarnya. Bedanya, kali ini semua disampaikan dengan cara yang benar-benar menyenangkan (dan oh, sudah berapa kali kata menyenangkan ini diulang? Betul-betul tidak ada kata lain yang bisa menggambarkan isi buku ini selain kata itu!). Seakan-akan kerinduan atas karya Andrea yang terakhir terbit di tahun 2015 terbayar sudah di akhir tahun 2017. Semua penantian selama 2 tahun—karena kabarnya Andrea perlu waktu selama itu untuk riset kemudian menuangkannya dalam bentuk buku ini—tak terasa sia-sia sama sekali karena hasilnya terlihat jelas dengan melihat buku ini.

Terima kasih, Andrea Hirata. Terima kasih telah menulis buku Sirkus Pohon.  Terima kasih sudah berbagi kebahagiaan, keceriaan, serta segala kejutan yang tak terduga dalam buku ini.  Mengutip satu tulisan resensi yang pernah dibuat atas buku ini, “menulis resensi tidak akan pernah adil jika hanya berisi pujian dan tanpa kritik akan kekurangannya.” Maka, inilah satu kutipan yang sepertinya sudah sangat tepat menggambarkan kekurangan buku ini yang ditulis oleh Brili Agung dalam akun blog pribadinya:

“Satu-satunya kekurangan buku ini adalah Andrea harus menulis lebih banyak buku semacam ini setiap tahunnya!”

[Hanung W L/Copywriter Mizanstore]

Bagikan ke Sekitarmu!